Tag: kedamaian

Cinta Suci


Puisi ini ditulis oleh pada
4 May 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Dalam kehidupan kita, suatu peristiwa mungkin sangat berarti dan tertanam dalam benak qt selamanya.
Hal itu kini aq alami.

Hari sabtu, 07 july 2010,
Genap 1 bulan hubungan aq dengan pasanganku.
Aq merasa ini hari bahagiaku.
Teriknya sinar matahari membuat aq makin semangat mngerjakan tugasku..pekerjaanku.
Tanpa terasa Hp ku bergetar…1 pesan masuk nomer baru,

kalimat yg sngat singkat.
“Tinggalkan dia, lupakan dia”

aq tidak mengerti maksud nya.
Aq terperangah.
Hari bahagiaku, hari baik ku tiba2 hancur berantakan,sperti di hantam peluru mortar,
aq terbatuk,mencoba mngacuhkan nya..tetapi gagal.
Begitu TEGAnya ia….!!

Bgmna mgkin aq mnggalkan,apalagi mlupakn org yg saat ini aq sayanx,dan aq banggakan.
Rasa bahagiaku yg bgitu indah terasa sirna..
Kedua bahuku lunglai, Yaaaah……! ! ! !
Mgkin kah hari ini mmg sprti hr2 yg lain.
Lagi2 aq tersisih, tapi hr ini jauh lbih mnyakitkan.
Aq harus mengalah lagi.

Tak seharusnya CEWEX itu bicara demikian.
Apa dy t’ punya prsaan sama2 sbg perempuan.
Kenapa dia begitu TEGA ? ? ? ?? ?

Sianx itu aq b’jalan2,ckup jauh..tapi aq mnyukainya.
Aq telah menganggap hutan luas di luar kota ini sbg rumah ku sndiri.
Trsmbunyi di antara 2sungai dan gunung.
Rumah ini menawarkan kedamaian.
Jadi ku buang saja rasa tdk mnyenangkan dan di remehkan.

Cabang2 pohon cemara menerpa sekelilingku dan menghilangkan kegalauan di dalam hatiku.

Setiap langkah yg ku ambil memberikan keseimbangan bagi kemarahan dan kesedihanku.
Udara yg segar mengisi paru2ku.

Ku bayangkan kehidupan di sungai
‘burung pipit b’terbangan di atas permukaan sungai.
Sungai itu seolah2 berbicara dgn ku.
Bberapa burung kecil yg di sbut burung pnyelam , dia hinggap dari bebatuan 1 ke bebatuan yg lain di prmkaan sungai.
Dia berusaha mnyeimbangkan tubuhnya di atas bebatuan lalu menyelam.
Tak lama kmudian,mereka muncul ke permukaan sungai dan terbang ke udara, seolah2 tidak terjdi apa2 pd dirinya.
Mereka dpat mghdapi segala sesuatunya.
Ku hela nafasku u’ mnghilangkan stres hari ini sambil tertawa bersama khayalanku ttg burung penyelam yg berani itu.

Malamnya
aq b’usaha menenangkan dan menjauhkan pikiranku tentang peristiwa yang terjadi hari ini.
Aq b’usaha menutup mataku yg masih sembab akibat air mata yg t’ bisa ku tahan.

Esok harinya…
Dengan keberanian seperti yg dimiliki burung penyelam..
Aq mencoba bangkit dan tetap tersenyum manis pada mentari yang masih setia menyapa ku di pagi hari.
Aku akan mulai hidup baru tanpa adanya diya di samping ku….

Sanggup kah aku ? ? ?? ? ? ? ? ? ?? ? ?? ?

Hingga………..

21 sep 2011
hidup ku kini lebih baik,dari yg pernah ku bayangkan,
tetapi bukan b’arti sama sekali tanpa hambatan dan kesulitan..tetapi aq bisa mnerima smua ksulitan ataupun kebahagian,
karena keberhasilan dlm hidup tergantung dr cara qt menghadapi smua itu.
Dan hingga akhirnya aq bisa bersamanya lagi, dia kembali lg padaku.
Menurutku..
” seorang wanita tak perlu mengejar ngejar laki laki. biarkan saja mereka yg mengejar qt(wanita) karena itu memang sudah tugas mereka(laki-laki).
….Kedewasaan tidak di peroleh dr bertambahnya usia,
melainkan dari bertambah bijak nya seseorang…..

ferry prasetyo [prasetyo_ferry@xxx]

Selamat Tinggal


Puisi ini ditulis oleh pada
26 April 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Tepatnya kini, aku seperti mengharap mati
bukankah memang hidup memang untuk mati?
bukankah yang diberikanNya akan kembali juga?

Kini permata hidupku telah pergi ditelan perut bumi
dan aku disini seperti orang bodoh yang menurut dengan kehendak hati yang pilu
tidakkah masuk akal, aku yang selalu mendambakannya
hanya bisa berharap dan tak diperbolehkan untuk melihatnya
meski hanya sesaat. . .

kini dia dapat beistirahat dengan tenang
tanpa jiwa yang selalu membayangnya
lepas tanpa rasa yang menyayatnya

Duhai sayang. . .
Tinggalah aku sendiri yang tersayat olehnya
oleh rasa yang aku tak tahu dari mana rasa itu
seakan menjadi penghuni abadi dalam hatiku

Wajah cantikmu mungkin telah hilang
termakan cacing-cacing tanah yang kelaparan
Jujur, aku lebih memilih untuk menjadi cacing itu
dan aku juga cemburu pada bumi yang memelukmu dengan kedamaian

Duhai sayang. . .
Dengarkan aku dan rasaku ini
aku sungguh merindukan akan api itu
“Lilin” ini takkan pernah padam sayang…
meski air seluruh dunia digunakan untuk menenggelamkannya

karena dia sudah abadi
abadi menyertai kepergianmu untuk selamanya. . .

From: Alim Frendi [alimcihui@xxx]

Rindu Bersalut Pilu…


Puisi ini ditulis oleh pada
31 January 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (17 votes, average: 4.35 out of 5)
Loading ... Loading ...

Tanpa sapa dan bertanya…
kilatan tatapanmu telah bercerita tentang keangkuhanmu..

mengadu disaat hadir gundahku,
menghadirkan pilu bukan kedamaian seperti yang kuingin…

tanpa sadar ceritamu
‘tentang cintamu yang kian membara padanya’
tlah merajam ngilu ulu hatiku..

kau tak peduli setiap kata yang kau urai
‘tentangnya’
membuat nafasku mendengus perih..

meratap didinding hati yang sunyi..

sekian lama jalinan kita semai,
kini terlerai tanpa ada arti salam perpisahan..

alunan lagu rindu, menjadi kelu dan perlahan mengeras batu..

Haruskah aku mengadu pada setiap helaian nafasmu…?

dalam sepi aku bertanya…
apakah bisa diseiringkan lagi jalan yang sudah tak searah tujuan…?

sangat jelas untuk dihempas, bahwa dirimu tak selalu ada untukku…

biarlah kuberputih mata asal kau bahagia,
dan pintaku
‘jangan lagi bercerita tentang dia dihadapanku…

tak perlu kulontarkan bagaimana rasaku yang mulai meredup sinarnya untukmu…

maafkan aku…
ijinkan aku pergi membawa kisah ini…
dan biarkan terus kurawat rindu bersalut pilu dilaman hati ini…

sampai nanti…
sampai waktuku usai…

By_lembayung

Rindu Yang Terpendam…


Puisi ini ditulis oleh pada
26 December 2010 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (25 votes, average: 4.52 out of 5)
Loading ... Loading ...

saat hanya tatapan yang bisa kubiaskan untukmu

sesungguhnya kidung kerinduan ini ingin menyampaikan sebuah rasa padamu

meski kata terbatas pada keberanian untuk melafadz

mestinya sudahlah cukup buatmu bisa mengartikan rasa yang kupendam

saat kita duduk berdua
menatapi lembayung senja yang menjuntai

ada makna dalam setiap tarikan dan hembusan nafas…

ada harapan dalam degup jantung…
semua bernadzar kepadamu…

disini…
didadaku tersimpan harapan…
dihatiku bersemayam keinginan…

namun bagaimana kuharus sampaikan kepadamu jika setiap menatap wajahmu bibirku kelu…

bagaimana harus kuluahkan kejujuran atas rasa cinta dan rinduku

hasratku ingin membangun mahligai indah diatas titian ikrar…

rasaku inginkan kedamaian bersamamu…

rakit kecilku ingin bersandar disatu dermaga

dermaga nan asri tempat menambatkan penat jiwa dan hasrat hati

tak jemu kuberharap pada angin keikhlasan tuk mengiring rakitku bertemu dengan dermagamu..

seandainya rasaku ini sama dengan rasamu…

keindahan cinta dan rindu ini lakarkan dengan kecup hangat dikeningku…

karena sebenarnya hanya satu lafadz yang ingin kuluahkan dihadapanmu

“Aku Mencintaimu”

kuingin miliki dirimu seutuhnya tanpa harus berbagi….

_Lembayung Kelam_

Hilang Dalam Terang…


Puisi ini ditulis oleh pada
20 October 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 3.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kala fajar mulai membuka pintu pagi,
menggantikan gelita yang kesuraman

kurintis kembali impian yang pernah hilang dari ranting asa

setiap kakiku menciptakan langkah,
selalu saja meninggalkan jejak luka kepedihan masa silam

kutatap kembali sinarMU yang kian merangkah
silau menghalangi pandangan

debu melecut derap,
bergegas seakan ingin turut menjemput senja dan menyepuhnya menjadi bias-bias lembayung

tinggalkan aku sendiri termanggu mencari bayang sosok yang hilang dalam terang

jingga menggeser terang, menuntunku untuk menyongsong rembulan yang berjanji akan datang

Ahh…….
penat tiba-tiba menjalar sampai keujung-ujung pembuluh darahku

bintang….
akankah engkau akan datang, untuk berkerlip menghibur diriku yang semakin malang

kasih…..
mengapa kau selalu memintaku untuk menjawab setiap resah dan gundahmu

jika tak jarang kau tinggalkan serta kau biarkan diriku sendirian dalam tangisan

ditepian kelam….
lirih kusenandungkan lagu rindu

rindu akan kebahagiaan dan kedamaian

keletihan bathinku membuat anganku mengembara

jika memang sudah tak ada cinta lagi untukku…

mengapa lafadz keputusan tiada jua kau lontarkan…

agar aku tak semakin berharap,
berharap menatap indahnya purnama dicelah langit bersamamu….

malam….
sunyimu kini temanku…
kelammu juga sahabatku…

alunkan lagu sepi dalam keabadian,
untukku nikmati menjelang mimpi-mimpiku….

_Lembayung Kelam_

Lembayung Kelam…


Puisi ini ditulis oleh pada
22 September 2010 dengan 4 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (16 votes, average: 4.19 out of 5)
Loading ... Loading ...

rasa ini membaur dalam lingkup hati yang sunyi bersaing melawan kepingan_kepingan noktah kelam masa lalu…

merentas pada senyap yang menyeluruh diseparuh malam,
akankah ada sebias cahaya datang ‘tuk mencanarkan mistery hati sebelum labirin kian berkerak dibumi tuaku…

kuingin penjabaran yang mampu merubah kegalauan hati menjadi kedamaian yang hakiki,

rasaku terus mendayung, melintasi fase_fase senyap dan gelap terombang_ambing dimuara pesakitan dan terdampar aku disamudra asing tak bertepi,
kutak dapat lagi memanggul tinggi hasrat hati untuk mencapai puncak getaran cinta yang sejati…
merajut simpony asmara dalam jiwa…

rasa ngilu itu masih hidup dalam jiwaku, sungguh……..

tak jarang aku terdiam, merenung menyenandungkan irama sunyi dalam kudus do’aku

Duhai ALLAHku……..
kusadar raga dan jiwa ini seutuhnya kepunyaan_MU

nafas ini pun kutahu juga titipan_MU
EngKau menciptakan dengan rasa dan takdir yang berbeda dengan yang lain, kini semua kukembalikan pada_MU

lewat simpuhku selayak pengemis diantara reruntuhan bening kembar yang tiada kesat

tataplah aku dengan cahaya kasih_MU
agar langkahku kembali tegar dalam meniti takdir ketetapan_MU….

Ketika Hujan Tiap Sore


Puisi ini ditulis oleh pada
17 September 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 4.80 out of 5)
Loading ... Loading ...

Semilir angin pegunungan

mengalun dingin

rintik-rintik renggang

menjadi banyak…

jatuh menjadi hujan pada

tanah-tanah yang sudah basah.

Bunyi air jatuh dari atap rumah-rumah

khas daerah sunda, terdiri mengelompok.

Rintik hujan berlomba dengan air jatuh dari pancuran atap,

membuat sore ini begitu hening.

Seorang bapak tua yang berteduh disampingku

berkata padaku

“jang, di sini kalau sore memang selalu hujan”

“lihatlah kabut yang turun dari bukit batu di atas,

itu adalah teman kami di waktu sore”

Aku hanya terdiri di bawah atap beranda sebuah rumah

hanyut dalam rintik-rintik yang mulai mengecil

bersama kabut yang mengalun lembut, dingin dan tampak mempesona,

dimana sepiku tersangkut

pada hujan sore yang riuh

membawa kedamaian hati.

Heningku tertambat, terjaga

kemudian hati ini beranjak merasa lagi

terpikir untuk pulang ke pondok

menyeberangi hujan sore ini dengan hati yang ikhlas

akan airnya yang dingin

kabut yang meremangkan pandang

dan tanah licin becek yang mengotori kaki

Ketika hujan sore …

memberkas segurat kesadaran

untuk hidup dengan cara yang beda

percaya pada hasrat, pada

naluri berpikir untuk hidup.

(Garut/Untuk sahabatku Tono&Yanto/Februari 2010/Katjha)

Ndayah(lili muzdalipah)


Puisi ini ditulis oleh pada
13 January 2009 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (11 votes, average: 3.55 out of 5)
Loading ... Loading ...

adalah sebuah nama..mengalir hangat d pembuluh nadi,mengintip dalam celah pori dan trsmbunyi dalam relung hati. tiga tahun kau kukenal dalam goresan tinta,terbingkai kata..kata LOVE AT THE FIRST SIGHT,saat gemuruh ombak suralaya kidungkan lagu jiwa.. empat belas agustus gundahku terhapus..kala ku rapatkn jemarimu dalam lingkaran tubuhku..tuk yakinkan hati,kaulah yg bertahta dalam sanubari. kaupun terdiam..seiring senja sore itu. ndayah..sebuah nama,adalah mahligai tak ternilai.. adalah saat ku rapuh kau rebah di bahuku..adalah saat ku jatuh kau bangkitjan jiwaku..adalah saat ku toreh luka kau tetap tersenyum dengan simpul manismu. ndayah..sebuah nama yang bersemayam dalam keutuhan kasih sejati. satu kerinduan..terukir pada biasnya wajah nan ayu.satu harapan..ranummu tetap terjaga dalam taman hati,mewangi dan mekar saat ku kembali untukmu.. ndayah…sebuah nama…sebuah asa dalam kedamaian suci nan hakiki.

Karma


Puisi ini ditulis oleh pada
13 January 2009 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (21 votes, average: 4.43 out of 5)
Loading ... Loading ...

Tersudut berlinang diujung kamar berdebu

Berselimut hangat karma yang menyiksa

Tak kuasa berpaling tuk menghindar

Derita terus mendera, menempa, menindih dari segala arah

Tak ingin kusesali

Namun wajar sakit ini meminta sedikit air mata

Hingga hampir kering jelaga rasa pelipur jiwa

Ragaku teguh namun tidak jiwaku

Tuhan semakin sakit saat namaMU terucap

Dari pecah rongga bibir berdarah

Kenapa kau benci aku, berucap pun ku hanya bisa tuk bertanya

Semua bicara tentang Engkau yang penuh asih

Penuh cinta dan kedamaian

Tapi……

Adakah akan asih buatku? Jika Kau cipta bayangpun berkhianat didepanku

Sebatas mana kan kaucoba diriku

Apa hingga udara juga ikut bersekutu tuk membenciku?

Jika memang benar begitu adanya

Kubisa hanya berterima kasih karena kutahu rahasiaMU

Karma ini kan kembali menghiburku

Mungkin nanti…….