Tag: kehilangan

Ketulusan Cinta


Puisi ini ditulis oleh pada
9 April 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 4.17 out of 5)
Loading ... Loading ...

Jika ketakutan itu ada
dialah makhluk yang membuatku lemah
Jika keberanian itu ada
dialah makhluk yang membuatku kuat
Jika Cinta itu ada
dialah makhluk yang membuatku terlena

Batinku telah lemah oleh ketakutan kehilangan Dirimu
Jiwaku telah kuat oleh semua keberanian untuk menunjukkan pengabdianku
Aku terlena akan semua Cinta yang engkau berikan dalam cawan
yang berisi anggur kehidupan

Tiadalah penting bagiku untuk berfikir tentang aku sendiri
Tiadalah cukup namaku untuk bersanding disampingMu
Tiadalah sandaran hati yang lebih tulus dari CintaMu

Rela aku menjalani semua yang fana ini dengan semua keikhlasan
Jikalau aku telah menjadi abu
Namun ruhku dapat tenang bersanding denganMu

Biarlah aku menjadi yang lemah
Namun kuat dan tegar dalam mabuk cinta kepadaMu
Biarlah aku menjadi bisu
Namun Batinku meneriakkan bahwa diriMulah sumber kehidupanku
Biarlah aku buta
Namun jiwaku tetap melihat indahnya kekekalanmu
Biarlah aku mati
Namun hatiku selalu hidup untuk bersanding kepadamu

Rintihan Kerinduan


Puisi ini ditulis oleh pada
9 April 2011 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 3.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

Disini tempat kuperpijak dan menari-nari
adalah tempat terindah bagi mereka semua
tapi tidak bagiku
tidak bagiku yang telah kehilangan separuh dari jiwaku

semua seperti gula yang tak terasa manisnya
dan air yang tak menghilangkan rasa haus
hidupku seakan tiada makna
hanyalah sebuah presepsi orang
jika aku bahagia dengan berbagai gemerlap harta
namun sepi dalam batin dan jiwa

Tiada yang mampu untuk mengisi dan menghiasinya
Dia yang tercinta telah jauh pergi
Membawa seribu janji dari bibirnya yang indah

Dia telah bersatu dengan penciptanya
yang meninggalkan aku yang sangat mengharap peluk hangatnya
meninggalkan semua keindahan yang akan aku berikan

aku mencoba tertawa dalam tawaku
mencoba menahan air mata kesedihan yang memilukan
tidakkah aku sadar sayang…
setiap hari aku hanya mampu berbicara dengan sebongkah batu nisan
yang disana terukir indah namamu yang selalu aku indahkan

Lelah


Puisi ini ditulis oleh pada
5 April 2011 dengan 4 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (12 votes, average: 4.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

ada saatnya aku merasa lemah
seperti si tua tanpa tongkat
ada saatnya ku kehilangan harapan
meski hati terus menyemangati
ada kalanya aku ingin menyerah
walau hati tak pernah memberi
ada kalanya aku pasrah
merasa diri terlalu lelah
walau wajah ku hiasi senyum secerah mentari
sungguh adakalanya aku teramat rapuh

herna [herna.lusi@xxx]

menunggumu


Puisi ini ditulis oleh pada
19 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

hujan meniupkah buliran-buliran airnya
angin menghembuskan udaranya
aku duduk disini
menunggumu
matahari bersembunyi di balik awan
bulan pun enggan hadir
aku masih di sini
menunggumu
burung-burung berceloteh riang
jangkrik bernyanyi gembira
aku tetap di sini
menunggumu
dedaunan kehilangan warnanya
hembusan angin mencampakkannya dari tangkainya
aku selalu disini
menunggumu

From: sansiaBW [sansiabintang@xxxx]

Do’amu


Puisi ini ditulis oleh pada
9 February 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (14 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Aku terlelap dalam gelap mendekap.
Suaramu bergaung suram dalam kelam.
Do’amu-kah, wahai kawan lama?
Entah kenapa, kembali aku ingin mendengarnya.
Rindu menyiksa, kejam setajam sembilu.
Setengah mati ingin kusingkirkan haru,
terlalu muak dengan air mataku.
Harus kubunuh harap akan segala yang semu.
Terlalu lama kutunggu
pedih yang sulit terobati tak jua berlalu.
Sebisa mungkin, kau tak perlu tahu.
Aku juga enggan menyiksamu
dengan rasa bersalah yang tak perlu.

Masih berdo’a, wahai kawan lama?
Terima kasih, karena aku masih membutuhkannya.
Hanya demi kau, rela kupalsukan tawa
atas nama cinta yang tak boleh cemar,
atas persahabatan yang jangan sampai bubar.

Semoga do’amu terkabul sepenuhnya,
mengingat aku masih butuh percaya
cinta akan seadil Sang Pencipta
bukan lelucon kejam belaka
pengundang iblis ‘tuk tertawa
menghina semua luka…

(Jakarta, 11/12/2010)

“kucing3warna” [kucing3warna@...]

Hidup Itu Indah


Puisi ini ditulis oleh pada
4 October 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (18 votes, average: 4.17 out of 5)
Loading ... Loading ...

Pertama kalinya aku hadir di dunia ini…

Aku tak mengerti apa-apa..

Lemah, dan sungguh rentan..

Tak ada impian dan harapan..

Menitipkan jiwa raga pada dua insan…

Rengekan tangisku menginginkan sesuatu..

Terkadang mereka tak mengerti apa yang kuhendaki..

Dengan hangat mereka menjagaku..

Dengan sejuta impian mereka, kelak aku mampu membanggakan mereka..

Perlahan aku mulai mengerti..

Bahasa mereka, kelakuan mereka,..

Entah saat mereka mendengar aku berkata “mama.. papa” yg mereka ajarkan padaku

Ada kebahagian tersendiri disana..

Dipegangnya tanganku, dan mencoba berdiri..

Dari merangkak, aku mulai terbiasa menggunakan kedua kakiku..

Dan perlahan pula aku mampu berjalan seperti mereka..

Aku berjalan dan berlari mendapatinya..

Seumur biji kacang tanah..

Aku mulai mengerti..

Aku berada dimana, dan siapa mereka..

Entah jika tak ada mereka, aku seperti apa..

Diberinya aku sebuah pemikiran baru..

Diajarkannya aku ada impian yang harus dituju..

Dimasukinya pikiranku akan hal-hal yang baru..

Waktu itu aku menjawab “ingin seperti dia” (sambil menunjuk kartun televisi)

Perlahan aku cukup besar..

Kini impian nyata itu ada..

Dan dalam meraih impian itu, aku harus melanjutkan perjalanan yang panjang..

Perjalanan yang harus aku ketahui, bahwa pengetahuan yang tak ada batasnya..

Hari berlalu demikian cepatnya..

Aku mendapati diriku..

Dengan raga yang dewasa,,

Aku mulai merasakan, mengartikan sebuah cinta…

Cinta pertama..

Membuatku mengerti kertas dan pena..

Menuliskan sebuah bait kata yang indah..

Yang menjelma sebuah gambaran diri, wanita yang kupuja..

Cinta pertama..

Membuat tanganku, memelodykan syair..

Menjadikannya sebuah lagu yang merdu dan indah..

Cakrawala senja pun menjadi temanku satu-satunya..

Perlahan,..

Ada benci, ada pertengkaran, ada perselisihan..

Yang membuatku kehilangan akal sehatku..

Aku membutuhkan seseorang untuk bicara..

Tuhan nampak dekat sekali denganku..

Aku bicara dengan Dia dalam hening doa..

Tentang sejuta impian dan jawaban setiap pertanyaan..

Dijawabnya dengan lantang dan misteri,..

Datang seseorang..

Dia hadir saat aku putus asa..

Dia menopangku saat aku terjatuh..

Namun itu bukan cinta, tetapi itu dinamakan persahabatan…

Persahabatan..

Ibarat satu pohon yang hidup di tengah padang gurun, peluh dan sesak..

Mendabakan hujan, namun hujan tak akan pernah hadir..

Angin datang dengan kesejukan alami, menghapus keringat sang pohon..

Persahabatan..

Ibarat kertas yang bertuliskan kepercayaan, ketulusan dan pengorbanan..

Jika kertas terbakar, tersobek, dan basah..

Maka semuanya sirna, bahkan bisa lebih buruk, membakar yang lainnya..

Ya, kembali aku mendapati diriku..

Mempelajari apa yang terjadi..

Cinta itu adalah sebuah kehidupan..

Ada denyut, bernafas, berfikir, mendengar, melihat, dan merasakan..

Cinta itu adalah perasaan dan logika yang bersatu..

Ada kesabaran, ketulusan, kepercayaan,

Tak pernah menghitung kesalahan dan slalu memaafkan..

Dan besarnya cinta, kau akan tahu saat akan kehilangan..

Ibarat cawan anggur..

Yang disetiap tetesannya mampu menghidupkan semua yang telah mati..

Yang disetiap tenggukannya mampu mengenyangkan perutmu, dan tak pernah lapar lagi..

Yang disetiap aromanya mampu mengubah semua yang buruk menjadi lebih baik..

Ada sebuah pelajaran tersendiri..

Saat aku harus kehilangan..

Itu yang dinamakan keikhlasan..

Sulit sesulit mencengkeram bintang di langit..

Keikhlasan bukan hanya melepaskan sesuatu..

Melainkan penuh pengorbanan, dan tulus..

Menghempaskan impian ke tanah, dan bermimpi kembali..

Aku harus melakukan itu untuk yang terbaik..

Namun sesuatu yang terbaik bukan berarti sesuatu yang sempurna..

Namun sesuatu yang terbaik bukan berarti sesuati yang seperti impian kita..

Sesuatu yang terbaik adalah jawaban suci dari Tuhan..

Adalah sebuah titik dan sebuah takdir..

Kembali aku mendapati diriku sendiri..

Setelah semua yang telah terjadi..

Aku lahir, belajar, bermimpi, bercinta dan bersahabat..

Aku sakit, bahagia, tertawa, menangis..

Selayaknya hidup itu indah..

Tuhan menjawab setiap pertanyaan kita.

Tak selalu seperti yang kita impikan, melainkan yang terbaik..

Doa dan berjuang adalah sebuah pondasi, karena keyakinan adalah awal dari sebuah perjuangan..

Jika memiliki impian, pegang dan jangan pernah lepaskan..

Tak cukup puas dengan hanya merasakan pasir pantai di kakimu..

Kau harus mampu mendengar ombaknya, merasakan hangat Cakrawala senja..

Melihat burung laut yang bersautan, dan buih putih di batasan pantai..

Dan jika impian itu harus sirna..

Ada yang sulit, namun kau harus lakukan..

Untuk yang terbaik..

Keikhlasan..

Hingga suatu saat kau akan mengatakan pada dirimu..

“aku sungguh Bahagia.. Syukur pada Tuhan..”

Bisik Kerinduan…


Puisi ini ditulis oleh pada
1 October 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 4.80 out of 5)
Loading ... Loading ...

dengarkanlah bisik kerinduan ini berlagu mencari tepian…

kemana harus kutambatkan dermaga lempung tanah ini sebelum habis kikisannya…

dengarkanlah perjalanan jantung ini sunyi berdetak, berlari kehilangan peta sejarah…

kemana sebaiknya kubilas debu_debu yang melekat dipori_pori sanubari…

pencarian panjang yang tanpa sadar menghabiskan separuh perjalanan hidupku

mencari telaah bintang pedomanku

pelipurku kala resah
peredamku kala marah

walau belum sempat kumenyana betapa inginku seperti mereka_mereka yang dapat jawabnya…

sedangkan aku masih sibuk menganalisa apa yang diketahui…
apa yang ditanyakan…?!

hati dan jiwaku benar_benar sibuk memburai lafal_lafal cinta,

hingga kini disepenggal akhir niaga saat pagar sejarah lahir,
beribu cindra kenangan kumengingati bahwa tak perlu ku menunjuk satu bintang

yang kubutuhkan bukan itu,
bukan bintang ataupun cahaya lain…

yang kubutuhkan belai kasih dari Illahi…

cahaya diatas segala cahaya…

maka dengannya kubangun kembali
dermaga besi menata kembali lagu tepian
karena demikianlah cinta ini kupertaruhkan…

dan melangkah menapaki takdir yang sudah EngKau gariskan sambil kubertanya kapan kapalku Kau terima istirahatnya….

Tentang Asamu


Puisi ini ditulis oleh pada
31 August 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 3.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

Ceritakan padaku tentang pedihnya sebuah kehilangan yang terbang diatas awan senja merah saga dan menyiksakan ngilu menikam didada, dalam derap waktu yg bergegas agar segera dapat kubaluri hatimu dengan sejuk bening embun dan tulus cintaku.
Ceritakan padaku tentang perihnya sebuah pengorbanan yang membakar habis segenap asamu dan meninggalkan sepotong lara mengendap didasar kalbu, agar kubuatkan untukmu rumah diatas awan biru tepat dipuncak larik pelangi yg akan kubangun dari setiap desir angin rindu, khayalan merangkai impian bersama dari bilik hatiku yg senantiasa percaya kebahagiaan kita adalah kenistaan yg terlerai…

by_lembayung

Launching BUKU RONA KATA : Sepuluh Perempuan Pecinta Puisi (from Bandung)


Puisi ini ditulis oleh pada
6 August 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

“Puisi
pada hakikatnya merupakan refleksi ekspresif jiwa yang diungkapkan
dalam untaian kata-kata dan menimbulkan berbagai kesan dan pesan. Karena
perasaan halus sebagai bagian dari kodratnya, perempuan merasa lebih
akrab dalam merefleksikan ekspresi jiwa melalui puisi, seperti yang
tercermin dalam Rona Kata ini.”

M. Husseyn Umar – Ahli Hukum dan Penyair, Ketua Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin

“Kesepuluh
perempuan dalam Rona Kata ini, ibarat sepuluh jemari yang tengah
menyatu. Seperti sepasang tangan yang dimiliki seorang pianis saat
mencipta harmoni notasi, juga yang dimiliki pematung saat mencipta
keindahan bentuk ragawi. Antologi ini mendandani paras perpuisian
Indonesia dengan rona tersendiri. Bahwa ternyata, imaji keindahan
perempuan tak selalu diletakkan pada stigma cantik rupa dan menariknya
raga, namun juga pada ‘rona kata-kata’.”

Yuris Dewandaru – Peminat Puisi, www.tusukgigi.com

“Sungguh
menyejukkan ketika membaca sebuah buku yang berisikan untaian kata
indah dan bermakna. Menikmati kumpulan puisi ini bagaikan mengecap
sapaan alam dalam bentuknya yang paling halus: semilir angin, rintik
hujan, dan wangi bunga. Sederhana sekaligus menakjubkan.”

Dewi Lestari – Penulis

“Seperti
mendapatkan sebuket bunga! Warna-warni rangkaiannya, campur baur
wanginya. Tersembah dari perempuan-perempuan Indonesia sebagai sahabat,
kekasih, teman berbagi, dan pelakon kehidupan. Mengingatkan kita pada
perjalanan: kehilangan, kerinduan, harapan, dan kesempatan. Saya
menikmatinya sambil menyeruput air mineral, yang rasanya dapat berubah
manis, asin, asam, dan getir. Mengikuti emosi yang tersirat dalam tiap
lembarnya.”

Mira Tulaar – Program Director Trax FM Jakarta

Launching BUKU RONA KATA : Sepuluh Perempuan Pecinta Puisi (from Bandung)

(Desiyanti,
Yunis Kartika, Miranda Risang Ayu Palar, Dian Hartati, Heliana Sinaga,
Violleta Simatupang, Palupi Sri Kinkin, Theoresia Rumthe, Anjar
Anastasia dan Tisa Granicia)

Tempat: Gedung Indonesia Mengugat

Jl. Perintis Kemerdekaan no. 5 – Bandung

Minggu, 8 Agustus 2010

Pkl. 15.00 – 18.00 WIB

Selain launching, menampilkan pula:

* deugalih

* Syarif n’ friends

* Grace dan Tesla (akustik jazz)

* Christian Jati (gitar jazz)

* Performing art

Acara gratis.

Jika Anda mau memiliki buku ini, bisa membeli di tempat dengan harga diskon.

Kegiatan ini atas kerjasama dengan :

* Penerbit Alumni

* Gedung Indonesia Menggugat – Bandung

“Bagi dunia kau hanya seseorang, tapi bagi seseorang kau adalah dunianya”
visit me at : http://berajasenja.multiply.com/, FB: anjar Anastasia
and http://www.friendster.com/myberaja

^-^ salam beraja, -anj- ^-^

Mencatat Waktu


Puisi ini ditulis oleh pada
6 August 2010 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

:asfinawati

Aku sama sekali tak faham,
Kepada siapa waktu berpihak…..
Tapi,
Tak perlu catatan apapun karena
Memang waktu akan menjadi milik semesta….

Kemudian pada halaman buku yang aku lipat setengahnya,
Sebuah kata aku tebalkan pada dua tanda petiknya :
“kata-kata sama sekali tak mewakili,
sebab kita mungkin hanya perlu sebuah jawaban,
entah putus asa
atau perasaan seperti anak-anak remaja yang
kehilangan setengah waktunya
karena televisi dan
tulisan-tulisan penuh tinta
di tembok-tembok stasiun kota….”

Semesta kata
Semesta kita
Cuma semesta duka cita !

Jakarta, catatan 16 Juni 2004
salam,
khi

ketika peluru pertama meledak, tiada lagi hari minggu atau malam istirahat

/subagio sastrowardoyo, puisi

khamid istakhori [khamid_mail@...]