Tag: kenangan

Pohon pohon membisu


Puisi ini ditulis oleh pada
20 August 2011 dengan 4 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (48 votes, average: 3.96 out of 5)
Loading ... Loading ...

Pohon pohon membisu
Pena kertas pun membisu
Kasih, ku selalu merindumu
rasa kesepian samar membayang seribu

Deru angin semakin
Laraku bak gerimis itu
membasahi memenuhi tiap dahan dan daun daun

Sebait Puisi


Puisi ini ditulis oleh pada
28 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 4.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

“kini aku temukan apa yang aku cari
“cinta yang telah lama pergi
“kuharap engkau cinta sejati ku
“kini engkau perlhan pergi menjauh
“akan kusimpan kenangan indah kita
“hanya karena sebait puisiyang aku beri
“aku akan sabar menunggu engkau kembali
{mariyanti margareta situmorang}

From: riyanto [jakartabogor33@xxx]

Derai Cemara Udang


Puisi ini ditulis oleh pada
14 March 2011
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 4.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

Angin pantai disela gerimis

mendera pelan, sejenak berteduh di bawah

pohon-pohon cemara udang.

kemudian lenyap ke arah

gubuk-gubuk bambu yang reot

tanpa atap di tepian jalanan pantai.

 

Senja ini..

tiada yang romantis atau membiuskan angan

ke dalam khayal yang beku

dan ratusan hari terkubur diam.

 

Pantai ini telah sepi..

hanya derai cemara udang..

hanya rintik gerimis yang tidak kunjung reda,

tidak juga menjadi hujan deras.

 

Ada yang berubah;

pantai ini merubah dirinya menjadi teduh, hijau

dan di beberapa sudut tumbuh padang rumput.

Ada cemara udang, perahu nelayan

yang sepuluh tahun yang lalu belum kulihat.

Ini adalah pantai kenangan.

 

(Pantai Selatan Jogja/Februari/2011/Katjha)

Perempuanku


Puisi ini ditulis oleh pada
11 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (9 votes, average: 3.56 out of 5)
Loading ... Loading ...

Bukan musim tanam padi,

engkau datang dan memalingkan muka

terdiri di pematang sawah kering,

seulas senyummu, bagai ketegaran burung bangau

menanti hujan.

 

Adakah yang salah ketika engkau datang,

tanah tempat kita bermain dulu berubah gersang.

hilang rumputan hijau, tanpa capung-capung merah.

hanya pematang kering dan langit yang masih sama biru.

 

Perempuanku..

selamat datang di tanah yang hilang petaninya

hilang kerbau, hilang gubuk di tengah sawah.

namun ada sedikit kelegaan ;

engkau masih ingat untuk datang

dengan senyum yang sama,

dengan rona wajah yang tidak berubah.

 

Ini adalah tanah tempat kita bermain waktu kecil,

ketika kita sama-sama berlarian,

mencari siput di parit pematang sawah,

menangkap ikan-ikan kecil dan

kadang saling berlemparan lumpur-lumpur

sambil bercanda dan saling mengejek dengan jenaka.

ada satu hal yang paling kuingat,

saat itu adalah sore menjelang senja,

kita menangkap dua ekor capung merah,

engkau lepaskan pita biru yang mengikat rambutmu,

kemudian engkau putus menjadi dua,

bersama kami ikatkan di ekor capung merah dan

melepaskannya terbang kembali ke langit sore yang bergurat jingga.

kala itu engkau mengatakannya kepadaku;

“biar dua capung itu sampai kapan pun tetap bersahabat seperti kita

karena telah kuberikan pita biruku untuknya”

 

Sejenak kami bertatap pandang,

sesaat buyar lamunan masa kanak-kanak

pecah senyum kami menjadi tawa riang

yang entah akan kami terjemahkan seperti apa.

Ada sejumput masa lalu yang telah kembali,

walau hanya kenangan dan ingatan yang sesaat.

(Jogjakarta/Januari/2011/Katjha)

Senyuman yang Mengingatkanku


Puisi ini ditulis oleh pada
7 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 4.60 out of 5)
Loading ... Loading ...

waktu tidak akan pernah menghilang
jika kau memiliki senyuman
yang membuatku mengingat akan dirimu

senyumman mu mengingatkan ku ketika di waktu senja
hanya satu ungkapan yang ku punya
dan ku kan ingatkan kau pada cinta ku

waktu…
hari….
musim yang ku tempuh bagaikan embun
yang terucap hanyalah hati yang bimbang

ku tak mungkin pernah menyalahkan cinta mu
ku tak mungkin pernah menyalahkan diri mu
karna kau datang di saat ku membutuhkan mu
dan kau pergi di saat ku mengharapkan mu

mungkin semua ini kan berlalu
ku hanya bisa melepasmu
dan mengingat kenangan manis disaat bersamamu

ketika ku terbayang wajahmu
ketika ku mengingat senyumanmu
selalu ku ingat akan hadirmu disaat yang kita lalui

jika suatu hari
ku rindu padamu ku mohon kau kan hadir di pelukan ku
ku berharap kau dapat hadir di sisi ku untuk selamanya

di senyumanmu ..
ketika ku meyaksikan cinta mu tidak berujung
hingga hembusan nafas terakhir ku
selalu ingat kata-kata sayang yang kau ucapkan

maaf kan ku
jika ku pernah menyakiti mu
ku kan menghilang dari hadirmu untuk selamanya
Walaupun itu semua
Menyakiti ku

From: andy [deathboyz98@xxxxx.com]

Hidup yang Tiada Arti


Puisi ini ditulis oleh pada
7 March 2011 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (7 votes, average: 3.86 out of 5)
Loading ... Loading ...

ku tau…
kau telah pergi jauh meninggalkanku
tak selamanya semua kenganmu akan ku ukir
ku hanya mampu melepaskan mu
bagaikan air yang mengalir

ku ingin berpikir untuk tiada henti
akankah dirimu mampu menerimaku kembali
mampukah kau membuka pintu hati kecilmu untuk ku lagi

ku ingin terus hidup untuk tiada henti
apakah mungkin lukisan itu mampu menjelmakan dirimu untukku
kau hanya hayalan bagiku
kau hanya kenangan untuk ku
di setiap malam gelisahku tak menentu
ku hanya mampu meneteskan air mataku
ketika ku mengingat kenangan manismu bersamaku

sebuah kata-kata yang akan ku ucapkan
ketika kau menjauh pergi meninggalkanku
kau tak pernah sadari
betapa kau yang ku sayang

Tanpa mu hidupku kan berakhir
tanpa mu hidupku tiadalah artinya lagi

seuntas kata-kata manis itu menghilang
kau menyakiti aku
pernah aku menyakitimu
pernah aku berpaling darimu
pernahkah aku mengkhianatimu ??
pernahkah kau mengerti akan hadirku untuk mu ????

Kini ku hanya mampu menerima semua itu
kini ku hanya mampu menahan semua luka itu

mungkin aku yang salah
mungkin aku terlalu bodoh menahan luka
karenaku telah mencintaimu sepenuhnya hati ini

Oh Tuhan …
buka kan lah pintu hatinya untuk ku kembali
ku tak ingin semua ini terjadi
menimpah diriku

Setiap mendengar ketukan sepatu
mataku selalu melihat keluar jendela
dan setiap kali yang ku temukan
hanyalah batu , rumput ,angin yang berlalu ….

Mungkin ku hanya mampu menerima semua itu,
rasa sakit yang telah ku rasakan membeku ,
rasa sakit itu akan hilang jika kau kembali di pelukanku

From: Andy [Deathboyz98@xxxxxxx.com]

Jejak Kaki yang Hilang


Puisi ini ditulis oleh pada
9 February 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 4.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

Rabu pukul sepuluh malam
lebih sepuluh menit

Bangku besi peron satu
stasiun kereta

Duduk uncang dua kaki
sendiri

Sebelah kananku
sepasang sejoli
Tertawa kecil riang
dalam canda

Terngiang aku akan tawamu
dalam ingatan yg lalu

Malam ini sama kulalui
Tanpa dirimu lagi

Biasanya janji kita disini
Pulang malam jemput mimpi
Hingga lelah mata terkunci
Dalam pelukan malam yg sepi

Tunggu kereta
Dalam tujuan yang sama
bercengkerama
Lepas bosan yang ada

Jejak kakimu masih terasa
Dalam peron satu gondangdia
Bangku besi yang sama
Hanya jejak kaki tersisa

Membumbung tinggi sang angan
Terbawa angin malam kencang
Mencari jejak kaki hilang
Dari sisa-sisa sepihan kenangan

Selamat malam,
utkmu yang tersayang

Stasiun Kereta Peron Satu.
Menunggu Kereta terakhir

– albiruu –

Kepada Gadis Manis Di Pasar Burung


Puisi ini ditulis oleh pada
16 November 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 4.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

Ah, senyumu itu membuatku terhenti

sejenak kutatap engkau

sekilas sudut matamu mengintip

aku yang terdiri di tepi jalanan ini.

Dari sebuah kios pedagang burung

kulihat engkau duduk dan mengawasi  jalanan.

Aku lihat engkau berambut sebahu dan berbaju merah.

Kudekati kios pedagang itu

aku bertanya “ini namanya burung apa?”

Dia tersenyum sambil menatapku

“ini namanya burung Rengganis”

Ah, manis sekali nama burung itu

seperti senyum gadis yang menjualnya.

Aku masih ingat jalanan di tengah hutan itu,

senyum manis yang sederhana

masih membayang dalam benakku

setiap kali kudengar burung rengganis

yang kubawa dari kios pedagang burung di tengah hutan itu

berkicau dan melompat-lompat lincah dalam sangkarnya.

Ah, senyum manis yang sederhana, lugu

tapi jujur … kapan aku dapat melihatnya lagi?

Sudahlah esok biar menentukan jalannya sendiri,

sekaranga kupelihara burung Rengganis ini

sebaik dan sesayang mungkin

sebagai kenangan momen itu.

(Katjha/Oktober 2010/Ngawi)

dari

Asa Untukmu…


Puisi ini ditulis oleh pada
25 October 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (26 votes, average: 4.08 out of 5)
Loading ... Loading ...

hujan…….
kau membawa butiran air berirama
mengingatkan aku padamu cinta….

yang saat ini telah mengisi ruang hati dan jiwaku

tak pernah bisa kutepiskan walau sedetik bayanganmu yang selalu hadir dibenak fikiranku

kau memberi warna terindah dalam hidupku

kau memberi kesejukan kala gundah menjenguk kalbuku

kau yang bisa membangkitkan kembali semangat juangku
tika kukelemasan
sungguh engkau sangat berarti dalam hidupku

kau yang mengukir kenangan_kenangan manis dan pahatan terindah didinding_dinding sanubariku

mungkin kita tak akan pernah tahu akan takdir yang telah ditetapkan untuk kita

namun kuakan selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu

tak pernah ada rasa bosan dihatiku untuk terus menunggu waktu memberi restu
akan perwujudan rasaku dan rasamu

disini senantiasa kusulam do’a dalam jaga dan lelapku semoga penantian ini kan segera sampai kemuara,
menjadi jembatan untuk kita mengecapi bahagia yang sesungguhnya…

_Just før mydearest_by ayung_

Dirantai Digelangi Rindu…


Puisi ini ditulis oleh pada
23 October 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (11 votes, average: 4.09 out of 5)
Loading ... Loading ...

sisa hujan sore ini terasa membelenggu…
“dingin”

sepi tiada suara angin apalagi sapa manjamu diujung ponselku…

penantian asa panjang untuk mengakhiri mimpi

bersua rupa, menatap dan memelukmu dalam dekap rindu…

semua hanya angan-angan kosong

ingatanku pun kian tajam
apabila kudatapi dirimu merajuk mengurai kata mesra

menjanjikan duduk bersanding disinggasana bahagia

menatap masa depan berdua

bergandeng tangan kemanapun nasib dan takdir kan membawa

‘ku tak tahu ada apa…
saat mendung menudung

ucapanmu menggeledak, mengalahkan gemuruh riuh petir

seakan semua itu pernah terjadi

kuhela nafas berat
ternyata diujung jalan, bersama senja yang kesekian
senda gurauanmu menepi…

kembali anganku menikung
menyisir kenangan silam

kapan dan akankah kita dapat bertemu…
jika lorong waktu yang kau cipta kini buntu…?!

disini aku menjemput maafmu tak cukup waktu
lihatlah kuulur tangan tanda kumasih sayang

“Antara tirai bambu dan ranah pertiwi,
hatiku dirantai digelangi rindu”