Tag: awan

Jiwa Yang Rentan


Puisi ini ditulis oleh pada
3 October 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Luka hati belum tertutupi
Tangis diri menipu mimpi
Rasakan dan coba tuk resapi
Cinta dalam belenggu sepi

Soneta di dalam hati
Menjerat tangis lirih
Dalam lantunan memekik iri

Membara cinta dalam fantasi
Kucumbu si cantik ilusi
Membakar jiwa dalam imaji
Kukubur dibalik jeruji

Bias cinta menembus jiwa
Warnai jiwa yang kian riskan
Senja melayang diatas awan
Mencari cinta tuk menghamba

Galau hati belum terobati
Sirna asa bagaikan mati
Meracuni jiwa tanpa henti
Perih rasa mencengkram hati

Soneta di malam hari
Terjerat desir mimpi
Dalam lamunan mencekik diri

Biar cinta merenggut jiwa
Nodai jiwa yang kian rentan
Senja menghilang ditelan malam
Mencuri cinta dan menghilang

By: Maggothz MoronChay

Serpihan Cinta…


Puisi ini ditulis oleh pada
2 June 2011 dengan 3 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (19 votes, average: 3.47 out of 5)
Loading ... Loading ...

Akankah terbalut rasa yang membelit dihatiku ini

setelah kau kucinta dengan segala keluhan hati

kuukir pula namamu dikedalaman rasa dan kupendam dipalung sukma

meski ingin aku menjerit

meski ingin aku meronta dan muntahkan semua rasa yang ada

namun semakin berat beban hingga kumerasa kian tersiksa

telah berlalu pergi arti cinta sejati

akankah kubisa menemukan kembali pelita hati dengan berbekal segumpal perih

meski sulit langkah kupadukan namun kuakan tetap melangkah sembari menyeret kisah kenangan

bias mentari tertutup awan kelabu

menyelimuti dingin hatiku, memeluk gambaran cinta yang pernah ada

inilah secuil dari serpihan perjalanan cintaku.

_ayung N alee_

Sekerat Mimpiku


Puisi ini ditulis oleh pada
10 May 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

sekerat impian ku terkapar lemah
tergeletak diantara tumpukan sampah
yang menggunung di dalam kotak
diujung jalan dia menggelepar gundah
.
hanya batas langit yang berkarat
memandang dia ke luar batas karatnya langit
nanar matanya berbinar tersaput air mata
memandang gumpalan awan yang beriringan pelan
.
langitnya hanyalah lingkaran kecil
dibatasi oleh karat yang mulai menguning
meninggalkan noda yang menghitam
akhirnya tinggalah kerak yang terkelupas keras
.
terhempas dia di dalam kotak sampah
terbaring diselimuti tumpukan sampah
matanya nanar melihat ke atas
langitnya yang tak berubah dari lingkaran itu
.
membisu yang dia bisa kuasa
entah untuk keluar dia tak bisa
dan sekali lagi dia terhempas lemah di situ
sekerat impiankku pelan pelan membusuk sendu
.
.
.
Seto Danu
www.setodanu.com
Batam.office.24.07.07.9:22

trading

Puisi bumi kepada matahari


Puisi ini ditulis oleh pada
28 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Hey mentari pagi…mengapa kau bersembunyi di balik awan hitam?
Apakah kau tidak tahu aku merindukan hangatnya pelukkanmu?
Apakah kau tidak tahu wajahku yang sudah mulai kusam sehingga perlu sinarmu?
Cepatlah keluar…jangan kau terus bersembunyi di balik awan

Hey mentari pagi…apakah ku sudah tak begitu berarti bagimu?
Aku yang selalu menantimu
Aku yang selalu memujamu
Aku yang selalu menatapmu dengan penuh harap
Cepatlah keluar…jangan kau terus bersembunyi di balik awan

From: MaHaYaNa_CinTa [may_yudhy@xxx]

Sepekan Bersama Orang Sujenan


Puisi ini ditulis oleh pada
11 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 4.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Raut teduh merona,

ditelinga kirimu

terselip kuncup setengah mekar

berwarna putih, saat itu aku lupa

menanyakan nama bunga

yang kau selipkan tiap pagi

dan sorenya kau ganti dengan bunga yang baru

namun tetap berwarna putih.

 

Sering kulihat di dahimu tertempel butir-butir

beras putih, entah berapa biji aku malu menghitungnya.

setelah engkau khusuk dalam ritual sajenan pagi dan sore hari

di pura keluarga.

 

Aku kagum begitu engkau hayati sebuah spiritualitas,

di tengah gelora kehidupan yang semakin materialistis,

di antara kerumunan orang memanjakan nalar dan

berkacak pinggang kepada yang ruhani.

Aku kagum dengan perlawanan budaya yang engkau lakukan,

aku tahu engkau tidak membela keyakinanmu

ditengah hedonisme jaman,

karena engkau hanya menunjukkan dirimu

yang menegakkan pribadi yang bertopang pada keseimbangan

alam-diri-sesuatu yang sakral.

 

Ada terpancar hening wajah dan hati yang tercerahkan.

tidak perlu engkau membuat jargon tentang cinta kasih,

yang esa dan tunggal,

karena jauh dari yang orang-orang katakan

engkau berkata dengan gerak langkah,

ketulusan laku

dan raut wajah dengan senyum diatas lesung pipimu.

 

Terima kasih,

lepas dari saat sepekan bersamamu

aku mulai tergerak lagi untuk bertanya ke dalam diri

tentang yang ruhani, spiritualitas dan relung-relung

penyadaran yang masih kosong

dan bergema keriuhan dunia yang hedonis dan penuh kepalsuan.

Ada semangatmu terbawa,

seperti dentang-dentang gaib yang menandakan waktu

untuk menautkan kesadaran

pada yang sakral, bersatu kepada yang harmonis

dan tiap kali menyatakan jiwa kepada semua yang nyata ini

berawal dan berakhir.

 

Tapi aku masih malu untuk menyebut nama Tuhan,

 

(Tuban/Oktober/2010/Katjha)

Sepi


Puisi ini ditulis oleh pada
9 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 3.25 out of 5)
Loading ... Loading ...

gulita menelan
menyulam gelap dlm sepi
angin meniup kehampaan
meliuk-liuk dlm rongga hati . . .
diam ku tatap awan tak bergerak
terpejam mengarak lelah menuju mimpi. . .

Embun Pagi [thevirgoz@xxxx.com]

Nikah Ilalang


Puisi ini ditulis oleh pada
2 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 3.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

Bertaut dalam semak padang rawan

rona tipis fatamorgana, sederet rumput-rumput

kuning setengah kering,

begitupun tanah gersang tak berair

kering pecah-pecah, berdebu

dan tiap saat diterbangkan

angin resah dari bukit matahari tenggelam.

 

Tiada rindu,jika tiap saat bersinggung

mahligai kebersatuan,

tiada gelora karena kebersamaan

sudah terpajang dengan santun.

 

Mereka adalah penghuni padang tanah lapang

gersang, padang embun pagi dan

lautan  jingga remang senja.

 

Ini bukan kota, desa atau apa pun

tempat orang-orang singgah dan merindukan

perjumpaan kembali.

Ini adalah padang  sepi dan tandus,

buas dan melata.

 

Tempat ini menentang sepi,

mempertunjukkan keterasingan.

karena tempat ini hanya menawarkan satu kerinduan.

Rindu pada hujan dan rintik-rintik praharanya,untuk

menerjang rebah batang-batang kering setengah mati

ke tanah tandus, kemudian membusukannya

setelah itu lahirlah generasi selanjutnya

yang bernasib tak jauh beda.

 

Jika pun mereka menjadi mulia

dan selalu disebut hanyalah

dalam tata bahasa dan untaian syair, sajak

dan kata-kata kiasan,

setelah itu mereka tersebut tak bermakna.

Memang benar, orang harus lupa,

mereka harus dilupakan,

jika harus mengenang,

mereka adalah nikah ilalang.

 

(Kalianda/Juni/2010/Katjha)

Terjebak di Ruang Emosi


Puisi ini ditulis oleh pada
24 February 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Diri terdefinisi oleh tiga warna
Lemah layaknya tanah tanpa substansi
Tautan persepsi bernama catatan dan situasi
Padu dalam kompetisi perkenalan makna
Hidup benarlah sebuah drama melodi
Mencari arti antara rasa dan etika
Dan waktu menjadi kawan setia atau musuh
Hingga gelap memperkenalkan dirinya; misteri

12 Mei 2010

Surat Untuk Ayah


Puisi ini ditulis oleh pada
9 February 2011 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (24 votes, average: 4.29 out of 5)
Loading ... Loading ...

siapa bilang aku tak boleh tidur di siang
hari?
bagiku langit biru
terlalu menyilaukan untuk
dinikmati.
lebih baik kututup saja mataku
dan menyimpannya
untuk bulan nanti malam.

ya. aku memang jauh
dari terang
kalau kau ingin tahu.
tempatku
tinggal
hanyalah sebatas bayang-bayang di
kakimu.
merangkak terus di atas bumi
seperti pesakitan
kusta
yang tak kunjung sembuh.
ya. begitulah aku di siang
hari.
hanya seonggok bayang penuh koreng.
tapi lihat jika
senja mulai surut
dan gelap mulai datang.
tubuhku
yang hanya sepetak itu
akan membengkak
dan akan
meluap–
membanjiri segenap ruang
dalam planet aneh ini.
dan
semua luka yang ada padaku
akan berputar
dan akan
menari–
menjadi sekawanan bintang
berkerjapan
pelan-pelan.
ya. aku memang jauh dari terang.

dan mataku

mereka hanya untuk bulan nanti malam.
dan bukan untuk
langit biru
yang selalu menyilaukan ‘tuk
dinikmati.
jadi siapa bilang aku tak boleh tidur di siang hari?

selesai: 13 agustus 2000

*judul lengkap:
“surat untuk ayah yang tak akan pernah tertuliskan”

violet_eye_1979

Do’amu


Puisi ini ditulis oleh pada
9 February 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (14 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Aku terlelap dalam gelap mendekap.
Suaramu bergaung suram dalam kelam.
Do’amu-kah, wahai kawan lama?
Entah kenapa, kembali aku ingin mendengarnya.
Rindu menyiksa, kejam setajam sembilu.
Setengah mati ingin kusingkirkan haru,
terlalu muak dengan air mataku.
Harus kubunuh harap akan segala yang semu.
Terlalu lama kutunggu
pedih yang sulit terobati tak jua berlalu.
Sebisa mungkin, kau tak perlu tahu.
Aku juga enggan menyiksamu
dengan rasa bersalah yang tak perlu.

Masih berdo’a, wahai kawan lama?
Terima kasih, karena aku masih membutuhkannya.
Hanya demi kau, rela kupalsukan tawa
atas nama cinta yang tak boleh cemar,
atas persahabatan yang jangan sampai bubar.

Semoga do’amu terkabul sepenuhnya,
mengingat aku masih butuh percaya
cinta akan seadil Sang Pencipta
bukan lelucon kejam belaka
pengundang iblis ‘tuk tertawa
menghina semua luka…

(Jakarta, 11/12/2010)

“kucing3warna” [kucing3warna@...]