Tag: kerinduan

Ujung Tiang Mimpiku


Puisi ini ditulis oleh pada
3 October 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (7 votes, average: 4.29 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sepi kurasa melebur hati
Rindu kurasa membalut imaji
Tertawa melihatku sendiri
Keheningan iringi langkah diri

Ku menangis dalam tawaku
Ku tertawa dalam tangisku
Terisak-isak mencari hatimu
Terbahak-bahak temukan kasihmu

Kerinduan yang tak pernah berujung
Membimbingku ke ujung tiang mimpiku
Menghujamku dan tinggalkan luka pilu
Dengan parangnya penggal bahagiaku

Luka hati yang tak terobati
Terasa perih dan mengoyak diri
Jerit hati bak lautan tangis
Mengejekku dengan pandangan miris

Ku bermimpi dalam sadarku
Ku tersadar dalam mimpiku
Dalam mimpi ku mengejar kasihmu
Ketika kusadar dapatkan bencimu

Kerinduan yang tak pernah berujung
Menyeretku ke ujung tiang mimpiku
Membelenggu dan tinggalkan luka baru
Dengan parangnya renggut harapanku

By: Maggothz MoronChay

Puisi Siang


Puisi ini ditulis oleh pada
30 April 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (7 votes, average: 4.57 out of 5)
Loading ... Loading ...

Bersama terik mentari ku terduduk sepi
Coba merabah setiap makna yang ingin kurubah dalam aksara
Semua sia-sia
Karena aku terjebak dalam kalutnya rasa
Karena aku terpenjara dalam panasnya jiwa

Aku terbakar dalam dinginnya api kerinduan
Aku terpenjara dalam bebasnya rasa

karena aku tak pernah bisa coba pahami semuanya

From: MaHaYaNa_CinTa [may_yudhy@xxx]

Rintihan Kerinduan


Puisi ini ditulis oleh pada
9 April 2011 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 3.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

Disini tempat kuperpijak dan menari-nari
adalah tempat terindah bagi mereka semua
tapi tidak bagiku
tidak bagiku yang telah kehilangan separuh dari jiwaku

semua seperti gula yang tak terasa manisnya
dan air yang tak menghilangkan rasa haus
hidupku seakan tiada makna
hanyalah sebuah presepsi orang
jika aku bahagia dengan berbagai gemerlap harta
namun sepi dalam batin dan jiwa

Tiada yang mampu untuk mengisi dan menghiasinya
Dia yang tercinta telah jauh pergi
Membawa seribu janji dari bibirnya yang indah

Dia telah bersatu dengan penciptanya
yang meninggalkan aku yang sangat mengharap peluk hangatnya
meninggalkan semua keindahan yang akan aku berikan

aku mencoba tertawa dalam tawaku
mencoba menahan air mata kesedihan yang memilukan
tidakkah aku sadar sayang…
setiap hari aku hanya mampu berbicara dengan sebongkah batu nisan
yang disana terukir indah namamu yang selalu aku indahkan

Kepada Gadis Manis Penggesek Violin X


Puisi ini ditulis oleh pada
21 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kisah ..

 

Manusia mencintai hidup dan membutuhkan sejarah,

ingin berbagi dan merindukan setiap gerak hati

untuk dicintai dan diperlakukan tulus.

 

Hidup bukan hanya pemberontakan,

seperti juga nada-nada violinmu

bukan hanya nada tinggi saja,

apa yang kudengar dan apa yang engkau lantunkan

tidak akan berarti sama.

semua beralur.

 

Aku mengenal hidupmu, melihat gerak

dan pandang hatimu

bukan hanya akan memuja dengan lantunan sajak-sajakku.

 

Wahai betinaku …

jauh pandang engkau kuletakkan dalam selubung kerinduan

agar sosokmu terjaga dari gerak keliaranku

yang kadang ingin menindasmu.

jauh hati, engkau kupanggil sebagai inspirasi

bagai dewi keindahan yang dipuja untuk turun ke bumi

sebagai manggala dari kidung-kidung

yang menceritakan tentang gerak peradaban.

 

Wahai Gadis manis penggesek violin..

ada yang ingin aku katakan

ketika kita saling bertatap pandang;

pada akhirnya cinta itu ingin menyatakan

kemanusiaan, rasa kesetiaan dan dia

tidak hanya ingin mengerti,

tetapi dia juga ingin mengalami

segala apa yang menjadi dukamu, kerianganmu

dan segala keresahanmu.

 

Saat ini kita tautkan hidup

antara hati dan gerak pikiran.

aku mengalami dirimu dalam diriku

dan engkau pun mengalami diriku dalam dirimu.

Ketika itu nada-nada juga akan bersambut

dengan sajak-sajak

dalam untaian semangat untuk

membangun hidup yang penuh kecintaan.

 

(Magelang/Februari/2011/Katjha)

Merindukan Gerak


Puisi ini ditulis oleh pada
14 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 3.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

Wahai betinaku..

di bawah langit biru

bergaun merah soga,

engkau

terdiri tegak dengan rambut terurai

ada sepasang kembang sepatu

berwarna coklat muda terselip di kedua daun telingamu

seolah tercerahkan senyummu yang terlampau manis.

 

Ketika pandang dari sosokmu,

menerpa wajahku,

aku bayangkan diriku adalah bukit karang menjulang

dari deretan gugus-gugus karang

di pantai yang terjal dan berombak ganas.

 

Wahai betina dengan senyum bunga matahari,

terpa aku dengan rona-rona cerah,

setelah itu datangkan prahara yang besar

menghantam keras bukit karang yang angkuh ini,

kemudian datangkan ombak yang besar dan paling ganas,

agar kebisuan yang terbangun musim demi musim

dapat lebur terbawa air laut, menjadi butir-butir

pasir yang akan engkau jumpai

beberapa abad kemudian di pantai

engkau menjelma menjadi perempuan suci.

 

Pandangku adalah kata

untuk hatimu yang selalu terjaga;

usik aku dengan kerinduan hingga bergeming

dan merelakan diri melebur dan mengambil

bentuk hidup

yang paling engkau cintai..

aku ada untuk hidupmu yang merindukan

ketegaran.

 

(Gunung Kidul/Februari/2011/Katjha)

Antara Aku, Dia dan Lagu “Remang-remang”


Puisi ini ditulis oleh pada
2 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 3.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

*)Jalanan, sebuah tepian pantai utara jawa

 

Senja beralih malam,

namun waktu yang beranjak lambat

menunda keremangan bersaput pekat

bersama lampu-lampu merkuri pinggiran jalan

pantai gelap,

kelap-kelip lampu kapal dan rumah-rumah

tepian pantai.

bersanding;

gelap hitam  remang-remang.

 

*) Trotoar pinggiran pantai

 

Aku dan Dia

tenggelam dalam remang senja beranjak malam

tenggelam dalam riuh bunyi

kendaraan lalu lalang melintas jalanan tepi pantai

 

Aku dan Dia ke sini bukan untuk saling diam

bukan untuk hanyut dalam panorama

pantai pelabuhan nelayan-nelayan kecil

bukan untuk mendengarkan riuh kendaraan lalu lalang

bukan juga untuk memperlihatkan diri sebagai sepasang

burung belibis yang bermesraan di tepi pantai.

 

Aku dan Dia

berjumpa hati dan bertatap kerinduan

dan mengawali setiap senyum diantara

Aku dan Dia dengan hati yang tulus untuk

saling mencintai.

 

*) sepi kebisuan dan hanyut suasana, pecah

 

Dia berkata; “mari kita nyanyikan lagu”

sejenak aku menatap senyum di bibirnya

dan tatap mata beningnya.

“lagu apa ?”

Dia menatap tersenyum; “lagu Remang-remang,

masih ingat kan ? ”

Aku masih ingat, lagu itu kesukaan almarhum Gus Dur.

 

“Ayo kita nyanyikan bersama”

sambil dia melangkah ke arah tepian trotoar

yang menghadap kelaut.

“ayo kita nyanyikan lagu Remang-remang”

Dia duduk menghadap ke jalanan ..

 

Kuhampiri Dia, duduk bersama menghadap jalanan

sejenak bertatap dengan senyum ditahan

kemudian pecah tawa-tawa kecil.

 

Aku dan Dia menyanyikan lagu Remang-remang

mengalun lembut, kadang tenggelam dalam

deru jalanan.

 

pecah rindu dalam keriangan

remang lampu dan angin sepoi jalanan pantura.

 

Akhir lagu bukan lirik yang habis

akhir lagu adalah Aku dan Dia yang tersenyum,

saling tatap .. dengan hati yang saling tertaut

cinta dan kasih sayang.

 

Di seberang jalan,

sebuah kelenteng yang menghadap ke laut

di depan menyala sepasang lampu lampion merah

bergoyang di tiup angin pantai.

seolah menyapa kebersamaanAku dan Dia

ingin menyimpan kisah Aku dan Dia

dalam setiap kelip dan nyala merah

sebagai simbol kebahagiaan.

 

(Tuban, Oktober 2010/Katjha)

Deklarasi Cinta


Puisi ini ditulis oleh pada
2 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 4.25 out of 5)
Loading ... Loading ...

Hanya kata berbahan jiwa  hati yang tulus

aku katakan kerinduan.

 

Ingin aku bernyanyi, tetapi

desahan sunyi yang kualami

lebih dari nyanyian apa pun

seperti ketika senyum dapat mengatakan cinta.

 

Wahai kelopak-kelopak mawar merah bertitik embun pagi,

aku lihat mentari itu muncul membayang

dan menampakan sinar dari belakang sosokmu.

 

Ada sedikit keresahan tentang pagi yang terlalu cepat

menjadi hingar, ada terbayang kelelahan

akan siang yang terlalu sebentar menyajikan terik matahari.

Senja pun membayang bagai keremangan yang terlalu lama

beranjak malam.

 

Demi apa yang ada dan terus menyala

antara mata, mulut dan telinga

aku ucapkan kata yang jauh kau kenal sebelum aku terlahir

dalam setiap harimu.

Tangan dan kakiku adalah kereta yang menunggu engkau

setiap pagi di taman air mancur tengah kota.

 

Wahai, bidadari pagi..tersenyumlah

tentang sorot mataku, kemudian teduhkan dalam

dunia yang damai, namun masih menyisakan resah

untuk tiap kali seseorang harus berontak, tergerak

dan selalu menunjukan diri.

 

Wahai mahkota kerinduanku,

tantanglah aku, taklukan pejalan yang jalang ini.

kurunglah dalam tirai lonceng berdentang nada-nada bambu.

Tikam kegilaan ini rebah ke atas rumput musim kering

biar warna merahnya menceritakan hidup

yang dicintainya..

tentang engkau, gadis manis penggesek violin

yang mengusik setiap malamnya..

Aku berkata “taklukan aku, wahai perempuan ..”

 

(Jogjakarta/Desember/2007/Katjha)

Nikah Ilalang


Puisi ini ditulis oleh pada
2 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 3.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

Bertaut dalam semak padang rawan

rona tipis fatamorgana, sederet rumput-rumput

kuning setengah kering,

begitupun tanah gersang tak berair

kering pecah-pecah, berdebu

dan tiap saat diterbangkan

angin resah dari bukit matahari tenggelam.

 

Tiada rindu,jika tiap saat bersinggung

mahligai kebersatuan,

tiada gelora karena kebersamaan

sudah terpajang dengan santun.

 

Mereka adalah penghuni padang tanah lapang

gersang, padang embun pagi dan

lautan  jingga remang senja.

 

Ini bukan kota, desa atau apa pun

tempat orang-orang singgah dan merindukan

perjumpaan kembali.

Ini adalah padang  sepi dan tandus,

buas dan melata.

 

Tempat ini menentang sepi,

mempertunjukkan keterasingan.

karena tempat ini hanya menawarkan satu kerinduan.

Rindu pada hujan dan rintik-rintik praharanya,untuk

menerjang rebah batang-batang kering setengah mati

ke tanah tandus, kemudian membusukannya

setelah itu lahirlah generasi selanjutnya

yang bernasib tak jauh beda.

 

Jika pun mereka menjadi mulia

dan selalu disebut hanyalah

dalam tata bahasa dan untaian syair, sajak

dan kata-kata kiasan,

setelah itu mereka tersebut tak bermakna.

Memang benar, orang harus lupa,

mereka harus dilupakan,

jika harus mengenang,

mereka adalah nikah ilalang.

 

(Kalianda/Juni/2010/Katjha)

Do’amu


Puisi ini ditulis oleh pada
9 February 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (14 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Aku terlelap dalam gelap mendekap.
Suaramu bergaung suram dalam kelam.
Do’amu-kah, wahai kawan lama?
Entah kenapa, kembali aku ingin mendengarnya.
Rindu menyiksa, kejam setajam sembilu.
Setengah mati ingin kusingkirkan haru,
terlalu muak dengan air mataku.
Harus kubunuh harap akan segala yang semu.
Terlalu lama kutunggu
pedih yang sulit terobati tak jua berlalu.
Sebisa mungkin, kau tak perlu tahu.
Aku juga enggan menyiksamu
dengan rasa bersalah yang tak perlu.

Masih berdo’a, wahai kawan lama?
Terima kasih, karena aku masih membutuhkannya.
Hanya demi kau, rela kupalsukan tawa
atas nama cinta yang tak boleh cemar,
atas persahabatan yang jangan sampai bubar.

Semoga do’amu terkabul sepenuhnya,
mengingat aku masih butuh percaya
cinta akan seadil Sang Pencipta
bukan lelucon kejam belaka
pengundang iblis ‘tuk tertawa
menghina semua luka…

(Jakarta, 11/12/2010)

“kucing3warna” [kucing3warna@...]