Tag: cinta

Nasehat Cinta,


Puisi ini ditulis oleh pada
20 February 2008 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (15 votes, average: 3.80 out of 5)
Loading ... Loading ...

Setia terucap kala cinta tumbuh dihati
Sayang dan rindu bersemi diantara dua sejoli
Berbagi perasaan tuk saling mengerti
Saling memberi dan menerima sepenuh hati
Dengan pengorbanan cinta kan berarti
Dengan ketulusan cinta kan abadi
Bersama2 merajut kebahagiaan hidup ini
Menggapai angan dan mimpi walau semua itu misteri illahi
Tiada salah kita mencintai Dan bila cobaan mulai menepi
Janganlah kau pergi dan berlari
Jagalah separuh hati yg tlah kau miliki
Jangan sampai kau menyesal diujung nanti
Mungkin saja ada yg blm prnh kau mengerti
Apa2 yg dia mengerti
Biarlah dia marah ataupun memaki Itu berarti dia masih peduli
Tapi jangan biarkan dia menangis sendiri
Air matanya lebih berharga dari apapun yg pernah kau beri
Sayangilah kekasih hati dngn penuh perasaan dan keikhlasan
Cintailah dia selagi dia masih bisa kau cintai..

Terima Kasih Ananda


Puisi ini ditulis oleh pada
20 February 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 3.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Saat itu matamu melihat mataku

Saat itu senyummu tersenyum padaku

Saat itu pula aku mulai jatuh cinta padamu

Waktu pun berlalu maju

Tidak seuntai kata pun terucap dariku

Hanya sapaan yang mungkin bagimu mengganggu

Aku mau menatapmu matamu

Aku mau mencintai cintamu

Aku mau berikan belai lembut kasih sayangku

Aku mau bersamamu

Hingga suatu ketika

Engkau bertanya kepadaku

Pertanyaanmu menjawab pertanyaanku

Senyumku menjawab pertanyaanmu

Kita tersipu dalam alunan waktu yang membantu

Jutaan hujan menetes

Jutaan rasa sayang mulai terasa untukku

Jutaan kebahagiaan terasa dalam satuan waktu

Indah…

Bagiku itu indah

Karena aku bisa merasakannya

Merasakan cintamu

Semburat lembayung memberikan warna

Warna akan makna yang aku rasa

Warna akan cinta yang aku derita

Terima kasih Tuhan,

Atas rasa sayangMu

Yang Engaku titipkan padaku untuknya

Hamba bersyukur bisa mencintainya

Hingga suatu senja

Aku merasa semua adalah asa

Asa yang bisa kita asah bersama

Asa yang bisa kita cintai bersama

Asa yang bisa kita,, apapun itu asal kita bersama

Namun itu salah

Aku salah

Aku salah melihat

Tidak ada lembayung senja itu

Aku salah merasakan

Tidak ada perasaan tulus itu

Aku salah berharap

Tidak ada asa seindah itu

Aku pun salah bersikap

Tidak ada setetes cinta untukku

Tapi semoga aku tidak salah,

Apabila mencintaimu

“Tuhan, mengapa kau anugrahkan cinta yang tidak mungkin untuk bersatu”

Aku pun datang

Dan berucap sayang

Menyatakan rasa yang aku rasa

Menunjukan cintaku pada matamu

Berharap engaku melihat hal itu

Dan sebuah kalimat terucap darimu

Kalimat yang terukir di hatiku

Kata-kata yang tersusun begitu sempurna menurutku

Terima kasih ananda …

Pejuangku


Puisi ini ditulis oleh pada
20 February 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

“Saya menyerah… ingin pulang dan berkumpul dengan kalian sebab kudengar kalian membutuhkanku…”

Pernah terpikir tuk akhiri perjuangin ini, terbawa ke masa lalu, masa kebersamaan. Kutitipkan cinta untuk bertemu kalian, berharap kalian rindukan aku…”. Cinta itu kembali membawa kabar tentang kalian, khususnya kau pejuangku… IBU.

Ibu, masih kuingat jelas perkataan itu setahun lalu “Nak, aku belajar banyak darimu”. Ingatan itu diseduh dengan kabarmu yang semakin menyusut membuat mataku menangis…

Betapa aku tak menangis… mendengar timbal balik cinta yang kukirimkan;

“Bila aku punya harta tanpa dia, akan aku tukarkan seluruh hartaku untuk mendapatkan dia. Sebab dia adalah hartaku yang tak pernah habis dan tak ternilai”.

“Dia membuat perbedaan, menghampiriku ketika ku dalam sunyi sendiri… ia buatku dihargai, ia ramaikan hatiku di kala sepi, ia buat air mata jadi senyuman”.

Ibu, ternyata kita sama-sama saling merindukan kebersamaan kita. Bila aku telah mengajari banyak hal padamu, mungkin satu hal yang aku pelajari darimu… “BERJUANG”, ya berjuang…berjuang tuk kalahkan lelah dan air mata. Masih saja kau diamkan tangisku dengan memutar keadaanmu yang susut menjadi “baik-baik saja”. bila tiba saatnya perang ini aku menangkan, ianya adalah secara istimewa akan aku persembahkan UNTUKMU!!!

Restui serdadu kecilmu ini, doakan agar cepat kudapatkan kemenangan, kemenangan UNTUKMU!!!

Rindui aku selalu, agar aku bisa segera memenangkan peperangan ini dan kembali ke kebersamaan kita dan mengisi sedih sepimu dengan ramai penuh kedamaian hati…

Luka


Puisi ini ditulis oleh pada
30 January 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Luka

By Red Hawk

Setiap luka yang menetes darah

Alirnya jadi tinta hikmah

Jadi diri kita

Jeritan meradang

mengasah kelopak nurani

Kalau saja, toh….

biar ia tak mencari sesiapa yang melukai

Luka adalah cinta yang bersinar buram

Luka adalah semangat yang terhalang

Luka adalah Cita-cita yang meredup

Luka adalah …….. (titik-titik tak terisi)

Syukurkan ada luka di kita

Karenanya Ada akan terus Menjadi

Bintang Malam


Puisi ini ditulis oleh pada
24 January 2008 dengan 9 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (17 votes, average: 3.76 out of 5)
Loading ... Loading ...

Bintang malam hadirkan bahagia dihati yang lama terdiam

Bintang malam menjadi saksi cinta kita yang lama terpendam

Bintang malam berikan cahaya indahmu ‘tuk terangi gelap malamku

Dewi malam berikan sebuah harapan tuk kucoba luluhkan hatimu

Entah mengapa ku harus merelakanmu

Walau berat rasanya semua berakhir

Takkan lagi pernah kucoba untuk melepaskan

kekasih yang selama ini mengertikan aku

Takkan lagi pernah kuragukan setiamu

yang selama ini kau beri kepadaku

Maafkan, Jika Kau Tak Berkenan


Puisi ini ditulis oleh pada
24 January 2008 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

di tiap saat kehadiranmu
kutemukan serpihan hati
yang kusendiri tak sadar kan keberadaannya

keindahan yang terlukis di parasmu
tumbuhkan rasa yang keberadaannya sangat pudar

maafkan aku yang lancang memupuk rasa itu
andai saja bisa kutumpas rasa itu
mungkin segera kulakukan

kaulah sesejuk udara pagi
yang jika aku melupakanmu akan membuatku mati

akupun takkan sanggup mencintaimu
jika tiada kau buka pintu hatimu

14122002

Cinta Yang Sesungguhnya


Puisi ini ditulis oleh pada
24 January 2008 dengan 10 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 4.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

aku tertatih,
berjalan mencari cinta itu
cinta yang dulu kamu berikan padaku
cinta suci yang kamu berikan dengan tulus

aku pun terdiam,
saat cinta itu milik yang lain
milik orang yang asing bagimu
seseorang yang sudah menyakitiku

aku pun kembali tersakiti,
karna kamu dikhianati
dikhianati seorang yang kamu percayai
seperti kamu mengkhianatiku

sesungguhnya aku menunggumu
hingga kamu tersadar
bahwa aku adalah,
cinta yang sesungguhnya untukmu

cintai dia tapi jangan harapkan aku lagi


Puisi ini ditulis oleh pada
24 January 2008 dengan 9 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

mungkin kau sudah mempunyai . . .

dan menemui . . .

orang yang paling kau suka

aku akan senang jika kau benar”

telah menemukan orang yang paling kau suka

dan yang bisa membangkitkan semangatmu

dan yang lebih baik dari diriku

aku akan senang jika kau mencintainya

karena aku hanya ingin melihatmu senang & bahagia

jangan kau sakiti dia

jangan kau buat dia pelarian

aku yakin dia mencintaimu

sama seperti aku mencintaimu dulu

dan cobalah untuk mencintai dia

dan jangan harapkan aku lagi

karena aku sudah tidak pantas untukmu

Bukan Puisi Cinta


Puisi ini ditulis oleh pada
24 January 2008 dengan 3 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 3.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Bermain aku dengan diriku sendiri
aneh memang mengapa ada permainan seperti itu
coba hindarkan diri dari sudut sepi
bermain dengan sisi hati
coba kilaukan hati namun yang kudapat hanya letupan kisi
makin aku bermain makin tajam menyayat nadi
tak tahu mengapa aku sulit tergoda hentikan permainan ini
tapi walau sulit aku coba bertahan
tak ada yang tahu apa yang kurasakan saat lalu hingga kini
saat mendatangpun sulit aku bayangkan
diriku sering bertanya sendiri, bermain apakah aku saat ini? hati…
hati yang tak tahu akan kemana atau untuk siapa
penat kadang hinggapi, namun rinai angan tiupkan sejuk mimpiku
hidup didunia bagai meronta
hidup didunia bagai alunan pesona
sering kudengar kata terungkap,
‘nikmati hidupmu didunia yang hanya sekali’
apakah seperti itu?
yaah.. tak tahu!
mudah luapkan kata tanpa mengenal ruas makna
aku itu aku tapi kau memang kau
bagaimana aku melukis diriku dengan lain warna hidupmu
siapa tak ingin hidup dalam peluk indah bahagia?
manusia mana yang tak ingin terekat dalam cinta?
bodoh bila menggeleng jawabnya
hidupku mungkin seperti tekanan permainan
namun bila siap memenanginya, tak ingin kutahu ‘siapa yang ingin hentikan roda waktuku?’
tak ingin tentunya berhenti saat itu
waktu terus mengaliri darahku yang kian tersendat
isi hidupku akan hirup udara bumi kian surut
Sang Pencipta pasti panggil hambaNya
ingin kusirami warna sisa hidupku dengan damai dan bahagia
tak terkira segala apa yang akan terjadi dalam hidupku ini
cinta? kuingin bukan hanya ucap, erat kuingin ungkap dan dekapinya
entah dimana dapat kuraih, hampa dan sunyi diri tanpanya
tak mungkin pilu yang kuharap
tak ingin taman tanpa bunga indah harumi hari
harapku masih mungkin raih bukan hanya bunga mimpi
walau kutahu pasti, siapa diriku bagaimana hidupku….
kan kulekat eratkan jiwa hati dan diri hanya untuk yang kucinta
kucoba kagumi hati
kuraba dalamnya hati
kucoba… kuraba… ku..?

hidup untuk berjuang, berjuang untuk hidup


Puisi ini ditulis oleh pada
24 January 2008 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

sesaat tercekat batinku
buyarkan seluruh lamun perjalananku
perhatikan selarik jalan sempit
seorang renta coba lanjutkan hidup
melangkah
terseok
sedikit terantuk, terbatuk sesaat lalu
lelah
letih menatap hari tak pasti
sayu dongakkan wajah kuyu
sesungguhnya apa yang kau tatap?
tak ada yang indah hari ini
hanya sedikit air dan setangkup bekal hari ini
butiran keping dari dermawan masih digenggamnya
buliran peluh penuhi tubuhnya
tak tahu apa kembali berharap dan meminta
akhirnya bersandar tubuh dalam redupnya bayang hidup
berulir sedikit air mata saat menunduk dan meminta
bukan itu yang diharap dahulu
namun hanya ini yang dapat pertahankan hidup sesaat
lepaskan segala resah
berkaca buram tatapan matanya
…selalu sendiri sepertinya
…selalu tak diperdulikan sepertinya
kakek renta makin merunduk
terbaring
terbalut sedikit tubuh dalam lusuh pakaian
bukan nista
bukan hina
hanya nestapa
ingatkah, bila seorang yang kita cinta sepertinya?
renta tanpa saudara diantaranya
sendiri tanpa bahagia diharinya
hanya segala disekitarnya kini hardik dirinya karena tak berdaya
mungkin dahulu dialah pejuang
pejuang negeri, pejuang keluarga
pejuang yang terbuang
hampir seluruh yang berjalan diantaranya sombongkan segala keangkuhan seraya mencibir dan berlalu
lelah bekap dirinya
makin merunduk dan terbaring..
kini lelap dia dalam mimpinya
mimpinya yang dulu hilang
cukup lama dirinya terbenam dalam mimpi
sampai akhirnya semua yang disekitarnya ramai hampirinya….
bukan main, tiba-tiba semua sangat perduli
sangat memahami deritanya
tapi…
mengapa semua tertunduk?
mengapa semua menggeleng?
akhirnya terdengar kini, dia telah pergi
pergi menyusul semua yang dicintainya dahulu
segala yang menunduk hanya iba
segala yang menggeleng hanya tak mengerti harus sikapkan hatinya
seorang renta yang sendiri
diakhir usianya akhirnya dapat meneteskan air mata yang selalu ditahannya
yang selalu kuatkan hatinya merayapi hari-harinya
namun.. semua yang hampirinya tadi telah kembali dalam jejaknya sendiri-sendiri lagi
terbayang dalam pusaranya tetap sepi sendiri tanpa namanya
terbelenggu hingga akhir masanya
akankah diakhir masa kita akan teteskan air mata pula?
mungkin berbeda asa tapi tetap tak berdaya…
hingga akhirnya tiba