Tag: jangan

Do’amu


Puisi ini ditulis oleh pada
9 February 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (14 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Aku terlelap dalam gelap mendekap.
Suaramu bergaung suram dalam kelam.
Do’amu-kah, wahai kawan lama?
Entah kenapa, kembali aku ingin mendengarnya.
Rindu menyiksa, kejam setajam sembilu.
Setengah mati ingin kusingkirkan haru,
terlalu muak dengan air mataku.
Harus kubunuh harap akan segala yang semu.
Terlalu lama kutunggu
pedih yang sulit terobati tak jua berlalu.
Sebisa mungkin, kau tak perlu tahu.
Aku juga enggan menyiksamu
dengan rasa bersalah yang tak perlu.

Masih berdo’a, wahai kawan lama?
Terima kasih, karena aku masih membutuhkannya.
Hanya demi kau, rela kupalsukan tawa
atas nama cinta yang tak boleh cemar,
atas persahabatan yang jangan sampai bubar.

Semoga do’amu terkabul sepenuhnya,
mengingat aku masih butuh percaya
cinta akan seadil Sang Pencipta
bukan lelucon kejam belaka
pengundang iblis ‘tuk tertawa
menghina semua luka…

(Jakarta, 11/12/2010)

“kucing3warna” [kucing3warna@...]

Rindu Bersalut Pilu…


Puisi ini ditulis oleh pada
31 January 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (17 votes, average: 4.35 out of 5)
Loading ... Loading ...

Tanpa sapa dan bertanya…
kilatan tatapanmu telah bercerita tentang keangkuhanmu..

mengadu disaat hadir gundahku,
menghadirkan pilu bukan kedamaian seperti yang kuingin…

tanpa sadar ceritamu
‘tentang cintamu yang kian membara padanya’
tlah merajam ngilu ulu hatiku..

kau tak peduli setiap kata yang kau urai
‘tentangnya’
membuat nafasku mendengus perih..

meratap didinding hati yang sunyi..

sekian lama jalinan kita semai,
kini terlerai tanpa ada arti salam perpisahan..

alunan lagu rindu, menjadi kelu dan perlahan mengeras batu..

Haruskah aku mengadu pada setiap helaian nafasmu…?

dalam sepi aku bertanya…
apakah bisa diseiringkan lagi jalan yang sudah tak searah tujuan…?

sangat jelas untuk dihempas, bahwa dirimu tak selalu ada untukku…

biarlah kuberputih mata asal kau bahagia,
dan pintaku
‘jangan lagi bercerita tentang dia dihadapanku…

tak perlu kulontarkan bagaimana rasaku yang mulai meredup sinarnya untukmu…

maafkan aku…
ijinkan aku pergi membawa kisah ini…
dan biarkan terus kurawat rindu bersalut pilu dilaman hati ini…

sampai nanti…
sampai waktuku usai…

By_lembayung

Kehadiranmu…


Puisi ini ditulis oleh pada
21 November 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (14 votes, average: 3.07 out of 5)
Loading ... Loading ...

tika jumpa pertama denganmu,
seakan engkau merupakan sosok terbaik bagi diriku

hingga hampir disetiap malam kuusik tidurku dengan balutan mimpi bersamamu

kehadiranmu sempat membuat hatiku luruh,
aku yang egois, kaku bahkan dingin

akhirnya terlalas jua oleh pujuk dan rayumu

hingga hampir genap 4 tahun kita bersama-sama meracik mimpi harapan masa depan

dan disitu akhirnya kutemukan keretakan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya

tak terlintas walau hanya dalam angan dan mimpiku

sungguh hadirmu kusangka kan mampu menjadi pengobat rana diri

namun ternyata kau hiris hatiku,,
pilu kian bertambah perih digigir jiwaku

semudah kau ucapkan janji-janji manis lewat mulutmu yang penuh kepura-puraan

segugus asa dan harapku yang bersemi kini terkulai kelemasan lagi

melolong sengit anganku bagaikan nyanyian asmara buta

disisa waktuku ini
dari lubuk hati kupinta padamu…

jangan kau ulangi perbuatanmu jika kau telah menemukan kekasih barumu….

_kelam09_

mengakhiri kisah ini untuk yang terbaik


Puisi ini ditulis oleh pada
15 November 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (21 votes, average: 4.38 out of 5)
Loading ... Loading ...

saat ku berjalan menyusuri waktu yang lalu

tak ada kata maupun sapa

seperti pula mendung kelabu yang merebak dalam hidupku

pilihannya adalah menangis dalam hujan

atau tertawa saat pelangi hadir

hujan akan berlalu

demikian kisah ini

ini adalah yang terbaik

kita sudah berbeda

kau malaikat sempurna

dan aku hanya seorang pangeran kelana

jika Surga adalah rumahmu

maka pergilah ke Surga

carilah seorang Malaikat pula sepertimu

jika Bumi dan tanah adalah pijakanku

maka aku akan berakhir dengan kematian

tak sempurna dan tak abadi

aku hanya seorang manusia

selalu salah dan berdosa

ingatlah wahai Malaikat yang pernah meratu dihatiku

pernah kamu memijakan kaki ke tanah

dan aku jatuh cinta denganmu

bukan sebuah makna

melainkan bahasa kita berbeda

bahasa kalbumu terlalu dalam

aku tak akan menyalahkan siapapun

yang pernah menyiksaku

karena aku mencintaimu dan salah

semua terserah padamu

tak bisa memaafkan aku

tak bisa lagi menjadikanku sahabat

tak nyaman lagi dgnku, seperti yg kau katakan

tak apa, aku anggap fair

dengan apa yang telah aku sakitimu

aku tak akan mengganggumu lagi

jangan salahkan siapapun

jika aku hanya mencintaimu

hidup sendiri tak ingin cinta

hanya menantimu

jangan salahkan siapapun pula

jika suatu saat manusia serupa malaikat

hadir dalam hidupku

menyempurnakan aku

dia bukan kamu

kamu ingin salahkan

Dia, Yang memberi dan menghentikan nafas??

masa depan itu buram

ada sebuah titik disana

itu takdir

takdir tidak mesti apa yang menjadi harapan dan cita2 kita

tapi itu selalu menjadi yang terbaik

seharusnya kamu bahagia

aku mengkhiri ini

seharusnya kamu senang

aku mengakhiri ini

seharusnya kamu berhenti membicarakan ttg kisah ini

itu yg membuatmu kelam

dan kini kuyakini

aku bukan yang terbaik

dan kamu bukan untukku

hiduplah sewajarnya

ikuti kata hati

bernafas, melihat, mendengar, bicara, dan merasakan

satu diantaranya harus kamu lakukan

kau tahu mengapa pelangi itu indah??

karena warnanya?

karena bentuknya?

bukan itu

karena dia hadir ketika hujan berhenti

seperti itu pula aku mengakhiri ini semua

selamat tinggal

bukalah lembaran barumu

selalu berdoa untukmu…

aku hanya ingin kamu tersenyum sekarang..

:)

carilah sebuah cahaya


Puisi ini ditulis oleh pada
22 October 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (16 votes, average: 3.63 out of 5)
Loading ... Loading ...

Hidup itu ibarat ombak yang terus menerus menerjang karang

Karang yang tegar adalah karang yang mampu melihat indahnya matahari terbit dan tenggelam

Jangan pernah harap lautan tenang itu akan datang

Seolah, menafikan karang yang rapuh

Seharusnya menerima kenyataan, tak mampu melihat matahari terbenam

Hanya melihat sebuah cahaya matahari yang perlahan terbit dan datang

Itu sudah sebuah anugerah yang terindah, kau harus mampu mensyukurinya

Hidup itu ibarat buih putih di pinggiran pantai

Yang membuat lengkap, adalah ketika kau menyentuhnya

Dan ombak bersahabat menyapamu dengan lirih

Perlahan buih itu datang, dan menghilang

Namun, yang terpenting

Seberapa lama buih itu datang dan melengkapimu

Tak perlu emosi, kau harus sabar

Sesabar pohon kelapa, yang setiap harinya tersengat cakrawala

Yang suatu saat berbuah, mereka menyediakan untuk dahagamu

Yang suatu saat berdaun lebar, mereka membuatmu duduk lega menikmati pantai

Hidup itu ibarat jejak langkah yang kau buat di pinggir pantai

Terkadang membuat pasir putih terinjak sakit

Terkadang ombak akan membuat hilang jejakmu

Terkadang pula jejak itu memiliki awal dan kemana tujuanmu untuk melangkah

Terkadang dalam foto sebuah pantai, mengartikan sebuah perjalanan panjang

Awal dan akhir

Hidup itu ibarat kamu menikmati Cakrawala terbenam

Yang di setiap pantai panorama yang dipancarkan berbeda satu dengan lainnya

Jika, ada satu pantai yang membuatmu bercahaya

Selamanya kamu tak akan pernah melupakan slide itu di kepalamu

Tapi ingatlah, ada maksud dibalik sebuah panorama matahari terbenam

Dia akan datang pada saat ruang dan waktu yang tepat

Tetaplah membuka mata di setiap pantai

Rasakan setiap badai pantai yang ada yang membuatmu tak nyaman

Rasakan penyesalan saat kamu menemukan panorama yang buruk

Namun, berbicaralah pada Tuhan, dan yakinlah

Kamu menemukan cahayamu, saat kamu telah merasakan semua panorama yang buruk

Kamu menemukan cahayamu, untuk kamu tak melakukan kesalahan yang sama

Sayangilah cahayamu, jangan membuat menyesal

Kelak suatu saat, kamu menemukan Hidup yang indah

Sebelum kamu membuka matamu


Puisi ini ditulis oleh pada
20 October 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

ada waktunya kamu mencoba berbicara sendiri dengan jiwa dan raga

1000 lebih hari telah kamu lewati

1000 lebih rasa telah kamu rasakan

ada tangis, canda tawa, sesak, senyuman

sebelum kamu membuka matamu

pertanyakan pada dirimu

apa saja telah kamu lakukan?

untuk Tuhan, dan orang-orang yang kamu cintai

sudahkah kamu merasakan sesuatu

tentang penyesalan,

tentang pertobatan,

di masa lalu

sebelum kamu membuka matamu

pertanyakan dalam dirimu

sudahkah kamu lakukan sesuatu yang terbaik

tentang pengorbanan

tentang ketulusan

di masa lalu

sebelum kamu membuka matamu

apa saja yang telah tangan, mulut, mata, telingamu lakukan

tentang sajak yang kamu tinggalkan

tentang lukisan yang kamu torehkan

di masa lalu

sebelum kamu membuka matamu

apa saja yang hatimu lakukan

tentang Cinta

tentang malaikat yang pernah meratu di hatimu

di masa lalu

coba

cobalah

sekarang

ibarat matamu terpejam

sejenak film masa lalu itu merebak hangat dalam pikiran dan hatimu

biarkan penyesalan dan kesalahanmu membuat hitam jiwamu

jika ada air mata menetes di pipimu, itu wajar

jika ada amarah merebak, tetaplah terpejam dan hening

jika ada senyum merona, buatlah senyummu seperti rembulan

lalu hentakkan lukisan-lukisan itu

kosongkan…

kosongkan..

kosongkan..

perlahan gambarkan sebuah pantai dalam pejamnya jiwa dan ragamu

kau harus lukiskan matahari yang terbenam

dimana cahaya matahari merebak di telaga

dimana ombak menderu, sampai kamu mampu mendengar deburan

dimana kaki-kakimu merasakan pasir dan kerikilnya

dimana burung laut berlagu merdu, sampai pula kamu menyanyi bersamanya

dimana angin hangat mendesir menerpa jiwa peluhmu..

kelak ketika kamu membuka matamu

kamu menemukan dirimu saat ini

dan masa depanmu

dimana penyesalan adalah resiko dari sebuah kesalahanmu

dimana kesalahan yang kamu perbuat adalah manusiawi

dan saat itu pula kamu mampu dan tahu

apa yang kemudian tangan, mata, telinga dan hatimu lakukan

untuk yang terbaik

untuk Tuhan

dan orang-orang yang kamu cintai

kenyataan memang pahit, tapi terkadang itu yang kamu harus rasakan

sebelum kamu merasakan sesuatu yang manis

janganlah berhenti menjejakan kaki di pantaimu

kelak setiap jejak kakimu, tumbuh disana bunga yang indah

hingga tak satupun orang tega untuk memetiknya

karena kamu melakukan yang semestinya kamu lakukan

karena lukisanmu sungguh indah

dan karena sajakmu membuat sesuatu yang mati dapat hidup kembali

Hidup Itu Indah


Puisi ini ditulis oleh pada
4 October 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (18 votes, average: 4.17 out of 5)
Loading ... Loading ...

Pertama kalinya aku hadir di dunia ini…

Aku tak mengerti apa-apa..

Lemah, dan sungguh rentan..

Tak ada impian dan harapan..

Menitipkan jiwa raga pada dua insan…

Rengekan tangisku menginginkan sesuatu..

Terkadang mereka tak mengerti apa yang kuhendaki..

Dengan hangat mereka menjagaku..

Dengan sejuta impian mereka, kelak aku mampu membanggakan mereka..

Perlahan aku mulai mengerti..

Bahasa mereka, kelakuan mereka,..

Entah saat mereka mendengar aku berkata “mama.. papa” yg mereka ajarkan padaku

Ada kebahagian tersendiri disana..

Dipegangnya tanganku, dan mencoba berdiri..

Dari merangkak, aku mulai terbiasa menggunakan kedua kakiku..

Dan perlahan pula aku mampu berjalan seperti mereka..

Aku berjalan dan berlari mendapatinya..

Seumur biji kacang tanah..

Aku mulai mengerti..

Aku berada dimana, dan siapa mereka..

Entah jika tak ada mereka, aku seperti apa..

Diberinya aku sebuah pemikiran baru..

Diajarkannya aku ada impian yang harus dituju..

Dimasukinya pikiranku akan hal-hal yang baru..

Waktu itu aku menjawab “ingin seperti dia” (sambil menunjuk kartun televisi)

Perlahan aku cukup besar..

Kini impian nyata itu ada..

Dan dalam meraih impian itu, aku harus melanjutkan perjalanan yang panjang..

Perjalanan yang harus aku ketahui, bahwa pengetahuan yang tak ada batasnya..

Hari berlalu demikian cepatnya..

Aku mendapati diriku..

Dengan raga yang dewasa,,

Aku mulai merasakan, mengartikan sebuah cinta…

Cinta pertama..

Membuatku mengerti kertas dan pena..

Menuliskan sebuah bait kata yang indah..

Yang menjelma sebuah gambaran diri, wanita yang kupuja..

Cinta pertama..

Membuat tanganku, memelodykan syair..

Menjadikannya sebuah lagu yang merdu dan indah..

Cakrawala senja pun menjadi temanku satu-satunya..

Perlahan,..

Ada benci, ada pertengkaran, ada perselisihan..

Yang membuatku kehilangan akal sehatku..

Aku membutuhkan seseorang untuk bicara..

Tuhan nampak dekat sekali denganku..

Aku bicara dengan Dia dalam hening doa..

Tentang sejuta impian dan jawaban setiap pertanyaan..

Dijawabnya dengan lantang dan misteri,..

Datang seseorang..

Dia hadir saat aku putus asa..

Dia menopangku saat aku terjatuh..

Namun itu bukan cinta, tetapi itu dinamakan persahabatan…

Persahabatan..

Ibarat satu pohon yang hidup di tengah padang gurun, peluh dan sesak..

Mendabakan hujan, namun hujan tak akan pernah hadir..

Angin datang dengan kesejukan alami, menghapus keringat sang pohon..

Persahabatan..

Ibarat kertas yang bertuliskan kepercayaan, ketulusan dan pengorbanan..

Jika kertas terbakar, tersobek, dan basah..

Maka semuanya sirna, bahkan bisa lebih buruk, membakar yang lainnya..

Ya, kembali aku mendapati diriku..

Mempelajari apa yang terjadi..

Cinta itu adalah sebuah kehidupan..

Ada denyut, bernafas, berfikir, mendengar, melihat, dan merasakan..

Cinta itu adalah perasaan dan logika yang bersatu..

Ada kesabaran, ketulusan, kepercayaan,

Tak pernah menghitung kesalahan dan slalu memaafkan..

Dan besarnya cinta, kau akan tahu saat akan kehilangan..

Ibarat cawan anggur..

Yang disetiap tetesannya mampu menghidupkan semua yang telah mati..

Yang disetiap tenggukannya mampu mengenyangkan perutmu, dan tak pernah lapar lagi..

Yang disetiap aromanya mampu mengubah semua yang buruk menjadi lebih baik..

Ada sebuah pelajaran tersendiri..

Saat aku harus kehilangan..

Itu yang dinamakan keikhlasan..

Sulit sesulit mencengkeram bintang di langit..

Keikhlasan bukan hanya melepaskan sesuatu..

Melainkan penuh pengorbanan, dan tulus..

Menghempaskan impian ke tanah, dan bermimpi kembali..

Aku harus melakukan itu untuk yang terbaik..

Namun sesuatu yang terbaik bukan berarti sesuatu yang sempurna..

Namun sesuatu yang terbaik bukan berarti sesuati yang seperti impian kita..

Sesuatu yang terbaik adalah jawaban suci dari Tuhan..

Adalah sebuah titik dan sebuah takdir..

Kembali aku mendapati diriku sendiri..

Setelah semua yang telah terjadi..

Aku lahir, belajar, bermimpi, bercinta dan bersahabat..

Aku sakit, bahagia, tertawa, menangis..

Selayaknya hidup itu indah..

Tuhan menjawab setiap pertanyaan kita.

Tak selalu seperti yang kita impikan, melainkan yang terbaik..

Doa dan berjuang adalah sebuah pondasi, karena keyakinan adalah awal dari sebuah perjuangan..

Jika memiliki impian, pegang dan jangan pernah lepaskan..

Tak cukup puas dengan hanya merasakan pasir pantai di kakimu..

Kau harus mampu mendengar ombaknya, merasakan hangat Cakrawala senja..

Melihat burung laut yang bersautan, dan buih putih di batasan pantai..

Dan jika impian itu harus sirna..

Ada yang sulit, namun kau harus lakukan..

Untuk yang terbaik..

Keikhlasan..

Hingga suatu saat kau akan mengatakan pada dirimu..

“aku sungguh Bahagia.. Syukur pada Tuhan..”

Senandung Malam……….


Puisi ini ditulis oleh pada
17 September 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 3.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

titian langkah terseok menapaki tapak perjalanan ini redup gugusan gemintang menjalar tiada henti ketika aku lari dari nyata.

hai malam……..
kala engkau merasa lelah,
menepilah…..
agar aku mampu merasakan nikmat keheningan perasaan itu..

biarkan mata tetap terjaga dalam beku dingin bumi yang tua, agar kumampu menjaga perasaan ini
tilas_tilas akan menjadi memory dalam sejarah yang berkarat cerita yang mengalir mungkin telahpun buram dan berdebu lapuk seiring waktu melipat masa,
dalam senandung kabut malam yang mengantarkan engkau keperaduanmu….

aku mintakan kepadamu jangan meratap pada gelapnya…. biarkanlah ia lebur bersama gundah yang merajai hati sang malam,
titipkan padanya sepenggal rasa cinta yang tertinggal dan malam akan segera merapat dipenghujung hari setelah ia mengarungi perjalanan yang panjang…

senandung sungai kembali mengalir kukidungkan lagu keabadian ini untukmu semoga engkau terlelap dalam malam yang semkin tua.

Ketika Mata Ketemu Mata


Puisi ini ditulis oleh pada
30 July 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

KETIKA MATA KETEMU MATA
(Puisi III dari Tiga Puisi)

1/
Aku turun dari angkot, masuk ke dalam kompleks perumahan tempat kakakku tinggal. Setelah pertigaan kedua, aku berbelok ke kiri dan berjalan sedikit ke tengah. Dan tiba-tiba mobil Trooper hitam itu berhenti mendadak di depanku.

Aku bisa dengan jelas menatap lelaki yang duduk di belakang kemudi itu. Dan aku yakin ia pun bisa melihatku dengan jelas dari dalam. Mata kami saling beradu.

Aku berpikir cepat dalam waktu sedetik itu. Apakah aku harus melangkah ke samping dan memberinya jalan? Ataukah tetap berdiri dihadapan mobil itu dan membiarkan ia melajukan mobilnya?

2/
Aku melihat wanita itu di kereta ekspres. Pertama kali melihatnya, aku pikir ia seekor anak kucing yang imut, manja dan kinyis-kinyis. Setelah aku mendekatinya, ia sudah menjelma menjadi wanita yang jungkir balik mencari biaya untuk menghidupi keluarganya.

3/
Aku mengenal lelaki itu di kereta ekspres juga. Bercakap-cakap setiap pagi. Kupikir ia seorang lelaki yang baik dan kepala rumah tangga yang bertanggung jawab. Tetapi aku kurang suka kalau ia sudah berbicara tentang barang-barang bermerek yang ia kenakan. Mungkin ia butuh dipuji, sementara aku tidak pernah memuji penampilan seseorang.

4/
Aku memperkenalkan keduanya. Namun seperti kata pepatah, kalau sedang jatuh cinta, jangan jalan bertiga, karena orang ketiga akan menjadi setan.

Pengkhianatan memang selalu datang dari orang dekat. Aku tidak tahu pada saat mana ia menelikungku. Ada wanita yang membutuhkan banyak uang, ada pria yang punya banyak uang. Dan tiba-tiba mereka menghilang seperti bayangan ditelan kegelapan.

5/
Hingga akhirnya kabar angin itu berhembus kencang dan menjadi nyata ketika aku harus menjawab pertanyaan istri lelaki itu. “Apakah wanita ini teman Mas?” katanya bertanya sembari menyorongkan sebuah foto wanita cantik.

Aku tidak mengelak dari pertanyaan itu. Dan setelah itu diikuti serentetan pertanyaan lainnya. Kulihat mata ibu itu basah.

6/
Hidup kadangkala seperti kita membuka pintu. Buka pintunya, masuklah ke dalam dan lupakan bahwa pintu itu pernah ada. Kita tidak bisa memutar balik jarum waktu. Tetapi kita bisa saja bertemu kembali dengan masa silam di masa depan. Siapa yang tahu?

7/
Suatu pagi, masa silam itu ada di dalam angkot bersamaku. Kami sama-sama turun di terminal. Lelaki itu masih sempat bertanya dengan muka manis,”Apa kabarnya? Sudah lama ya kita tidak bertemu?”

Aku menatapnya dingin. Aku yakin aku masih bisa memukulnya jatuh saat itu juga. Namun aku memutuskan untuk tidak melakukannya. “Anda salah menegur orang, saya tidak kenal anda.” kataku singkat dan meninggalkannya.

8/
Dan pagi itu, kembali aku bertemu dengannya. Mata ketemu mata.

Aku menatapnya, sementara ia tetap duduk di dalam Trooper hitamnya. Entah berapa lama. Sampai akhirnya aku melangkah ke samping kiri perlahan-lahan, tanpa melepaskan pandanganku padanya. Mobil melaju perlahan, ia setengah menunduk saat melewatiku.

9/
Apa yang kita dapatkan sekarang adalah hasil dari masa silam, dan apa yang kita lakukan sekarang akan menentukan seperti apa kita di masa depan.

Apa yang kita lihat, apa yang kita perlihatkan, tidak lain hanyalah suatu mimpi dalam mimpi.

Jakarta, 27 Juli 2010

Urip Herdiman Kambali

http://www.theurhekaproject.blogspot.com