Tag: Allah

“RINDU”


Puisi ini ditulis oleh pada
11 May 2011 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (13 votes, average: 3.92 out of 5)
Loading ... Loading ...

Rindu ini datang dengan perlahan
Dia bertandang disaat malam yg beku
Dia menjelma pada mimpi mimpi yg menyakitkan
Dia berbisik, berkata, lalu berteriak tentang kenyataan
Dia hantui tiap kesendirian

Rindu ini datang semakin nyata
Dia membawa seribu khayalan kosong
Lantas dia ejekkan apa yang ada
…..MENYAKITKAN…!!!

Eko Nuryadi
Bumi Allah -Surabaya 16 februari 1991

hidup dari serpihan serpihan peristiwa pedih


Puisi ini ditulis oleh pada
11 May 2011 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

menelisik di pinggir kubur hati
ternyata…
“dia tak mati”
menunggu saat yg ditetapkan
lampau …dimasa yg tak teringat
…”dia tak mati”
berdenyut lembut membungkam sunyi
bergumam perlahan pecahkan bisu
“dia tak mati”
hidup dari serpihan serpihan peristiwa pedih
?

Bumi Allah. Cimanggis – Depok 20 Desember 2010.
Eko Nuryadi

Lembayung Kelam…


Puisi ini ditulis oleh pada
22 September 2010 dengan 4 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (16 votes, average: 4.19 out of 5)
Loading ... Loading ...

rasa ini membaur dalam lingkup hati yang sunyi bersaing melawan kepingan_kepingan noktah kelam masa lalu…

merentas pada senyap yang menyeluruh diseparuh malam,
akankah ada sebias cahaya datang ‘tuk mencanarkan mistery hati sebelum labirin kian berkerak dibumi tuaku…

kuingin penjabaran yang mampu merubah kegalauan hati menjadi kedamaian yang hakiki,

rasaku terus mendayung, melintasi fase_fase senyap dan gelap terombang_ambing dimuara pesakitan dan terdampar aku disamudra asing tak bertepi,
kutak dapat lagi memanggul tinggi hasrat hati untuk mencapai puncak getaran cinta yang sejati…
merajut simpony asmara dalam jiwa…

rasa ngilu itu masih hidup dalam jiwaku, sungguh……..

tak jarang aku terdiam, merenung menyenandungkan irama sunyi dalam kudus do’aku

Duhai ALLAHku……..
kusadar raga dan jiwa ini seutuhnya kepunyaan_MU

nafas ini pun kutahu juga titipan_MU
EngKau menciptakan dengan rasa dan takdir yang berbeda dengan yang lain, kini semua kukembalikan pada_MU

lewat simpuhku selayak pengemis diantara reruntuhan bening kembar yang tiada kesat

tataplah aku dengan cahaya kasih_MU
agar langkahku kembali tegar dalam meniti takdir ketetapan_MU….

“Kemarin dan Esok” (sajak Ulangtahun buat Ulin)


Puisi ini ditulis oleh pada
22 April 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 2.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Nduk,…Kemarin datang selembar hari yang tercatat.
…mungkin sudah lama sekali… bukan kemarin
Tapi tak apa,…tak banyak berbeda.

Hanya…
..ada yang tersekat diantaranya
Mungkin setangkai melati, atau segenggam bunga rumput

Nduk,…Besok datang secarik hari yang terlempar.
Mungkin sudah berulang kali,…bukan sekali ini.
…tak apa,..tak banyak berbeda.

Hanya..
Ada yang tersekat diantara kemarin dan esok.
Mungkin matahari kan menyapamu lebih mesra
Mungkin rumput pinggiran trotoart kan lebih sering menggodamu
…Berbahagialah dengan itu semua..

Eko Nuryadi
Bumi Allah-Surabaya November 1990

Do’a di ujung malam


Puisi ini ditulis oleh pada
20 July 2009 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (15 votes, average: 4.20 out of 5)
Loading ... Loading ...

Yaa ALLAH …berlinang air mata hamba saat ini….

Bertanya bathin hamba ini….

Bagaimanakah pandangan ENGKAU  pada hamba saat ini…?

Terlalu ngeri hamba tuk membayangkannya…

Yaa ALLAH…sedemikian kelam jiwa hamba terbalur dosa….

Adakah pantas tuk bersujud di duli TUAN TUHAN SEGENAP ALAM…???

Yaa RABB…masih pantaskah diri ini menghambakan diri pada MU ??….

Sedangkan hampir di setiap saat diri ini menjadi

hamba nafsu…

hamba harta..

hamba syahwat…

hamba angkara murka..

dan hamba dunia…

dan hamba-hamba selain ENGKAU..????

Yaa ROHMAAN Yaa ROHIIM…masih berkenankah ENGKAU dengar dan kabulkan apa yg hamba pinta ??

Saat ini…

hamba mohon dengan segenap jiwa raga yg dalam genggam-MU YANG MAHA PENGASIH DAN MAHA PENYAYANG….;

“Peliharalah kerinduan di batin ini akan belaian karuniamu…

walau tak pernah kurang karunia MU.”

“Jangan tinggalkan hamba walau hanya sesaat”

“Jadikanlah apa yg menjadi keridlo’an MU adalah Keridlo’an hamba juga”

kisah tak berjudul


Puisi ini ditulis oleh pada
9 February 2009 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 4.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kisah Tak Berjudul

malam-malamku makin sunyi

bintang-bintang tak lagi bercahaya

rembulan tak pernah menyinari hatiku

rasaku seolah mati tak bersisa

perjalanan jauhmu membuatku tersiksa

membuka pintu di ujung waktu

yang mungkin mengantarku padamu

tapi seperti caci maki sang surya

dan cemoohan penghuni semesta

mungkinkah asaku tak pernah nyata

harapan hampa nan sia-sia

menjadi kerak dalam memori masa lalu

tidak!!!

aku kan terus berharap

meski kelak pahit rasanya

biarlah kukenakan belenggu ini

mengiringi langkahku ke masa datang

biarlah kudengar lolongan kalbuku

menahan perih tak terperi

hingga kelak di penghujung asa

tapi sedikitpun tiada ratapan di mulutku

tak pernah kusesali perjalananku

walau mungkin tiada tinta emas untuk kisahku

demi Allah Yang Maha Penyayang

tiada keburukan dalam tiap kehendak Nya

hanya kebaikan tersembunyi dalam kerikil tajam

terselip debu yang memerahkan mata

pergilah!!

gapai cita-citamu

biarlah manusia-manusia kecil menghinamu

jangan sekalipun mendengarnya

percayalah

tiada keburukanmu di mataku

kutunggu kau di pintu ini

hingga masa depan memluk kita

dengan segala kearifan dunia

Kecewa…


Puisi ini ditulis oleh pada
16 November 2008 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (16 votes, average: 4.13 out of 5)
Loading ... Loading ...

Aku kecewa pada diriku sendiri

Kecewa tidak bisa mandiri

kecewa tidak bisa menyelesaikan masalah sendiri

kecewa karna harus tergantung orang lain

kecewa karna harus dibimbing orang lain

kecewa karna harus di ajar orang lain

kecewa karna tidak bisa membahagiakan orang lain

kecewa karna meresahkan orang lain

kecewa karna menyakitkan hati orang lain

kecewa karna tidak bisa mendapatkan cinta sejati

Mungkin semua ini terjadi?

ya . . . benar . . . memang terjadi

mungkin karna aku takut

mungkin karna aku bodoh

mungkin karna aku tidak percaya diri

mungkin karna aku banyak berbuat dosa

atau juga karna aku ditakdirkan begini

yang jelas aku tak tau mengapa semua ini terjadi

Ya . . . Allah . . .

mengapa semua terjadi pada diriku

mengapa . . . ? mengapa . . . ?

berilah aku jawaban

berilah aku petunjuk-Mu

berilah aku jalan keluar dari semua ini

biar orang lain tidak merasa disakiti atas kehadiranku

Suatu hari . . .

terlintas dipikiranku untuk akhiri semua ini

agas semuanya berakhir

tapi . . . tapi . . .

karna aku masih mau berbuat yang lebih baik untuk orang lain

Demi waktu


Puisi ini ditulis oleh pada
24 October 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 4.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Waktu seperti merayap…

Hari seolah tak pernah berganti…

Tapi rindu semakin menggebu hingga menyesakan kalbu…

Makan hanya ingat badan…

Tidurpun hanya sekedar memejamkan mata…

Karena hati ini sesungguhnya selalu berkelana…

Berkelana tuk menggapai sang dambaan jiwa yang terpisah antara ruang dan waktu…

Tawa tergelak tapi hati menggelisah…

Senyum merekah tapi hati membiru…

Ceria ini adalah fiksi karena sesungguhnya dalam kalbu mendung selalu merundung…

Karena jiwa ini selalu merinduk tuk segera bertemu denganmu…

Waktu seperti merayap…tapi waktu juga pasti kan segera berlalu…

Kuharus hadapi itu…

Dan harus kutulis…karena hanya ini satu-satunya caraku tuk sekedar menghilangkan penatku….

Waktu yang segerakan berlalu….

Semoga Allah masih mengijinkanku tuk bisa bertemu denganmu sayangku…….

Gelap


Puisi ini ditulis oleh pada
17 July 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (10 votes, average: 2.90 out of 5)
Loading ... Loading ...

Gugah…Hatiku gugah menderah
Ditengah sepi mencekam dikelilingi kabut hitam kelam
Pekat…sungguh pekat tak terlihat setitikpun
Hanya ada aku dan tubuhku
Beribu-ribu bintang dan secerca cahaya bulan
Tak mampu mengalahkan kegelapan dihatiku
Hanya terdengar suara rintihan alam yang berbisik
Seolah membicarakan aku
Sampai tak terdengar semakin menjauh
Alunan nada nafasku masih melekat ditubuhku
Dan tak terasa sang waktu selalu menanti
Begitu luas hamparan gelap membayang di benakku
Hingga aku berlari mencari sudut
Akhirnya…Aku temukan titik cahaya
Cahaya yang membebaskan aku dari gelap dan sunyi
Tapi semakin berat aku melangkah semakin dingin kurasa
Terang membuat kelopak mata turut menunduk
dan ramai suara alam pun saling menyahut
Aku terus dan terus menerobos hingga nafas terakhirku
Saat kuangkat kelopak mata suruhan hati
Ternyata aku meninggalkan ragaku
Ajal menjelang, Allah memanggilku

Dikirim oleh: Riski Gultom (aruun_shabir@….)