Tag: Istri

Membunuh Bayang-bayang


Puisi ini ditulis oleh pada
8 October 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sinar rembulan

mengintip remang, tenggelam dalam

citraan kelam,

seulas ekspresi yang beku

dan sulit untuk dimaknai.

Rembulan , pelita malam

terhempas dalam elegi sepasang tupai malam

menanggung kasmaran.

riuh dan berderai suara-suara saling memburu

berkejaran dalam penyataan cinta atau hasrat untuk birahi.

Dalam temaram bulan setengah bentuk,

membujur meliuk bak sebuah sabit

terbujur pada mega-mega kelam dan langit hitam

sedikit bintang.

Aku ingin membunuh bayang-bayang

sehingga hadir dan menyatakan diri sendiri

di tengah bentang kesepian tanpa

menduakan sosok yang sudah terkoyak

pengkhianatan dan peniadaan pada yang tulus.

Ingin kubunuh bayangku

bersama kegamangan malam yang berserakkan,

tepian cahaya kurobek

kemudian kubuatkan coretan besar

menyerupai sebuah pintu

agar sosok ku terdiri satu

tanpa penduaan, berdiri tegak

tanpa bayang.

Sejenak, masih hening

malam beranjak merayap

dalam kilas cahaya rembulan suram

kulihat malam berkedip jerih

enggan memalingkan muka.

Mungkin karena malam ini

telah kubunuh bayang-bayang

sehingga dia tidak lagi bisa bertahta

dengan sosok nya yang gelap.

(Banten/Juni/2010/Katjha)

Ketika Mata Ketemu Mata


Puisi ini ditulis oleh pada
30 July 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

KETIKA MATA KETEMU MATA
(Puisi III dari Tiga Puisi)

1/
Aku turun dari angkot, masuk ke dalam kompleks perumahan tempat kakakku tinggal. Setelah pertigaan kedua, aku berbelok ke kiri dan berjalan sedikit ke tengah. Dan tiba-tiba mobil Trooper hitam itu berhenti mendadak di depanku.

Aku bisa dengan jelas menatap lelaki yang duduk di belakang kemudi itu. Dan aku yakin ia pun bisa melihatku dengan jelas dari dalam. Mata kami saling beradu.

Aku berpikir cepat dalam waktu sedetik itu. Apakah aku harus melangkah ke samping dan memberinya jalan? Ataukah tetap berdiri dihadapan mobil itu dan membiarkan ia melajukan mobilnya?

2/
Aku melihat wanita itu di kereta ekspres. Pertama kali melihatnya, aku pikir ia seekor anak kucing yang imut, manja dan kinyis-kinyis. Setelah aku mendekatinya, ia sudah menjelma menjadi wanita yang jungkir balik mencari biaya untuk menghidupi keluarganya.

3/
Aku mengenal lelaki itu di kereta ekspres juga. Bercakap-cakap setiap pagi. Kupikir ia seorang lelaki yang baik dan kepala rumah tangga yang bertanggung jawab. Tetapi aku kurang suka kalau ia sudah berbicara tentang barang-barang bermerek yang ia kenakan. Mungkin ia butuh dipuji, sementara aku tidak pernah memuji penampilan seseorang.

4/
Aku memperkenalkan keduanya. Namun seperti kata pepatah, kalau sedang jatuh cinta, jangan jalan bertiga, karena orang ketiga akan menjadi setan.

Pengkhianatan memang selalu datang dari orang dekat. Aku tidak tahu pada saat mana ia menelikungku. Ada wanita yang membutuhkan banyak uang, ada pria yang punya banyak uang. Dan tiba-tiba mereka menghilang seperti bayangan ditelan kegelapan.

5/
Hingga akhirnya kabar angin itu berhembus kencang dan menjadi nyata ketika aku harus menjawab pertanyaan istri lelaki itu. “Apakah wanita ini teman Mas?” katanya bertanya sembari menyorongkan sebuah foto wanita cantik.

Aku tidak mengelak dari pertanyaan itu. Dan setelah itu diikuti serentetan pertanyaan lainnya. Kulihat mata ibu itu basah.

6/
Hidup kadangkala seperti kita membuka pintu. Buka pintunya, masuklah ke dalam dan lupakan bahwa pintu itu pernah ada. Kita tidak bisa memutar balik jarum waktu. Tetapi kita bisa saja bertemu kembali dengan masa silam di masa depan. Siapa yang tahu?

7/
Suatu pagi, masa silam itu ada di dalam angkot bersamaku. Kami sama-sama turun di terminal. Lelaki itu masih sempat bertanya dengan muka manis,”Apa kabarnya? Sudah lama ya kita tidak bertemu?”

Aku menatapnya dingin. Aku yakin aku masih bisa memukulnya jatuh saat itu juga. Namun aku memutuskan untuk tidak melakukannya. “Anda salah menegur orang, saya tidak kenal anda.” kataku singkat dan meninggalkannya.

8/
Dan pagi itu, kembali aku bertemu dengannya. Mata ketemu mata.

Aku menatapnya, sementara ia tetap duduk di dalam Trooper hitamnya. Entah berapa lama. Sampai akhirnya aku melangkah ke samping kiri perlahan-lahan, tanpa melepaskan pandanganku padanya. Mobil melaju perlahan, ia setengah menunduk saat melewatiku.

9/
Apa yang kita dapatkan sekarang adalah hasil dari masa silam, dan apa yang kita lakukan sekarang akan menentukan seperti apa kita di masa depan.

Apa yang kita lihat, apa yang kita perlihatkan, tidak lain hanyalah suatu mimpi dalam mimpi.

Jakarta, 27 Juli 2010

Urip Herdiman Kambali

http://www.theurhekaproject.blogspot.com

Doa Malu-malu yang Setengah Memaksa, Di Usia yang Sudah Kadaluwarsa


Puisi ini ditulis oleh pada
5 July 2010 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 2.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Tuhan,
dengan segala kerendahan hati
aku meminta pada-Mu

Berikan aku kata, kujadikan ia puisi
berikan aku senja, kujadikan ia puisi
berikan aku malam, kujadikan ia puisi
berikan aku mimpi, kujadikan ia puisi
berikan aku hujan, kujadikan ia puisi
berikan aku badai, kujadikan ia puisi
berikan aku bintang, kujadikan ia puisi
berikan aku matahari, kujadikan ia puisi
berikan aku rembulan, kujadikan ia puisi
berikan aku awan, kujadikan ia puisi
berikan aku resah, kujadikan ia puisi
berikan aku sunyi, kujadikan ia puisi
berikan aku angin, kujadikan ia puisi
berikan aku api, kujadikan ia puisi
berikan aku air, kujadikan ia puisi
berikan aku marah, kujadikan ia puisi
berikan aku perang, kujadikan ia puisi
berikan aku senyum, kujadikan ia puisi
berikan aku rindu, kujadikan ia puisi
berikan aku cinta, kujadikan ia puisi
berikan aku cemburu, kujadikan ia puisi
berikan aku perempuan, kujadikan ia istri
berikan aku pelangi, kujadikan ia puisi

Tuhan,
jangan tunda lagi permintaanku ini
karena usiaku sudah kadaluwarsa

Amin!

Sawangan, 24 September 2006 – Jakarta, 25 April 2010

Urip Herdiman K.

http://www.theurhekaproject.blogspot.com

Catatan :
Versi asli puisi ini dibacakan di acara pernikahan Anita Louise
– Anindya Barata pada Minggu, 25 April 2010
di Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Katanya Kau Kawan Setia


Puisi ini ditulis oleh pada
16 June 2009 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (8 votes, average: 4.38 out of 5)
Loading ... Loading ...

dari dunia

kuturunkan wajahku ke buku, dan kau sirna

ah, kau hebat

kehebatanmu adalah keletihanku

aku ingat raibmu tersimpan pada loncatan kucing

kelincahanmu menyelinap pergi menumbuki kepalaku

tapi dalam sepi dunia pun merindu tubrukmu

menempa kakiku jalan ke arah kota

terbelit lalulintas kabel listrik mataku

jika kau tak kunjung menyergapku

aku akan berselancar di tubuh angin saja

kupindahkan angkasa ke mataku yang silau

kusibak cahaya surya, kuraba udara, tiada kau rupanya

meluncuri dinding gedung kantor, aku turun, melamun

kau sembunyi di titik entah, ke sana langkahku sunyi

kuseret gontai langkahku, kuberi kakiku pulang

nanti di rumah akan kubilas semua kepedulian ini

akan kujemur di tali daun-daun saja, itu sikapku

tidur dalam rentang waktu pendek yang penuh sandung

aku dibangunkan oleh sengat pening di kening

aku bangkit dari kekaraman, kupakai bajuku yang lain

dan kejengkelanku pun mengecat kaca komputer

mencarimu selalu saja kudapati mataku sendiri

yang buta.

tahun baru …


Puisi ini ditulis oleh pada
10 October 2008 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (7 votes, average: 3.14 out of 5)
Loading ... Loading ...

tak terasa tahun berganti
tak ada artinya buat ku
seperti hal nya cicit burung di pagi hari
di awal tahun 2008 pun bunyi nya tetap sama

sementara kesabaran kita semakin dipojokkan
keangkuhan malah semakin meninggi seiring bertambahnya usia
religi jadi gamang, di gusur abrasi logika

tahun baru hanya kalender yg baru
itu pun kalender jatah pemberian kantor

beruntung aku punya istri yg baik dan anak yg lucu
walau tak jarang aku kecewakan , mereka tetap tersenyum
waktu ku buat mereka hanyalah waktu sisaan
itu pun kalo ada waktu sisa … kalo ada

oh,
aku disudutkan sang waktu

Aku Dimakamkan Hari Ini


Puisi ini ditulis oleh pada
16 July 2008 dengan 3 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (12 votes, average: 3.92 out of 5)
Loading ... Loading ...

Perlahan, tubuhku ditutup tanah,

perlahan, semua pergi meninggalkanku,
masih terdengar jelas langkah-langkah terakhir mereka
aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah terbayang,
sendiri, menunggu keputusan…

.

Istri, belahan hati, belahan jiwa pun pergi,
Anak, yang di tubuhnya darahku mengalir, tak juga tinggal,
Apalah lagi sekedar tangan kanan, kawan dekat,
rekan bisnis, atau orang-orang lain,
aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka.

.

Istriku menangis, sangat pedih, aku pun demikian,
Anakku menangis, tak kalah sedih, dan aku juga,
Tangan kananku menghibur mereka,
kawan dekatku berkirim bunga dan ucapan,
tetapi aku tetap sendiri, disini,
menunggu perhitungan…

.

Menyesal sudah tak mungkin,
Tobat tak lagi dianggap,
dan ma’af pun tak bakal didengar,
aku benar-benar harus sendiri…

.

Tuhanku,
(entah dari mana kekuatan itu datang,
setelah sekian lama aku tak lagi dekat dengan-Nya),
jika kau beri aku satu lagi kesempatan,
jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu,
beberapa hari saja…

.

Aku harus berkeliling, memohon ma’af pada mereka,
yang selama ini telah merasakan zalimku,
yang selama ini sengsara karena aku,
yang tertindas dalam kuasaku.
yang selama ini telah aku sakiti hati nya
yang selama ini telah aku bohongi

.

Aku harus kembalikan, semua harta kotor ini,
yang kukumpulkan dengan wajah gembira,
yang kukuras dari sumber yang tak jelas,
yang kumakan, bahkan yang kutelan.
Aku harus tuntaskan janji janji palsu yg sering ku umbar dulu

.

Dan Tuhan,
beri lagi aku beberapa hari milik-Mu,
untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta ,
teringat kata kata kasar dan keras yg menyakitkan hati mereka ,
maafkan aku ayah dan ibu ,
mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayang mu
beri juga aku waktu,
untuk berkumpul dengan istri dan anakku,
untuk sungguh sungguh beramal soleh ,
Aku sungguh ingin bersujud dihadap-Mu,
bersama mereka…

.

Begitu sesal diri ini
karena hari hari telah berlalu tanpa makna
penuh kesia-siaan
kesenangan yg pernah kuraih dulu, tak ada artinya
sama sekali mengapa ku sia sia saja ,
waktu hidup yg  hanya sekali itu
andai ku bisa putar ulang waktu itu…

.

Aku dimakamkan hari ini,
dan semua menjadi tak terma’afkan,
dan semua menjadi terlambat,
dan aku harus sendiri,
untuk waktu yang tak terbayangkan…

Diambil dari : http://renirosari.staff.ugm.ac.id/puisi.htm

Surat Cinta


Puisi ini ditulis oleh pada
19 March 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
bagai bunyi tambur yang gaib,
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah,
Wahai, dik Narti,
aku cinta kepadamu !

Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya,
Wahai, dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku !

Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi,
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak kan kunjung diundurkan

Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis
Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta
Wahai, dik Narti
dengan pakaian pengantin yang anggun
bunga-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan
Aku melamarmu,
Kau tahu dari dulu:
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
dari yang lain…
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasa

Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit:
kantong rejeki dan restu wingit
Lalu tumpahlah gerimis
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuta
batgai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jaring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padaku

Engkau adalah putri duyung
tawananku
Putri duyung dengan
suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku !
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku
Wahai, putri duyung,
aku menjaringmu
aku melamarmu

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
kerna langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal
bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya
Wahai, Dik Narti
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku !

++ W.S. Rendra ++

TENDA SEBERANG MAKNA


Puisi ini ditulis oleh pada
25 November 2007 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 3.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

tiga ratus meter seberang jalan menuju perempatan
tenda mega bersulam biru keemasan
dalamnya cuap-cuap manusia
gelak tawa pesta
betapa bahagia!

suara penyanyi orkes terdengar sampai ke tenda murah
di depan sebentuk rumah
bendera hitam diikat di tiang listrik
tak jauh dari tenda biru keemasan berisik

satu tenda menyanyi
lain tenda mengaji

satu tenda bersuka
lain lagi berduka

-siang mencucukkan tanya pada terpaku mataku-

Padang, 2007

hari menjelang tenang


Puisi ini ditulis oleh pada
11 January 2007 dengan 7 Komentar
Rating Puisi : 1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (belum ada)
Loading ... Loading ...

hari menjelang tenang

badan ku lelah
seperti di hantam godamnya sang bima
kaki ku. kaki ku, bergetar
seakan bumi ini bergempa

saat nya pulang
lihat anak dan istri tercinta menanti

ayah bawa apa ? tanya anak ku
istri ku yang cantik hanya tersenyum
dengan malas aku menjawab
ayah hanya bawa pisang goreng, untuk neng

selalu saja begitu
setiap hari tidak ada sesuatu yang hebat yang dapat ku bawa pulang

tapi meski pun
anak ku masih melompat ke girangan
dan istri ku yang manis menyuguhkan ku teh hangat

terimakasih

Puisi kiriman dari : maaf datanya masih dicari

Kolaburasi Senja Cinta


Puisi ini ditulis oleh pada
13 December 2006 dengan 0 Komentar
Rating Puisi : 1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (belum ada)
Loading ... Loading ...

menatap semburat senja
begitu lama kami tak jumpa
kunikmati sepuasnya
kutimang-timang
kusayang-sayang
kuserap di dadaku
kulukis jadi puisi

sekarang jadi sudah,
kurangkai menjadi bunga
merah sekali warnanya

biar sempurna
kubumbui serbuk rindu di atasnya
semerbak sekarang baunya

cantik sekali dia kini
kutimang-kutimang
kusayang-sayang
kuhadiahkan pada istriku,
yayangku*, cintaku

wajahnya sumringah
merah muda bersemu
di kulit wajahnya
yang bersih merona

diciuminya bunga itu sepenuh haru
diberinya aku sebuah ciuman mesra
lalu dia bilang
“Ahh…sayang terimakasih ya,
sayang gombali aku lagi dong! pleaseeee… !”**
nadanya penuh rayu
sambil bergayut manja

aku tersenyum
kutatap senja yang masih merona
senja juga sedang menatapku
aku mengerling padanya,
dia juga membalas hal yang sama
tangan kamipun saling memberi tos***
tanda suksesnya misi kami hari ini

puisi tersenyum menatap kami,
mesra penuh arti

Epri Tsaqib 7 Desember 2006
*Yayang = Panggilan sayang untuk kata sayang kepada istri (saya :) )
**Please = kumohon
***Tos = istilah untuk saling menepuk tangan
yang dilakukan oleh 2 orang
http://epriabdurrahman.multiply.com/reviews/item/24