Jika hari ini adalah hari pencurian sedunia
Apa yang akan kaucuri dariku?
Kaubilang, “puisi-puisimu.”
kau dan aku sama-sama tahu
hanya itu yang sekarang kita miliki
{ 0 comments }
Jika hari ini adalah hari pencurian sedunia
Apa yang akan kaucuri dariku?
Kaubilang, “puisi-puisimu.”
kau dan aku sama-sama tahu
hanya itu yang sekarang kita miliki
{ 0 comments }
Masuklah kedalam bilik-batinmu
dengan telanjang dan inderalah :
Apakah kau mampu menangkap
sebentuk patung dirimu,
isyarat-isyarat rahasia nan agung
yang lewat debu berabad-abad
datang dari hembusan nafas para dewa
Rabalah hatimu,
tataplah wajahmu dan
nikmatilah kehampaan yang murni
Janganlah kau susun dongeng
tentang hewan khayali
tentang akhirat atau alam semesta,
sebelum engkau mengenal siapa
sesungguhnya engkau ?
Janganlah kau tatap indahnya panorama,
atau kau dengar pesona konser musik Beethoven,
atau kau rasakan halusnya hati perempuan,
atau kau cium wangi aroma bunga surgawi
Pupuslah indera lahirmu,
sebelum kau hayati dunia batinmu
Maka tatap dan rabalah lagi patungmu
dan sebelum dia seelok mimpimu :
“Janganlah sekali-kali engkau berhenti memahatnya !â€
{ 0 comments }
sebuah delima berayun sendiri ditangkainya
ketika angin tak bertiup
seperti tatap mata kilat-pisaumu yang
ditelan gulita
aku tak sempat menangkapnya
kemana pula sirnanya api di tungku itu ?
{ 0 comments }
aku ingin kembali pada malam yang kemarin
pada malam yang tak ada dingin
pada malam yang aku rindukan kini
aku ingin kembali pada malam yang kemarin
akan ku belenggu waktu itu
hingga tak bisa pagi yang sepi ini datang
betapa inginnya aku kembali denganmu lagi
melihat keramaian dari jembatan layang dan berbincang-bincang sampai lupa waktu
kasihku, mungkin mimpi kita terlalu indah
karena ternyata mati itu sesuatu yang pasti
kasihku, berjanjilah
nanti saat kepastian itu datang padaku
peluklah aku seperti malam kemarin
{ 0 comments }
langit biru bersambut,
bersama kepakan sayap-sayapmu,
terbang tinggi di atas sebuah padang hijau.
sepasang capung merah, terbang
di bawah birunya langit harapan,
berkejaran sebagai mahligai kecintaan yang melambung tinggi
dalam angan dan impian.
sesaat kujemput pagi ini
dengan senyum dan detak jantung berirama,
kutatap langit biru,
julihat setitik warna merah berpasangan,
kulihat seberkas gairah yang berkejaran
pada birunya rona langit pagi ini.
sebuah pagiku ….. bersama sebentuk kejenuhan,
kulempar pada sepasang capung merah.
seraya kubisikkan dengan liri “usiklah gairah kecintaanku ini”
dengan warna merahmu, seperti musim dingin
yang mengugurkan bunga-bunga sakura.
seperti juga kerinduan ini akan bersemi,
karena kusambut sosok bayangnya,
walau dari mimpi dan sudut keinginan yang mana.
kepada sepasang capung merah,
bawalah bisikan ku itu terbang,
dan singgahkanlah pada tempat yang jauh.
agar dapat kubersembunyi
dari pagi yang sesak dan penuh kegamangan.
terbanglah …….
dan marilah kita jelang impian kita sendiri-sendiri.
( Persembahan kepada Nia/Agustus 2007)
{ 6 comments }
bila tidak dihapus jejak,
suaramu membisik di telinga
merajut mimpi yang pernah kita cari
bawa haru yang mengaburkan asa.
padamkan lilin itu
dan syair pun akan mati
seiring berjalannya senja
yang menghilang di batas kota
jika jejak terhembus kata
apa dan dimana menjadi tanya
dia tetap menjadi debu
bersarang di kalbuku.
aku bercermin pada jendela
mari kita lewati getir berdua
hingga luruh semua jiwa
menatap lagi apa yang tersisa..
bersama kejora disana
mencari sinar yang telah padam itu
mengganti pijarku..
menyinari dirimu.
{ 1 comment }