Tag: dia

Bahagia Pada Akhir Cerita


Puisi ini ditulis oleh pada
20 August 2011 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (21 votes, average: 3.76 out of 5)
Loading ... Loading ...

Semua berawal dari sebuah frasa
Ketika sebuah canda mengukir senyum
Frasa itu datang menulis sebuah cerita
Yang mengalir dalam sungai kehidupan
Tak banyak berjudul namun entah bermakna

Frasa itu datang dari beda
Bila aku pria maka dia wanita
Sungguh pertama takutku menyakiti
Seakan langkahku menghantui
Dirinya yang selalu saja ada
Senyumnya yang selalu mempesona

Frasa itu mulai membebani
Ketika hidup ini tak berhenti mengalir
Permasalahan lain mulai saling berganti
Sementara frasa ini mulai memenuhi
Hingga pada akhir sadar kejamku
Sang pengecut mulai berlari darimu
Itulah aku dengan segala rendahku

Kuharap dia yang baru
Yang selalu mengharapkanmu
Meski aku lebih dulu
Namun dia selalu menatapmu
Tak seperti aku yang menciut selalu
Dia sahabatku mungkin yang terbaik untukmu
Meski frasa ini tetap ada padaku
Kuharap ceritamu berakhir bahagia dengannya
Wahai sahabatku kukorbankan frasa ini untukmu
Bahagialah pada akhir ceritaku yang sendu

“RINDU”


Puisi ini ditulis oleh pada
11 May 2011 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (13 votes, average: 3.92 out of 5)
Loading ... Loading ...

Rindu ini datang dengan perlahan
Dia bertandang disaat malam yg beku
Dia menjelma pada mimpi mimpi yg menyakitkan
Dia berbisik, berkata, lalu berteriak tentang kenyataan
Dia hantui tiap kesendirian

Rindu ini datang semakin nyata
Dia membawa seribu khayalan kosong
Lantas dia ejekkan apa yang ada
…..MENYAKITKAN…!!!

Eko Nuryadi
Bumi Allah -Surabaya 16 februari 1991

Rintihan Kerinduan


Puisi ini ditulis oleh pada
9 April 2011 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 3.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

Disini tempat kuperpijak dan menari-nari
adalah tempat terindah bagi mereka semua
tapi tidak bagiku
tidak bagiku yang telah kehilangan separuh dari jiwaku

semua seperti gula yang tak terasa manisnya
dan air yang tak menghilangkan rasa haus
hidupku seakan tiada makna
hanyalah sebuah presepsi orang
jika aku bahagia dengan berbagai gemerlap harta
namun sepi dalam batin dan jiwa

Tiada yang mampu untuk mengisi dan menghiasinya
Dia yang tercinta telah jauh pergi
Membawa seribu janji dari bibirnya yang indah

Dia telah bersatu dengan penciptanya
yang meninggalkan aku yang sangat mengharap peluk hangatnya
meninggalkan semua keindahan yang akan aku berikan

aku mencoba tertawa dalam tawaku
mencoba menahan air mata kesedihan yang memilukan
tidakkah aku sadar sayang…
setiap hari aku hanya mampu berbicara dengan sebongkah batu nisan
yang disana terukir indah namamu yang selalu aku indahkan

sepenggal untuk sejumput bunga rumput


Puisi ini ditulis oleh pada
5 April 2011 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 4.75 out of 5)
Loading ... Loading ...

saat masih benih aku tak tahu dia ada
saat masih kecil aku tak mengindahkannya
saat sudah mulai merekah aku berpura-pura mengamatinya

tapi aku tak tahu mengapa aku menangis saat dia mati…….

From: mirsabayu [mirsabayu@xxx]

Bingkai Malam


Puisi ini ditulis oleh pada
19 March 2011 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (7 votes, average: 3.57 out of 5)
Loading ... Loading ...

Untukmu aku bertanya.
Tentang relung itu, relung malam
di pelupuk mentari.
Betapa aku berkali-kali hanyut melodi senjamu.
Untukmu juga, lihat pundak itu
pundak retak bingkai malam.
Betapa retaknya membuat relungku terjungkal.

Untukmu,
di bingkai malam ini rembulan bergurau.
Dia kata tetes permatamu biru.
Biru, benar, layaknya tiraimu,
Tirai hatimu membiru terhempas rembulan.

Andai engkau tahu.
Biorama irama malam penuh tanya.
Aku kira ini malam panjang.
Dan aku merasa, mungkin
sengaja ia tutup persegi cahaya, lagi
dengan tirai permata biru, seakan ingin
relung senyum mu tak lekas lepas
dari bingkai malamku.

From: Febrian tegar wicaksana [febriangpa@xxxxx]

Antara Aku, Dia dan Lagu “Remang-remang”


Puisi ini ditulis oleh pada
2 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 3.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

*)Jalanan, sebuah tepian pantai utara jawa

 

Senja beralih malam,

namun waktu yang beranjak lambat

menunda keremangan bersaput pekat

bersama lampu-lampu merkuri pinggiran jalan

pantai gelap,

kelap-kelip lampu kapal dan rumah-rumah

tepian pantai.

bersanding;

gelap hitam  remang-remang.

 

*) Trotoar pinggiran pantai

 

Aku dan Dia

tenggelam dalam remang senja beranjak malam

tenggelam dalam riuh bunyi

kendaraan lalu lalang melintas jalanan tepi pantai

 

Aku dan Dia ke sini bukan untuk saling diam

bukan untuk hanyut dalam panorama

pantai pelabuhan nelayan-nelayan kecil

bukan untuk mendengarkan riuh kendaraan lalu lalang

bukan juga untuk memperlihatkan diri sebagai sepasang

burung belibis yang bermesraan di tepi pantai.

 

Aku dan Dia

berjumpa hati dan bertatap kerinduan

dan mengawali setiap senyum diantara

Aku dan Dia dengan hati yang tulus untuk

saling mencintai.

 

*) sepi kebisuan dan hanyut suasana, pecah

 

Dia berkata; “mari kita nyanyikan lagu”

sejenak aku menatap senyum di bibirnya

dan tatap mata beningnya.

“lagu apa ?”

Dia menatap tersenyum; “lagu Remang-remang,

masih ingat kan ? ”

Aku masih ingat, lagu itu kesukaan almarhum Gus Dur.

 

“Ayo kita nyanyikan bersama”

sambil dia melangkah ke arah tepian trotoar

yang menghadap kelaut.

“ayo kita nyanyikan lagu Remang-remang”

Dia duduk menghadap ke jalanan ..

 

Kuhampiri Dia, duduk bersama menghadap jalanan

sejenak bertatap dengan senyum ditahan

kemudian pecah tawa-tawa kecil.

 

Aku dan Dia menyanyikan lagu Remang-remang

mengalun lembut, kadang tenggelam dalam

deru jalanan.

 

pecah rindu dalam keriangan

remang lampu dan angin sepoi jalanan pantura.

 

Akhir lagu bukan lirik yang habis

akhir lagu adalah Aku dan Dia yang tersenyum,

saling tatap .. dengan hati yang saling tertaut

cinta dan kasih sayang.

 

Di seberang jalan,

sebuah kelenteng yang menghadap ke laut

di depan menyala sepasang lampu lampion merah

bergoyang di tiup angin pantai.

seolah menyapa kebersamaanAku dan Dia

ingin menyimpan kisah Aku dan Dia

dalam setiap kelip dan nyala merah

sebagai simbol kebahagiaan.

 

(Tuban, Oktober 2010/Katjha)

Kereta Senja Kedua…


Puisi ini ditulis oleh pada
26 December 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (11 votes, average: 3.36 out of 5)
Loading ... Loading ...

Naluri tengadah…
ada bening disudut mata
terjatuh dan pecah…

Seraut wajah pucat, membawa raga berjalan tergesa…

Ada gerih disudut hati..

Seiring nyanyian angin gersang yang menawarkan kidung kerontang…

Dia berdiri diatas trotoar tua…
menantikan kereta senja yang dulu membawa kekasih pujaan hatinya mengembara…

Tiada sungging disudut bibir..
hanya gumam lirih

Sembari menghitung bait-bait datang dan pergi bersama ranting berpatahan..

Sementara jemari keriput kian berkeringat rindu…

Jam tujuh empat belas purnama kedua..

Dia masih bertahan…
Bertahan dari keputus asaan…
Bertahan dari ketidakpastian…

Sejauh angan berharap…
Kereta senja…
tiada jua kunjung tiba membawa pulang kekasih pujaan hatinya…

Ntahlah…
Akankah penantiannya akan berakhir ataukah banyak…

Dan aku akan tetap menjadi pengamat sejati…

_Lembayung_

Duka Yatim-Piatu…


Puisi ini ditulis oleh pada
17 November 2010 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (38 votes, average: 3.68 out of 5)
Loading ... Loading ...

sejak dia terlahir kedunia
hidup yang ditahu hanyalah seonggok penderitaan

juga kesepian yang selalu menemani hati,

tiada mengenal cinta, kasih dan sayang
dari ayah dan bunda yang mengukir jiwa

nasib yang malang dialaminya
dikucilkan dari pergaulan karib sebaya

diibarat sudahlah jatuh masih tertimpa tangga

siapa kini merasa iba
dari jiwanya yang gersang…
tiada seorangpun mendekat memperkenalkan diri padanya…

siapa yang salah…?!
jikathatinya membeku tak kenal haru…

wajahnya angkuh tanpa senyuman..
sekeras baja tak bisa ditekuk..
sekokoh karang tak bisa digoyang…

harus bagaimana kini…
mendengar penjelasan dia tak mau mengerti…

menerima pendapat dia tak mau tahu…
memahami orang lain tak pernah dikenal…

dia selalu dan senantiasa ada dalam kesepian…
sendiri…
sunyi dan sepi….

antara dia dan kata “kembali”


Puisi ini ditulis oleh pada
23 July 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (10 votes, average: 4.10 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sebahagian waktuku hilang, ini benar benar menghilang…

ntah di mana,tapi aku mencoba untuk tenang..

tenang,dan tenang ,sampai suatu saat dia datang..

bukan sebagai bintang ,yang menyentuh ku dengan begitu terang..

juga bukan bulan ,yang melihatku dengan sangat benderang…

dia hanya menyapa,tapi itu terlihat tak biasa.

Dan Aku juga mencoba menyapa dia, tapi itu yang tak ku bisa.

Atau Mungkin belum ku coba.

Aku bukan berjalan tanpa mata.

Aku melihatnya ,sungguh melihatnya.

dia bukan hanya sekedar cerita.

Dia nyata.dan dia ada..

Dan kini dia tiada..

benar,,,memang benar dia hanya menyapa.

Tapi aku merasa,dia ada walau pun tiada.

Andai dia kembali ,aku ingin lahir seperti..

Seperti daun,yang berjatuhan di taman yang mencoba untuk menenang kan,

Andai dia kembali ,aku ingin lahir seperti .

Seperti badut yang mencoba menghibur walau melelahkan.

Andai dia kembali,aku ingin lahir seperti.

Seperti merpati yang selalu setia dan tak tergoyahkan.

Tapi seandainya dia tak akan pernah kembali?

Mungkin aku akan lahir seperti ikan,yang mudah untuk melupakan.

Atau Mungkin juga aku akan lahir seperti penyair yang tetap mencintai walaupun di lupakan.

Apakah kata kata “kembali” terlalu jauh bagimu?

Apakah raut wajahku terlalu mudah untuk dihapuskan olehmu?

“Tersenyumlah” mungkin itu yang akan kau ucapkan.

Tapi tidak, aku tidak bisa. semua telah hilang sesaat kau menghilang.

Namamu adalah senyuman , sentuhan mu adalah kenangan.

Dan bagai mana bisa aku terbiasa..

Tapi…terimakasih atas waktu yang begitu singkat..

Kau merubah perjalanan ku yang semestinya berat.

Aku tau di dalam hati ini namamu akan menjadi pekat,dan tambah pekat .

Terimakasih…

dan aku tersenyum ….

Sisi Jiwa Yang Tak Pernah Pupus


Puisi ini ditulis oleh pada
5 July 2010 dengan 0 Komentar
Rating Puisi : 1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (belum ada)
Loading ... Loading ...

Merana ku di penghujung akal ku
Lemah tak diasah dan seketika hilang tak berbisik
Sunyi ini menyenandungkan perih
Perih akan jiwa yg terlupa

Sebuah tokoh yg hidup tanpa peran
Sebuah jiwa yg limbung dan tak mapan

Jiwa yg rindu akan warna langit
Jiwa yg rindu akan warna hidup

Gemerisik sajak sesekali membangunkan benak
Tak banyak namun mampu membuatnya berlongitudinal dalam akal

Ini adalah seni yg gigih
Ini adalah yg terlupa
Kemonotonan sekalipun tak mampu membunuh insting seorang penyair

Sekalipun ia ingin…

Sebuah peranan jiwa kembali bangkit dibalik asanya yg bergejolak
Sekali lagi dia berdiri sebagai pribadi teguh yg merdeka
Tak dapat lenyap dan dilenyapkan
Dia masih disana menghantui hidupku

Menghantui setiap masaku..

Selamat datang wahai penyair…

Selamat berdiam di dalam sisi hidupku yang lain…

yanny widjanarko [yuvani99@....]