Tag: kebersamaan

Antara Aku, Dia dan Lagu “Remang-remang”


Puisi ini ditulis oleh pada
2 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 3.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

*)Jalanan, sebuah tepian pantai utara jawa

 

Senja beralih malam,

namun waktu yang beranjak lambat

menunda keremangan bersaput pekat

bersama lampu-lampu merkuri pinggiran jalan

pantai gelap,

kelap-kelip lampu kapal dan rumah-rumah

tepian pantai.

bersanding;

gelap hitam  remang-remang.

 

*) Trotoar pinggiran pantai

 

Aku dan Dia

tenggelam dalam remang senja beranjak malam

tenggelam dalam riuh bunyi

kendaraan lalu lalang melintas jalanan tepi pantai

 

Aku dan Dia ke sini bukan untuk saling diam

bukan untuk hanyut dalam panorama

pantai pelabuhan nelayan-nelayan kecil

bukan untuk mendengarkan riuh kendaraan lalu lalang

bukan juga untuk memperlihatkan diri sebagai sepasang

burung belibis yang bermesraan di tepi pantai.

 

Aku dan Dia

berjumpa hati dan bertatap kerinduan

dan mengawali setiap senyum diantara

Aku dan Dia dengan hati yang tulus untuk

saling mencintai.

 

*) sepi kebisuan dan hanyut suasana, pecah

 

Dia berkata; “mari kita nyanyikan lagu”

sejenak aku menatap senyum di bibirnya

dan tatap mata beningnya.

“lagu apa ?”

Dia menatap tersenyum; “lagu Remang-remang,

masih ingat kan ? ”

Aku masih ingat, lagu itu kesukaan almarhum Gus Dur.

 

“Ayo kita nyanyikan bersama”

sambil dia melangkah ke arah tepian trotoar

yang menghadap kelaut.

“ayo kita nyanyikan lagu Remang-remang”

Dia duduk menghadap ke jalanan ..

 

Kuhampiri Dia, duduk bersama menghadap jalanan

sejenak bertatap dengan senyum ditahan

kemudian pecah tawa-tawa kecil.

 

Aku dan Dia menyanyikan lagu Remang-remang

mengalun lembut, kadang tenggelam dalam

deru jalanan.

 

pecah rindu dalam keriangan

remang lampu dan angin sepoi jalanan pantura.

 

Akhir lagu bukan lirik yang habis

akhir lagu adalah Aku dan Dia yang tersenyum,

saling tatap .. dengan hati yang saling tertaut

cinta dan kasih sayang.

 

Di seberang jalan,

sebuah kelenteng yang menghadap ke laut

di depan menyala sepasang lampu lampion merah

bergoyang di tiup angin pantai.

seolah menyapa kebersamaanAku dan Dia

ingin menyimpan kisah Aku dan Dia

dalam setiap kelip dan nyala merah

sebagai simbol kebahagiaan.

 

(Tuban, Oktober 2010/Katjha)

Nikah Ilalang


Puisi ini ditulis oleh pada
2 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 3.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

Bertaut dalam semak padang rawan

rona tipis fatamorgana, sederet rumput-rumput

kuning setengah kering,

begitupun tanah gersang tak berair

kering pecah-pecah, berdebu

dan tiap saat diterbangkan

angin resah dari bukit matahari tenggelam.

 

Tiada rindu,jika tiap saat bersinggung

mahligai kebersatuan,

tiada gelora karena kebersamaan

sudah terpajang dengan santun.

 

Mereka adalah penghuni padang tanah lapang

gersang, padang embun pagi dan

lautan  jingga remang senja.

 

Ini bukan kota, desa atau apa pun

tempat orang-orang singgah dan merindukan

perjumpaan kembali.

Ini adalah padang  sepi dan tandus,

buas dan melata.

 

Tempat ini menentang sepi,

mempertunjukkan keterasingan.

karena tempat ini hanya menawarkan satu kerinduan.

Rindu pada hujan dan rintik-rintik praharanya,untuk

menerjang rebah batang-batang kering setengah mati

ke tanah tandus, kemudian membusukannya

setelah itu lahirlah generasi selanjutnya

yang bernasib tak jauh beda.

 

Jika pun mereka menjadi mulia

dan selalu disebut hanyalah

dalam tata bahasa dan untaian syair, sajak

dan kata-kata kiasan,

setelah itu mereka tersebut tak bermakna.

Memang benar, orang harus lupa,

mereka harus dilupakan,

jika harus mengenang,

mereka adalah nikah ilalang.

 

(Kalianda/Juni/2010/Katjha)

Bintang Jatuh


Puisi ini ditulis oleh pada
1 July 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 3.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

debur ombak pecah di buritan kapal
menggelegar memecah hening malam
hitam menyelubungi diri, gelap pekat
seakan mengundang bintang bertandang
menyodorkan petunjuk pada haluan kapal

percakapan tanpa kopi pun mengalir
sekedar berbagi kabar
menggulirkan sedikit harap
menyingkap rahasia hati

disini,
dimana percakapan tanpa gangguan teknologi terjadi
antara aku kamu kalian kita kami
ditingkahi tawa dan hening
sungguh kebersamaan yang langka

berbaring beratapkan langit penuh bintang
membisikkan ingin kepada bintang jatuh

wahai bintang,
tolong jaga mereka untukku
dalam matahari hujan dan gelap malam

malam penuh bintang di perairan nusa tenggara timur – dedicated to Sujana212, 7-13May2010

Dinny Hardiany [dinnyhardiany@....]

Bunga-bunga Kopi Menebar Senyum


Puisi ini ditulis oleh pada
17 July 2009 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kala itu waktu pagi yang remang
dan masih berselimut kabut.
sebuah penggunungan yang sepi dengan kebun-kebun kopi,
masih sepi …
hening dan tiada keraguan untuk menyambut pagi
bagi sepasang capung merah yang bersiap terbang di langit biru.
“sekarang adalah musim kopi”
“besok pagi singgahlah ke pondok kebun kami,
akan kuhidangkan kopi terbaik tahun lalu”
setelah itu pastinya akan kau ceritakan tentang kebersamaan
kita yang tinggal kenangan.
pagi ini, kau sambut aku di depan pondok kebun kopimu
kau tersenyum, melambaikan tangan sambil berkata
“singgahlah..barangkali dengan secangkir kopi
bisa mencairkan kebekuan yang setelah kita lama berpisah”
Sesaat … semua hening, kemudian beranjak
riuh oleh suara burung-burung liar.
Sejenak bertemu pandang, bertukar jejak kenangan pada
pelupuk mata,
engkau tersenyum manis padaku, terlihat aku tergetar
oleh senyum yang sama tiga tahun lalu.
“Bunga-bunga kopi tiga bulan yang lalu telah tersenyum padaku,
aku tahu engkau akan kembali”
“aku percaya cinta yang tulus tidak akan terpisahkan
hanya karena ketidakdewasaan kita”
“kini temanilah aku memetik biji-biji kopi di kebun ini,
semoga di musim yang akan datang, jika bunga-bunga kopi
tersenyum, itu adalah karena kita telah bersama kembali”
Sesaat hening, di luar mentari merambat naik.
sementara aku terlarut dalam kegamangan,
menunda untuk berkata, berpikir dan merasakan
apa yang terjadi, sementara
senyumnya tiada putus menghiasi sosoknya yang
anggun dengan kecantikan yang tulus.
Dalam hati aku berkata “sialan,
kenapa aku harus jatuh cinta lagi”

(kepada Dian_W/Oktober 2007/Katjha)

Pejuangku


Puisi ini ditulis oleh pada
20 February 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

“Saya menyerah… ingin pulang dan berkumpul dengan kalian sebab kudengar kalian membutuhkanku…”

Pernah terpikir tuk akhiri perjuangin ini, terbawa ke masa lalu, masa kebersamaan. Kutitipkan cinta untuk bertemu kalian, berharap kalian rindukan aku…”. Cinta itu kembali membawa kabar tentang kalian, khususnya kau pejuangku… IBU.

Ibu, masih kuingat jelas perkataan itu setahun lalu “Nak, aku belajar banyak darimu”. Ingatan itu diseduh dengan kabarmu yang semakin menyusut membuat mataku menangis…

Betapa aku tak menangis… mendengar timbal balik cinta yang kukirimkan;

“Bila aku punya harta tanpa dia, akan aku tukarkan seluruh hartaku untuk mendapatkan dia. Sebab dia adalah hartaku yang tak pernah habis dan tak ternilai”.

“Dia membuat perbedaan, menghampiriku ketika ku dalam sunyi sendiri… ia buatku dihargai, ia ramaikan hatiku di kala sepi, ia buat air mata jadi senyuman”.

Ibu, ternyata kita sama-sama saling merindukan kebersamaan kita. Bila aku telah mengajari banyak hal padamu, mungkin satu hal yang aku pelajari darimu… “BERJUANG”, ya berjuang…berjuang tuk kalahkan lelah dan air mata. Masih saja kau diamkan tangisku dengan memutar keadaanmu yang susut menjadi “baik-baik saja”. bila tiba saatnya perang ini aku menangkan, ianya adalah secara istimewa akan aku persembahkan UNTUKMU!!!

Restui serdadu kecilmu ini, doakan agar cepat kudapatkan kemenangan, kemenangan UNTUKMU!!!

Rindui aku selalu, agar aku bisa segera memenangkan peperangan ini dan kembali ke kebersamaan kita dan mengisi sedih sepimu dengan ramai penuh kedamaian hati…

Ikatan tanpa cinta


Puisi ini ditulis oleh pada
27 February 2007 dengan 31 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (28 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

kuatkah ku menjalani ini??
kebersamaan kita memang indah, bahkan terasa sangat manis
kau teman berbagiku, kau tempat bersandarku
mendengarkan gelak tawaku, meredakan tangisanku,,,
menghangatkan tubuh dan jiwaku

Tapi, dalam tawa itu aku menjerit
dalam kehangatan dekapanmu ku menggigil
kau “teman” terbaikku, tapi bukan pemilik cintaku

Hatiku hanya untuknya
cinta inipun telah utuh menjadi miliknya
walau takkan pernah bersatu,,
karena aku tak mungkin memilikinya
dan tak akan pernah bisa memiliki seutuhnya

Puisi cinta dari : eny_manieztt

original source : wismacinta.com

aku yg berlari dan bertanya???


Puisi ini ditulis oleh pada
1 December 2006 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 1.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

aku ingin berlari..
dan tak ingin menengok ke belakang..
hanya ingin berlari..
karna aku ingin berlari..

terus bertanya kenapa kita dilahirkan berbeda..
bertanyaku dalam kebersamaan kita..
apakah cinta salah memilih kita berdua..

sayangku..
aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu..
dan mengapa diriku sangat enggan untuk menjejakkan kakiku sendirian tanpa dirimu..

tapi cepat atau lambat memang kita harus berpisah bukan??

karna aku dan kamu BERBEDA

-aku yg dalam kebingungan..[di tengah tugas kuliah yg begitu menumpuk] 22.00-

author : shining girl (akucantikhidupcemerlang@…)