Tag: citraan

Membunuh Bayang-bayang


Puisi ini ditulis oleh pada
8 October 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sinar rembulan

mengintip remang, tenggelam dalam

citraan kelam,

seulas ekspresi yang beku

dan sulit untuk dimaknai.

Rembulan , pelita malam

terhempas dalam elegi sepasang tupai malam

menanggung kasmaran.

riuh dan berderai suara-suara saling memburu

berkejaran dalam penyataan cinta atau hasrat untuk birahi.

Dalam temaram bulan setengah bentuk,

membujur meliuk bak sebuah sabit

terbujur pada mega-mega kelam dan langit hitam

sedikit bintang.

Aku ingin membunuh bayang-bayang

sehingga hadir dan menyatakan diri sendiri

di tengah bentang kesepian tanpa

menduakan sosok yang sudah terkoyak

pengkhianatan dan peniadaan pada yang tulus.

Ingin kubunuh bayangku

bersama kegamangan malam yang berserakkan,

tepian cahaya kurobek

kemudian kubuatkan coretan besar

menyerupai sebuah pintu

agar sosok ku terdiri satu

tanpa penduaan, berdiri tegak

tanpa bayang.

Sejenak, masih hening

malam beranjak merayap

dalam kilas cahaya rembulan suram

kulihat malam berkedip jerih

enggan memalingkan muka.

Mungkin karena malam ini

telah kubunuh bayang-bayang

sehingga dia tidak lagi bisa bertahta

dengan sosok nya yang gelap.

(Banten/Juni/2010/Katjha)

Kepada Para Pelukis Cahaya


Puisi ini ditulis oleh pada
9 December 2009 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (8 votes, average: 3.75 out of 5)
Loading ... Loading ...

Merah tergurat

berkas kuning mengalun

menuju putih tergambar pada latar biru

dan titik-titik hijau.

Pelukis cahaya hadirkan pagi

dalam bentang kanvas beberapa jengkal,

merangkum semesta yang terbangun dalam permainan warna.

Saat engkau tergetar

imaji berpacu dengan peluh penglihatan

kemudian terbentuk rona dan citraan kecerahan.

Dimanakah engkau sembunyikan malam

dengan kelamnya jika dalam benakmu

selalu terbayang cahaya

yang menghadirkan segala sesuatu tampak indah.

Pelukis cahaya

engkau pernah berkata padaku

“gelap adalah bayang dan kecerahan yang tertunda”

Karena aku melukis rona dan citraan yang telah tercerahkan

oleh cahaya.

Aku ingin membawa mereka

kepada kenyataan yag apa adanya,

tanpa selubung bayang.

Melukis cahaya adalah kejujuranku pada yang tampak dan menampakan watak, kepada yang menggugah imajiku

demikian  aku menyambut dengan keindahan daya ciptaku.

(Jogjakarta/Juni 2005/Katjha)