Tag: awan putih

Membaca Sebuah Pagi


Puisi ini ditulis oleh pada
8 October 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Desah nafas angin tertambat

menyentuh pucuk-pucuk rumput berembun

tumpah terderai, lirih

tanpa suara singgah ke telinga orang-orang.

Udara dingin

langit biru mengambang awan putih tertunda

derak-derak kabut tipis seterngahnya tertumpah

ke bawah,

setengah terbawa angin ke atas mega-mega.

Sepi, belum beranjak

jauh tingkah lengking burung-burung pagi

menghamba cahaya-cahaya hangat

masih belum ada.

Sungguh pagi ini masih tertambat pada sepi,

menunggu terbuka hangat mentari dan

tepuk riang burung-burung pagi.

Dia belum ada pagi ini,

masih terlelap dalam gamang mimpi malam

dan percik-percik birahi tengah malam

yang cabul dan penuh kepalsuan.

Dia tak ada, mati

terderak dalam bisu kebinasaan

manusianya terampas setan ….

Benar kata Ibuku “dia tak berhak membaca pagi”

(Katjha/Juli/2010/Bandar Lampung)

Ada Apa DenganMu…


Puisi ini ditulis oleh pada
1 October 2010 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 3.25 out of 5)
Loading ... Loading ...

kembali….
kusandarkan jasad dibangku kusam berbintik lumut tepat ditepian jembatan tua…

lamur tatapanku menelanjangi selempang jingga yang mencoba menyepuh warna lembayung…

awan putih menebal dan melayang_layang bersama potret bayang wajahmu…

kuhela nafas sebanyak paru menampung, tertunduk lesu… terbaca dipantulan redup surya ‘rona wajahku yang lusuh’

kutepis teriakan congkak camar yang melintas,
aku merasa jengah… setahun bukanlah waktu sejengkal, kutakut tuk melangkah sendiri dijalan terjal…

kini hari_hariku tiada lagi berseri bersama sang bintang juga rembulan yang dulu selalu memberiku cahaya ceria kini biasnya pudar entah kemana…

sedang kunang_kunang terus merajuk kegenitan mengoda canda
sejenak kutengadah ‘tuk mengulur do’a kucoba sapa dan ketuk lagi hatimu… lagi dan lagi namun yang kembali terdengar hanyalah lafadz
‘!maafmu” disela siur angin…

pandanganku menjangkau jauh…
sekali lagi tak jua mampu mengetuk jendela hatimu

‘ada apa denganmu cinta…..

jika masih ada kesempatan,
berikanlah aku waktu untuk menata hidupku

berikanlah senyum dan tawamu untuk penguat hatiku

sapa aku dan sampaikan salam pada angin atau siburung gereja

dengarkanlah jeritan hati yang hampa ini…
ia bukan saja retak tapi bagai kaca terjatuh dibatu hancur tak kembali utuh…

diammu membuat tubuhku semak¡n kering bagai ikan asin

bunga dijambangan tak lagi mekar seperti dulu, layu bagai wajahku yang tak tersiram kasih sayangmu selama setahun…

air mata berguguran tak juga mengartikan cinta, seharusnya kutak berduka seperti ini jika asmara dan rasa menyatu namun dua hati menderu dijalan kaku

terpisah jauh tak menentu, masihkah ada jalan untuk kembali….?!

kusimpuhkan jasadku…
memohon ampun pada Sang Penguasa Hati…
berikanlah jalan terbaik untuk keutuhan dan kekekalan kisah cinta ini….