Tag: delman

jiwa yang sepi


Puisi ini ditulis oleh pada
8 March 2011 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (13 votes, average: 4.23 out of 5)
Loading ... Loading ...

dalam ketidakberdayan ku
dalam ketidakpastian mu
dalam kediaman ku dan
dalam kebisuan mu membuat
semua jalan tanpa akhir
dalam ragaku dalam ketidakpastian mu
ku terus berharap akan datang hadir mu
ku persembahkan satu cinta buat mu

From: enda [pb.hendra@xxxx.com

Antara Aku, Dia dan Lagu “Remang-remang”


Puisi ini ditulis oleh pada
2 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 3.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

*)Jalanan, sebuah tepian pantai utara jawa

 

Senja beralih malam,

namun waktu yang beranjak lambat

menunda keremangan bersaput pekat

bersama lampu-lampu merkuri pinggiran jalan

pantai gelap,

kelap-kelip lampu kapal dan rumah-rumah

tepian pantai.

bersanding;

gelap hitam  remang-remang.

 

*) Trotoar pinggiran pantai

 

Aku dan Dia

tenggelam dalam remang senja beranjak malam

tenggelam dalam riuh bunyi

kendaraan lalu lalang melintas jalanan tepi pantai

 

Aku dan Dia ke sini bukan untuk saling diam

bukan untuk hanyut dalam panorama

pantai pelabuhan nelayan-nelayan kecil

bukan untuk mendengarkan riuh kendaraan lalu lalang

bukan juga untuk memperlihatkan diri sebagai sepasang

burung belibis yang bermesraan di tepi pantai.

 

Aku dan Dia

berjumpa hati dan bertatap kerinduan

dan mengawali setiap senyum diantara

Aku dan Dia dengan hati yang tulus untuk

saling mencintai.

 

*) sepi kebisuan dan hanyut suasana, pecah

 

Dia berkata; “mari kita nyanyikan lagu”

sejenak aku menatap senyum di bibirnya

dan tatap mata beningnya.

“lagu apa ?”

Dia menatap tersenyum; “lagu Remang-remang,

masih ingat kan ? ”

Aku masih ingat, lagu itu kesukaan almarhum Gus Dur.

 

“Ayo kita nyanyikan bersama”

sambil dia melangkah ke arah tepian trotoar

yang menghadap kelaut.

“ayo kita nyanyikan lagu Remang-remang”

Dia duduk menghadap ke jalanan ..

 

Kuhampiri Dia, duduk bersama menghadap jalanan

sejenak bertatap dengan senyum ditahan

kemudian pecah tawa-tawa kecil.

 

Aku dan Dia menyanyikan lagu Remang-remang

mengalun lembut, kadang tenggelam dalam

deru jalanan.

 

pecah rindu dalam keriangan

remang lampu dan angin sepoi jalanan pantura.

 

Akhir lagu bukan lirik yang habis

akhir lagu adalah Aku dan Dia yang tersenyum,

saling tatap .. dengan hati yang saling tertaut

cinta dan kasih sayang.

 

Di seberang jalan,

sebuah kelenteng yang menghadap ke laut

di depan menyala sepasang lampu lampion merah

bergoyang di tiup angin pantai.

seolah menyapa kebersamaanAku dan Dia

ingin menyimpan kisah Aku dan Dia

dalam setiap kelip dan nyala merah

sebagai simbol kebahagiaan.

 

(Tuban, Oktober 2010/Katjha)