Tag: aku

Hey


Puisi ini ditulis oleh pada
30 July 2012 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 3.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Memandang wajahmu,

temaram dalam rentang hujan abu

surya redup bagi mega turun

mengaburkan bayang

seolah ini di negeri salju.

 

Hey..

senyum manis itu tetap lahir

dari suasana remang.

dimana sosokmu ketika kelopak mataku terpejam?

kujawab pelan;

“masih ada dalam sanubari

dan berwarna ungu”

 

(Magelang/November/2010/Katjha)

Sesaat Kau Hilang


Puisi ini ditulis oleh pada
30 July 2012 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Tangismu membuat kumeradang….kesal

Sesaat kubiarkan engkau dengan tangismu itu

Kubiarkan kau terkapar di atas tanah

Lalu kau terdiam…kupikir kau tersadar

Bahwa teriakanmu hanya buang tenaga saja

Kuhampiri enkau yang membisu.

Tapi….wajahmu membiru

Tanganmu kaku…Badanmu membatu

Hitam bola matamu menghilang.

 

Aku memelukmu…..

Teriakanku tak membuat kau terjaga

Air mataku tak jua buat kau sadar.

Lirih kuberbisik di telingamu

Anakku……Jika ini yang terakhir aku memelukmu

Berikan aku satu pelukan

Berikan aku satu ciuman

Dan jika kau tak sanggup lakukan itu

Berikan aku hanya satu senyuman

Sebagai ucapan selamat tinggal.

 

Aku masih memelukmu ketika keajaiban itu datang

Tiba-tiba jari mungilmu perlahan bergerak

Matamu mulai terbuka…

Kaupun tersenyum lalu tertidur

Tapi bukan untuk tidur panjang

Lirih kuberbisik dalam hati…

Terima kasih TUHAN..anakku tak jadi Kau ambil.

Aku memelukmu……

Kali ini takkan pernah kulepaskan

Itu Janjiku….

 

Hidup


Puisi ini ditulis oleh pada
30 April 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Beberapa orang membangunmu dari tangis
Beberapa orang membangunmu dengan tawa
Tak sedikit orang yang membangunmu berbekal cinta

Aku membangunmu tersusun mimpi
Dengan tangis tawa dan cinta didalamnya

From: Dinda Minardi [muke_ghilee@xxx]

Puisi bumi kepada matahari


Puisi ini ditulis oleh pada
28 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Hey mentari pagi…mengapa kau bersembunyi di balik awan hitam?
Apakah kau tidak tahu aku merindukan hangatnya pelukkanmu?
Apakah kau tidak tahu wajahku yang sudah mulai kusam sehingga perlu sinarmu?
Cepatlah keluar…jangan kau terus bersembunyi di balik awan

Hey mentari pagi…apakah ku sudah tak begitu berarti bagimu?
Aku yang selalu menantimu
Aku yang selalu memujamu
Aku yang selalu menatapmu dengan penuh harap
Cepatlah keluar…jangan kau terus bersembunyi di balik awan

From: MaHaYaNa_CinTa [may_yudhy@xxx]

Merindukan Gerak


Puisi ini ditulis oleh pada
14 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 3.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

Wahai betinaku..

di bawah langit biru

bergaun merah soga,

engkau

terdiri tegak dengan rambut terurai

ada sepasang kembang sepatu

berwarna coklat muda terselip di kedua daun telingamu

seolah tercerahkan senyummu yang terlampau manis.

 

Ketika pandang dari sosokmu,

menerpa wajahku,

aku bayangkan diriku adalah bukit karang menjulang

dari deretan gugus-gugus karang

di pantai yang terjal dan berombak ganas.

 

Wahai betina dengan senyum bunga matahari,

terpa aku dengan rona-rona cerah,

setelah itu datangkan prahara yang besar

menghantam keras bukit karang yang angkuh ini,

kemudian datangkan ombak yang besar dan paling ganas,

agar kebisuan yang terbangun musim demi musim

dapat lebur terbawa air laut, menjadi butir-butir

pasir yang akan engkau jumpai

beberapa abad kemudian di pantai

engkau menjelma menjadi perempuan suci.

 

Pandangku adalah kata

untuk hatimu yang selalu terjaga;

usik aku dengan kerinduan hingga bergeming

dan merelakan diri melebur dan mengambil

bentuk hidup

yang paling engkau cintai..

aku ada untuk hidupmu yang merindukan

ketegaran.

 

(Gunung Kidul/Februari/2011/Katjha)

Balada Orang Merindukan Pelangi


Puisi ini ditulis oleh pada
14 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 2.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

Tinggal kata, orang berucap

berlalu

terserak pandang,

bayang menikung

hilang

dalam balutan mega-mega hitam

bergurat warna perak kusam.

 

Bias sinar putih bagai lantunan nada

menderas, menerpa sudut-sudut gelap

tampak setengah bayang.

saat kita menakar warna,

mengurai benang-benang yang menjalin

rajutan cahaya beraneka warna

dalam pantulan piramida kristal.

 

Ini adalah pelangiku..

di langit pagi,

ketika engkau memalingkan pandang

dan membuat sekat-sekat

untuk menutup bayang panumbra hatimu

yang bergejolak.

 

Ketika ada pelangi muncul,

ada sebuah mitos;

jangan engkau memuja seseorang

karena jika engkau tidak mempunyai jiwa besar

maka semua kepribadian orang yang kau puja

muncul dalam siluet pandang

tentang semua

antara yang terbaik dan terburuk,

dengan demikian

apa yang kau lakukan tidak akan terlalu

bermakna,

karena kau pun sudah tahu semuanya dengan mudah,

tiada gerak engkau menafsirkan dirinya.

 

Pelangi..

dan sebuah penanda waktu.

Aku pun tahu,

dia kini tidak lagi merindukan pelangi,

karena padanya kutahu

sebuah gerak dan pertautan kepribadian

lebih memberikan makna

daripada sesuatu yang sudah jelas dan pasti segalanya.

hidup bermakna ketika masih banyak kemungkinan

dan masih selalu terbuka untuk ditafsirkan.

 

(Jogjakarta/Februari/2011/Katjha)

Sajak Gadis Kecil Untuk Dewi Permoni


Puisi ini ditulis oleh pada
11 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Wahai dewiku … Maha Bathari

kusentuh gemerlap embun pagi ketika

engkau tampakkan wujudmu dalam cakrawati.

 

Berikan saktimu dalam pemujaanku,

sebagai parasu yang besar dan tajam.

sebagai busur yang kuat.

sebagai senjata-senjata beracun.

 

Maha Bathari Permoni..

anugerahkan pada  kedua tanganku

untuk meluruhkan langit dan cakrawala

tunduk ke bumi penuh kidung peperangan.

 

Aku letakkan satu bunga merah di altarmu,

kemudian izinkan aku membunuh para pejalan

dan pemburu,

para raja triwikrama dan pujangga-pujangga cabul.

akan kupersembahkan sebuah senja

yang penuh luka-luka dan ratap pilu

laki-laki durjana.

 

(Bojonegoro/Oktober/2010/Katjha)

Perempuanku


Puisi ini ditulis oleh pada
11 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (9 votes, average: 3.56 out of 5)
Loading ... Loading ...

Bukan musim tanam padi,

engkau datang dan memalingkan muka

terdiri di pematang sawah kering,

seulas senyummu, bagai ketegaran burung bangau

menanti hujan.

 

Adakah yang salah ketika engkau datang,

tanah tempat kita bermain dulu berubah gersang.

hilang rumputan hijau, tanpa capung-capung merah.

hanya pematang kering dan langit yang masih sama biru.

 

Perempuanku..

selamat datang di tanah yang hilang petaninya

hilang kerbau, hilang gubuk di tengah sawah.

namun ada sedikit kelegaan ;

engkau masih ingat untuk datang

dengan senyum yang sama,

dengan rona wajah yang tidak berubah.

 

Ini adalah tanah tempat kita bermain waktu kecil,

ketika kita sama-sama berlarian,

mencari siput di parit pematang sawah,

menangkap ikan-ikan kecil dan

kadang saling berlemparan lumpur-lumpur

sambil bercanda dan saling mengejek dengan jenaka.

ada satu hal yang paling kuingat,

saat itu adalah sore menjelang senja,

kita menangkap dua ekor capung merah,

engkau lepaskan pita biru yang mengikat rambutmu,

kemudian engkau putus menjadi dua,

bersama kami ikatkan di ekor capung merah dan

melepaskannya terbang kembali ke langit sore yang bergurat jingga.

kala itu engkau mengatakannya kepadaku;

“biar dua capung itu sampai kapan pun tetap bersahabat seperti kita

karena telah kuberikan pita biruku untuknya”

 

Sejenak kami bertatap pandang,

sesaat buyar lamunan masa kanak-kanak

pecah senyum kami menjadi tawa riang

yang entah akan kami terjemahkan seperti apa.

Ada sejumput masa lalu yang telah kembali,

walau hanya kenangan dan ingatan yang sesaat.

(Jogjakarta/Januari/2011/Katjha)

Sepekan Bersama Orang Sujenan


Puisi ini ditulis oleh pada
11 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 4.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Raut teduh merona,

ditelinga kirimu

terselip kuncup setengah mekar

berwarna putih, saat itu aku lupa

menanyakan nama bunga

yang kau selipkan tiap pagi

dan sorenya kau ganti dengan bunga yang baru

namun tetap berwarna putih.

 

Sering kulihat di dahimu tertempel butir-butir

beras putih, entah berapa biji aku malu menghitungnya.

setelah engkau khusuk dalam ritual sajenan pagi dan sore hari

di pura keluarga.

 

Aku kagum begitu engkau hayati sebuah spiritualitas,

di tengah gelora kehidupan yang semakin materialistis,

di antara kerumunan orang memanjakan nalar dan

berkacak pinggang kepada yang ruhani.

Aku kagum dengan perlawanan budaya yang engkau lakukan,

aku tahu engkau tidak membela keyakinanmu

ditengah hedonisme jaman,

karena engkau hanya menunjukkan dirimu

yang menegakkan pribadi yang bertopang pada keseimbangan

alam-diri-sesuatu yang sakral.

 

Ada terpancar hening wajah dan hati yang tercerahkan.

tidak perlu engkau membuat jargon tentang cinta kasih,

yang esa dan tunggal,

karena jauh dari yang orang-orang katakan

engkau berkata dengan gerak langkah,

ketulusan laku

dan raut wajah dengan senyum diatas lesung pipimu.

 

Terima kasih,

lepas dari saat sepekan bersamamu

aku mulai tergerak lagi untuk bertanya ke dalam diri

tentang yang ruhani, spiritualitas dan relung-relung

penyadaran yang masih kosong

dan bergema keriuhan dunia yang hedonis dan penuh kepalsuan.

Ada semangatmu terbawa,

seperti dentang-dentang gaib yang menandakan waktu

untuk menautkan kesadaran

pada yang sakral, bersatu kepada yang harmonis

dan tiap kali menyatakan jiwa kepada semua yang nyata ini

berawal dan berakhir.

 

Tapi aku masih malu untuk menyebut nama Tuhan,

 

(Tuban/Oktober/2010/Katjha)

Dalam Kamar


Puisi ini ditulis oleh pada
9 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

berjeruji hari kelam
berteman dengan lampu-lampu yang enggan bersinar
aku sendiri
tangisi setiap tarikan nafasku yang sia-sia
hingga kering mata

tak ada aksara dalam fikiran
suram
tak ada pena yang menari-nari
di atas kertas

hanya sebatang rokok
terselip dalam jemari
kepulan asap, mencekik

bagai pisau
memotong nadi, aliran darah.
bagaikan tali yang menarikku
dalam lembah kesunyian.

meniti tiap detik
yang masih gelap

Chandra Daniel [ch4ndr4.daniel@xxxx.com]