Tag: gunung

Jeritan Hampa


Puisi ini ditulis oleh pada
28 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 3.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Rasa ini menjerit
Hati ini sakit perih tak tampak
Batin ini bingung tak menentu
Namun semua tertahan tak dapat menyeruak
Tak ada yang tau, tak ada yang peduli
Tak ada yang mendengar jeritan hampa ini
Disini…
Senja tak menyapa Gunung n hamparan airpun tak mendengar
Jeritan nada yang terkalahkan oleh deburan teriakan ombak menghempas karang,,,
Aqw tertawa dalam kekalutan, aqw tertawa dalam hinaan diri
Aqw terenyuh diam tak menatap
Tatapan hamparan lautan kosong dengan patahan harapan
Aqw terdiam membisu hanya dengan air mata.

From: Nidya [niid_09@xxx]

Merindukan Gerak


Puisi ini ditulis oleh pada
14 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 3.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

Wahai betinaku..

di bawah langit biru

bergaun merah soga,

engkau

terdiri tegak dengan rambut terurai

ada sepasang kembang sepatu

berwarna coklat muda terselip di kedua daun telingamu

seolah tercerahkan senyummu yang terlampau manis.

 

Ketika pandang dari sosokmu,

menerpa wajahku,

aku bayangkan diriku adalah bukit karang menjulang

dari deretan gugus-gugus karang

di pantai yang terjal dan berombak ganas.

 

Wahai betina dengan senyum bunga matahari,

terpa aku dengan rona-rona cerah,

setelah itu datangkan prahara yang besar

menghantam keras bukit karang yang angkuh ini,

kemudian datangkan ombak yang besar dan paling ganas,

agar kebisuan yang terbangun musim demi musim

dapat lebur terbawa air laut, menjadi butir-butir

pasir yang akan engkau jumpai

beberapa abad kemudian di pantai

engkau menjelma menjadi perempuan suci.

 

Pandangku adalah kata

untuk hatimu yang selalu terjaga;

usik aku dengan kerinduan hingga bergeming

dan merelakan diri melebur dan mengambil

bentuk hidup

yang paling engkau cintai..

aku ada untuk hidupmu yang merindukan

ketegaran.

 

(Gunung Kidul/Februari/2011/Katjha)

Ketika Hujan Tiap Sore


Puisi ini ditulis oleh pada
17 September 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 4.80 out of 5)
Loading ... Loading ...

Semilir angin pegunungan

mengalun dingin

rintik-rintik renggang

menjadi banyak…

jatuh menjadi hujan pada

tanah-tanah yang sudah basah.

Bunyi air jatuh dari atap rumah-rumah

khas daerah sunda, terdiri mengelompok.

Rintik hujan berlomba dengan air jatuh dari pancuran atap,

membuat sore ini begitu hening.

Seorang bapak tua yang berteduh disampingku

berkata padaku

“jang, di sini kalau sore memang selalu hujan”

“lihatlah kabut yang turun dari bukit batu di atas,

itu adalah teman kami di waktu sore”

Aku hanya terdiri di bawah atap beranda sebuah rumah

hanyut dalam rintik-rintik yang mulai mengecil

bersama kabut yang mengalun lembut, dingin dan tampak mempesona,

dimana sepiku tersangkut

pada hujan sore yang riuh

membawa kedamaian hati.

Heningku tertambat, terjaga

kemudian hati ini beranjak merasa lagi

terpikir untuk pulang ke pondok

menyeberangi hujan sore ini dengan hati yang ikhlas

akan airnya yang dingin

kabut yang meremangkan pandang

dan tanah licin becek yang mengotori kaki

Ketika hujan sore …

memberkas segurat kesadaran

untuk hidup dengan cara yang beda

percaya pada hasrat, pada

naluri berpikir untuk hidup.

(Garut/Untuk sahabatku Tono&Yanto/Februari 2010/Katjha)

Bunga-bunga Kopi Menebar Senyum


Puisi ini ditulis oleh pada
17 July 2009 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 3.75 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kala itu waktu pagi yang remang
dan masih berselimut kabut.
sebuah penggunungan yang sepi dengan kebun-kebun kopi,
masih sepi …
hening dan tiada keraguan untuk menyambut pagi
bagi sepasang capung merah yang bersiap terbang di langit biru.
“sekarang adalah musim kopi”
“besok pagi singgahlah ke pondok kebun kami,
akan kuhidangkan kopi terbaik tahun lalu”
setelah itu pastinya akan kau ceritakan tentang kebersamaan
kita yang tinggal kenangan.
pagi ini, kau sambut aku di depan pondok kebun kopimu
kau tersenyum, melambaikan tangan sambil berkata
“singgahlah..barangkali dengan secangkir kopi
bisa mencairkan kebekuan yang setelah kita lama berpisah”
Sesaat … semua hening, kemudian beranjak
riuh oleh suara burung-burung liar.
Sejenak bertemu pandang, bertukar jejak kenangan pada
pelupuk mata,
engkau tersenyum manis padaku, terlihat aku tergetar
oleh senyum yang sama tiga tahun lalu.
“Bunga-bunga kopi tiga bulan yang lalu telah tersenyum padaku,
aku tahu engkau akan kembali”
“aku percaya cinta yang tulus tidak akan terpisahkan
hanya karena ketidakdewasaan kita”
“kini temanilah aku memetik biji-biji kopi di kebun ini,
semoga di musim yang akan datang, jika bunga-bunga kopi
tersenyum, itu adalah karena kita telah bersama kembali”
Sesaat hening, di luar mentari merambat naik.
sementara aku terlarut dalam kegamangan,
menunda untuk berkata, berpikir dan merasakan
apa yang terjadi, sementara
senyumnya tiada putus menghiasi sosoknya yang
anggun dengan kecantikan yang tulus.
Dalam hati aku berkata “sialan,
kenapa aku harus jatuh cinta lagi”

(kepada Dian_W/Oktober 2007/Katjha)

To Dinda


Puisi ini ditulis oleh pada
2 May 2009 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (13 votes, average: 3.77 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kepada Yts.
Dinda
di
Bumi yang Tak Lagi Biru

Dear Dinda,
kualamatkan rindu padamu
dengan ulin di pojok kiri amplop
juga salam dari almarhum hutan belakang rumah

Dind,
tadi malam rumah kita dikubur orang
ranjang, foto dan selimut kita rusak
belum lagi deru gergaji mesin
melibas meranti tua
lalu dahan kurus dengan berjuta toreh ditebas
paginya kudapati janda kaya meneguk kopi di balkon kondominium

Dind,
sejak itulah aku mengembara
lalu kuingat dongengmu tentang orang luka
yang menggedor langit sepanjang malam
memohon iba
Kini aku benar seperti itu

Dind,
di tengah pengembaraan kutahu debu-debu
telah merenggut kesunyian
lalu nyanyian dara riang
dan pekik rindu sang kekasih
termakan ombak peradaban

Karena itulah Dind,
tiada lagi gadis tersipu
kita bicara dengan teriak
bukan ucapan sopan ajaran sekolah
dan entah berapa banyak lelaki mabuk
bercinta dengan bulan di balik semak

Tahukah kamu, Dind
gara-gara itu malaikat kesal
karena manusia memaksa mengores tinta busuk
di rapor kusam sejak akil balig
karena sungguh dini mereka kenal dunia
tak tahu paut benar, juga tanda berhenti

Dind, sungguh aku tak habis pikir
kenapa semua itu terjadi
bukankah ada karma, ketika hidup runtuh
bersama terjungkalnya tanah retak
bumi bergetar dan orang khilaf semakin menengadah
ingat kealpaan mendekatkan diri ke neraka
sehingga keturunan manusia
hanya tahu rasa arang dan debu-debuan

Karena itulah Dind,
aku sungguh rindu padamu
rindu akan hidup kemarin
ketika aku dan kamu bermandi cahaya
ketika badak habiskan masa liar
dan harimau jawa mendengkur di balik belukar
dan tidakkah kau dengar ada punai bernyanyi
mengiring tarian pinus seberang gunung

Dind, juga tak rindukah kau
Ketika kabut mengajak kita bermain di kala fajar
Namun belum lama kita bermain
Ibu mentari mengajak kabut pulang
Kita pun menangis
Air mata kita menjadi embun
Menetes pelan ke pucuk dedaunan
Namun ibu mentari sungguh bijak
Segera beliau hapus tangis kita dengan cahyanya

Di ujung rindu
pada Dindaku di bumi yang tak lagi biru
tidakkah kau rindu padaku?

BIARLAH


Puisi ini ditulis oleh pada
25 April 2009 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

bila harus kudaki gunung tertinggi takkan itu menghentikanku bila harus kuarungi samudera di bumi takkan berhenti ku mencintai  walau jalanku padamu berliku takkan berpaling ku darimu walaupun waktuku hanya ‘tuk menunggu sungguh kurela seumur hidupku   biarlah cintaku selalu untukmu walaupun hatimu bukan untukku biarlah setiaku hanya padamu sungguh ku tak mau selain dirimu

Negeri Meradang


Puisi ini ditulis oleh pada
1 February 2009 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 2.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Negeri ini mengaku beradab tapi sering biadab menyebar asap,
asap begitu membumbung tapi dimana bara api,
tak disangka tersimpan di dalam hati
sesak paru-paru penduduk seperti dicekak
seringkali tertelan sendiri gumpalan dahak di ujung tekak
mulut pengap, nafas tak sedap, berkecap seperti melahap

Negeri ini mengaku bersatu, tapi sering berseteru menebar debu
debu begitu menggunung tapi dimana angin berarak
tak disangka terhembus di dalam benak
pedih mata penduduk seperti dicucuk
seringkali tergenang sendiri aliran air mata di pelupuk
hidung mampat, ingus membatu, bernapas seperti membeku

Negeri ini mengaku berdemokrasi, tapi sering beraksi melempar batu
batu begitu menumpuk tapi dimana kerakal
tak disangka terganjal di dalam akal
sakit tenggorokan penduduk seperti dibeler
Seringkali tersedak sendiri getaran suara di leher
kerongkongan gosong, batuk mengejan, berbicara seperti mengigau

Negeri ini perlu udara segar……

semua tentang aku…


Puisi ini ditulis oleh pada
26 October 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (8 votes, average: 4.38 out of 5)
Loading ... Loading ...

Aku adalah mentari yang menghangatkan

Aku adalah hujan, pembawa berkah dan pesan

Aku adalah bulan, bersinar lembut dan menenangkan

Aku adalah bintang penunjuk arah

Aku adalah bebatuan alam, saksi bisu

Aku adalah air pemberi kehidupan

Aku adalah gunung sumber kedamaian

Aku adalah padang rumput hijau pemberi makanan

Aku adalah hutan tropis, sumber kekayaan

Aku adalah kabut, yang memberi perlindungan

Aku adalah udara tanpa rasa

Aku adalah angin menyejukkan

Aku adalah tanah tempatmu berpijak

Aku adalah jawaban……

Pada akhir nanti….

Akulah jawabanmu…..

Saat bintang tak tampak bersinar..

Sinarku kan temanimu…

Saat kau goyah di tengah ketidakpastian..

Aku kan menjadi pijakkanmu…

Aku kan di sini menunggumu..

Sementara kau berkelana dengan waktu..

Sampai hari itu tiba…

Dimana pagi membangunkan tidurmu..

Dimana malam tak bersahabat telah pergi kau tinggalkan

Saat itu..

Kita kan bersama sama di tempat tersebut….

Dimana kita yang terpisah disatukan kembali..

Menjadi bagian dari unsur dunia seutuhnya….

Aku bagian dari alam…

Dan kupercaya…

Dirimu juga bagian dari semua itu…..

Semua tentang aku….

Mentari MOwgli 2008

senyum..


Puisi ini ditulis oleh pada
26 October 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 4.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

Senyum…

Senyum bagai air di pegunungan..

Senyum bagai air pelepas dahaga..

Senyum bagai kerinduan seoang kekasih..

Senyum bagai titisan sang dewi….

Senyum yang menyembuhkan..

Senyum yang memberikan kekuatan..

Senyum yang melunakkan..

Senyum yang meruntuhkan dunia…

Senyum yang meringankan semua…

Senyum yang mampu atasi dunia ini..

Senyum pula..

Yang membawaku padamu…

Senyum juga..

Yang membawa dirimu padaku..

Senyum pun bicara…

Bahwa kita tak sendiri..

Bahwa smua menyayangi..

Bahwa smua dapat diatasi..

Bahkan…senyum pun bicara…

Betapa kau berharga untukku…

Betapa ku tetap menunggumu…

Betapa berharganya engkau untukku….

Betapa kumerindukan dirimu..

Betapa kasih ini tetap setia…

Senyum..dan senyum..

Senyum yang indah..

Senyum yang tulus..

Senyum dari dalam jiwa..

Senyum tidak di mulut..

Tapi senyum di hati…

Saat jiwa tenang..

Saat semua menjadi satu kesatuan..

Saat alam semesta menyatu dalam diri..

Senyum ada di sana…

Senyum yang lembut…

Senyum yang halus…

Membawa dalam angan – angan lembut..

Membawa dalam tekad yang terkuat..

Senyum…

Suatu kekuatan dalam kehidupan…

Cahaya di tengah kegelapan malam..

Hidup dalam suatu kesunyian..

Senyum..

Hanyalah senyum..

Obat dari segala obat…

Tersenyumlah…

Dunia menunggu kita..

Menghadapi dan menantang semua..

Semua .. dan semua…

Dengan senyuman…….

Mentari MOwgli 2008

Anak Gunung


Puisi ini ditulis oleh pada
16 September 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (9 votes, average: 3.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sepasang mata burung awasi kami dari gunung
Sesaat lenyap melekat pada kulit-kulit kayu yang murung
:langit berubah warna
Warna api dan asap-asap mimpi

Sepasang batu kali dari mata air kami jadikan kalung
sesaat bening terkena air mata penjaga hutan yang mati bertarung
:tanah berubah dingin
Dingin kabut dan matras-matras butut

Malam ini kami berbicara
Melingkar membakar lelah untuk dijadikan bara
Malam ini kami penuh dahaga
Berbaring mengecap titik-titik air langit yang berjelaga

Biarkan kami habiskan malam
Bersama pekat dan bintang bintang bisu
Biarkan juga kami bercengkrama dengan alam
Bersama lagu dan pohon-pohon yang tertidur lesu

(terasa angin jilati kuping-kuping kami)

Sementara kami bersedih
Mengingat kawan mati oleh sepasang mata burung

(langit tak lagi bersedih tapi malah meludahi kami)

Sunyi seketika berbunyi
Langkah-langkah kaki berlari
Berjejal tubuh-tubuh basah dalam tenda kami

(Malam tak restui kami mengingat kawan-kawan yang telah mati. Langit masih meludah, api masih menyala, pohon-pohon masih tertidur dan sepasang mata burung masih terjaga)

Wizurai,