Tag: api

Kobar Bunga Dalam Senja


Puisi ini ditulis oleh pada
3 October 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (19 votes, average: 3.95 out of 5)
Loading ... Loading ...

Pernahkah mencinta api?
Yang kobarnya memerahkan senja
Perciknya menggubah hangat
Namun tiada pernah bertuan
Bebas sebelum redup
Cahayanya memencar keindahan
Dalam kengerian ia berkobar

Ingatkah indah bunga?
Yang warnanya tentramkan mata
Harumnya tebarkan pesona
Hingga khayal tidak henti
Sebuah perbandingan keindahan
Pada semua makhluk ciptaan Tuhan
Dalam paradigma ia dibandingkan

Maka saat sabit bulan datang
Sinarnya pantulkan keindahan
Dari bunga dan api
Kobaran indah….
Dari harumnya kehilangan
Ketika bunga mencinta sang api

Dan mereka buta kan rasa
Keindahan itu menghilang
Dalam sebuah hasrat yang tertinggalkan
Sebuah kenang akan percampuran
Keindahan yang mengerikan

dan kaulah (sang penonton)


Puisi ini ditulis oleh pada
5 January 2009 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 3.40 out of 5)
Loading ... Loading ...

-sudahkah kau basuh wajahmu?-

malam kian dingin,
dan gelap kian merangkul kesunyian,
mungkin saja angin sedang marah pada daun-daun,
yang memilih diam meniru bebatuan.
perang tlah usai,
api tlah tercabik hujan,
dan bulan tetap berlari menghindar.
“di mana kuntum bunga yang kujaga dengan pedangku?”
kau bertanya pada kunang-kunang yang menghilangkan cahayanya,
hingga dia mendesis marah dan pergi.
namun sang tanah tetaplah bumi yang baik hati,
yang meniupkan tunas dari rahimnya,
hingga kau kembali berpijak di rerumputan,
dan menjemput matahari yang tersipu.
musim semi terlahir dari buah-buahan yang bermain riang di taman.

-dan, sudahkah kau membasuh wajahmu?
karena perang tlah usai,
api tlah tercabik hujan,
dan kau masih terjerat pada tali yang digantungkan di jempol bintang;
tidak terbang, berpijak pun tak mungkin.

Anak Gunung


Puisi ini ditulis oleh pada
16 September 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (9 votes, average: 3.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sepasang mata burung awasi kami dari gunung
Sesaat lenyap melekat pada kulit-kulit kayu yang murung
:langit berubah warna
Warna api dan asap-asap mimpi

Sepasang batu kali dari mata air kami jadikan kalung
sesaat bening terkena air mata penjaga hutan yang mati bertarung
:tanah berubah dingin
Dingin kabut dan matras-matras butut

Malam ini kami berbicara
Melingkar membakar lelah untuk dijadikan bara
Malam ini kami penuh dahaga
Berbaring mengecap titik-titik air langit yang berjelaga

Biarkan kami habiskan malam
Bersama pekat dan bintang bintang bisu
Biarkan juga kami bercengkrama dengan alam
Bersama lagu dan pohon-pohon yang tertidur lesu

(terasa angin jilati kuping-kuping kami)

Sementara kami bersedih
Mengingat kawan mati oleh sepasang mata burung

(langit tak lagi bersedih tapi malah meludahi kami)

Sunyi seketika berbunyi
Langkah-langkah kaki berlari
Berjejal tubuh-tubuh basah dalam tenda kami

(Malam tak restui kami mengingat kawan-kawan yang telah mati. Langit masih meludah, api masih menyala, pohon-pohon masih tertidur dan sepasang mata burung masih terjaga)

Wizurai,

Ketika Burung Merpati Sore Melayang


Puisi ini ditulis oleh pada
4 March 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (26 votes, average: 4.12 out of 5)
Loading ... Loading ...

Langit akhlak telah roboh di atas negeri
Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri
Karena hukum tak tegak, semua jadi begini
Negeriku sesak adegan tipu-menipu
Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku
Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku
Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku
Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku
Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku

Kapal laut bertenggelaman, kapal udara berjatuhan
Gempa bumi, banjir, tanah longsor dan orang kelaparan
Kemarau panjang, kebakaran hutan berbulan-bulan
Jutaan hektar jadi jerebu abu-abu berkepulan
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan

Beribu pencari nafkah dengan kapal dipulangkan
Penyakit kelamin meruyak tak tersembuhkan
Penyakit nyamuk membunuh bagai ejekan
Berjuta belalang menyerang lahan pertanian
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan

Lalu berceceran darah, berkepulan asap dan berkobaran api
Empat syuhada melesat ke langit dari bumi Trisakti
Gemuruh langkah, simaklah, di seluruh negeri
Beribu bangunan roboh, dijarah dalam huru-hara ini
Dengar jeritan beratus orang berlarian dikunyah api
Mereka hangus-arang, siapa dapat mengenal lagi
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri

Kukenangkan tahun ?47 lama aku jalan di Ambarawa dan Salatiga
Balik kujalani Clash I di Jawa, Clash II di Bukittinggi
Kuingat-ingat pemboman Sekutu dan Belanda seantero negeri
Seluruh korban empat tahun revolusi
Dengan Mei ?98 jauh beda, jauh kalah ngeri
Aku termangu mengenang ini
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri

Ada burung merpati sore melayang
Adakah desingnya kau dengar sekarang
Ke daun telingaku, jari Tuhan memberi jentikan
Ke ulu hatiku, ngilu tertikam cobaan
Di aorta jantungku, musibah bersimbah darah
Di cabang tangkai paru-paruku, kutuk mencekik nafasku
Tapi apakah sah sudah, ini murkaMu?

Ada burung merpati sore melayang
Adakah desingnya kau dengar sekarang

1998

+ Taufik Ismail  +

aku masih mencintaimu ?


Puisi ini ditulis oleh pada
28 February 2008 dengan 19 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

cinta

apa salah qu hingga kau marah padaku ,

hingga kau memutuskan aku …………..

seharusnya , aku yang marah padamu

yang kesal atas sikapmu yang membohongiku dan mengerjaiku

kenapa stiap ada masalah kau slalu mengucapkan kata” putus

stiap ada sesuatu yang tak enak di hatimu

slalu

slalu kau ucapkan kata” putus

dari bibirmu

kenapa , kenapa . . . . . . . .

aku masih mencintaimu

aku hanya ingin tau kenapa kau berbuat begitu

aku hanya ingin sekali lagi kau tunjukkan

cintamu padaku

tapi knapa kau tak mau dan ,

menurutmu smua yang kau lakukan dengan dasar cintamu tuk membuat qu sempurna

aku hanya memintamu tuk buktikan cintamu tapi knapa kau tak mau ?

dan api pun membara di tubuhmu

hingga kau ucapkan kata” yang tidak aku inginkan

aku tau maksudmu dari penjelasanmu tapi ,

apa sudahlah smua ini

tapi aku tak mau smua ini terjadi

aku tau kau terpaksa mengambil keputusan ini

aku yakin cintamu masih ada buat qu

aku ingin kita kembali sperti dulu lagi

masalah ini


Puisi ini ditulis oleh pada
10 January 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 2.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

cinta

apa salah qu hingga kau marah padaku ,

hingga kau memutuskan aku …………..

seharusnya , aku yang marah padamu

yang kesal atas sikapmu yang membohongiku dan mengerjaiku

kenapa stiap ada masalah kau slalu mengucapkan kata” putus

stiap ada sesuatu yang tak enak di hatimu

slalu

slalu kau ucapkan kata” putus

dari bibirmu

kenapa , kenapa . . . . . . . .

aku masih mencintaimu

aku hanya ingin tau kenapa kau berbuat begitu

aku hanya ingin sekali lagi kau tunjukkan

cintamu padaku

tapi knapa kau tak mau dan ,

menurutmu smua yang kau lakukan dengan dasar cintamu tuk membuat qu sempurna

aku hanya memintamu tuk buktikan cintamu tapi knapa kau tak mau ?

dan api pun membara di tubuhmu

hingga kau ucapkan kata” yang tidak aku inginkan

aku tau maksudmu dari penjelasanmu tapi ,

apa sudahlah smua ini

tapi aku tak mau smua ini terjadi

aku tau kau terpaksa mengambil keputusan ini

aku yakin cintamu masih ada buat qu

aku ingin kita kembali sperti dulu lagi