Tag: birahi

Membaca Sebuah Pagi


Puisi ini ditulis oleh pada
8 October 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Desah nafas angin tertambat

menyentuh pucuk-pucuk rumput berembun

tumpah terderai, lirih

tanpa suara singgah ke telinga orang-orang.

Udara dingin

langit biru mengambang awan putih tertunda

derak-derak kabut tipis seterngahnya tertumpah

ke bawah,

setengah terbawa angin ke atas mega-mega.

Sepi, belum beranjak

jauh tingkah lengking burung-burung pagi

menghamba cahaya-cahaya hangat

masih belum ada.

Sungguh pagi ini masih tertambat pada sepi,

menunggu terbuka hangat mentari dan

tepuk riang burung-burung pagi.

Dia belum ada pagi ini,

masih terlelap dalam gamang mimpi malam

dan percik-percik birahi tengah malam

yang cabul dan penuh kepalsuan.

Dia tak ada, mati

terderak dalam bisu kebinasaan

manusianya terampas setan ….

Benar kata Ibuku “dia tak berhak membaca pagi”

(Katjha/Juli/2010/Bandar Lampung)

Yonathan, hanya sedikit tafsir atas kesaksianmu malam itu


Puisi ini ditulis oleh pada
3 March 2008 dengan 1 Komentar
Rating Puisi : 1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (belum ada)
Loading ... Loading ...

di atas panggung sosokmu tegap,
menjulang bak bukit karang menentang gelombang
bersiap sepenuhnya, laksana ksatria pandawa menuju kancah kurusetra

”jangan biarkan perempuan itu sendiri” suaramu menggeletar
aku membayangkan lengking sumpah Bima
menggugat pengkhianatan Kurawa
juga pelecehan Dursasana terhadap Dewi Dropadi
menghalau khusyuk samadi para dewa di Jonggring Saloka

(mataku melirik sampul buku puisi Dino Umahuk;
lautbegitu tenang, purnama benderang membentuk lingkaran cermin besar
sebuah kapal bersandar kepayahan,
letih menapaki jutaan mil jarak, gelombang dan ribuan badai menampar
Letih, sulur-sulur waktu memburai di tiang layar

kurasa kau sedang tak menginginkan gemuruh,
gelombang pernah menelan ratusan ribu saudara mu, saudara kita
kau hanya ingin sejenak tenang, bersandar, mandi cahaya bulan)

”pelayaranmu yang selalu meninggikan aroma garam”
”terlanjur menyala sebagai birahi, oh laut”

Jemari lincah bak penari bali, menggores kanvas
Sebuah sayatan gelombang warna biru
Garis-garis panjang meliuk-liuk, meledak dalam getar luka birahi
Tanganmu terus menyapu, menyayat menorehkan warna, merah hijau, biru, kuning
berteriak lantang, menyapu seantero ruang

”…puisimu angkuh memandang nasib
tak peduli badai atau gelombang bermain api”

”…jangan biarkan perempuan itu sendiri
menyeka nasib dari matanya yang semakin berduri”

di titik akhir ekspresi
saat kau tegak dengan separo kaki menghujam bumi
tanganmu tegas menembak udara malam dengan satu jari
matamu setajam samurai menembus dinding waktu, setegas Aikido bersumpah
“ Masa katsu Agatsu, Katsu Hayabi”
“ Kemenangan sejati adalah kemenangan atas diri sendiri;

—————
dipetik dari pembacaan puisi “jangan biarkan perempuan itu sendiri”
malam peluncuran buku puisi dino umahuk
di wapres-bulungan

zai lawanglangit
bekasi, 1 maret 2008
pemilik: zaylawanglangit.blogspot.com