Kupu Kupu Kertas dalam Senja Pantai Pasir Putih..

berjalan di tepi pantai..
menggengam tanganmu dengan penuh keyakinan..

saat itu pula buih putih menyapa kita..
dan ombak menari dengan indahnya..

burung pantai yg bersautan..
menambah mengertinya aku akan hadirnya dirimu..

kupu-kupu kertas terbang kian kemari..
melukiskan sebuah keindahan dalam senyumanmu..

dan dalam deguban nafasku..
aku ada dalam ketegaran langkah hidupmu..

inikah yg disebut kedamaian..
yg sejak dulu aku tersayat dan terpuruk atas nama cinta..

inikah sebuah jalan yg indah..
saat aku kehilangan arti dari sebuah ketegaran…

sesaat kita terpejam..
dalam hati aku ingin berucap seribu kata,,..

tentang makna Cinta..
tentang makna matahari terbenam..

Cinta yg terlukis dalam kanvas putih..
merah semerah darah..suci sesuci matahari..

sesaat pula badai dan ketakutan datang..
hanya ada kau disampingku..

dan aku Cakrawala…
kutantang badai..
kuubah sesuatu yg gelap dan ngeri.. menjadi sebuah keindahan sunset..

dan aku Kupu2 Kertas..
menghapus letihmu dgn keindahanku..
hingga kau menemukan ketegaran yg kau ingini..

aku berusaha yg terbaik untukmu..

I’m always Beside you.. My Sunset..

I’m always in your beautifuly of your wings.. My Butterfly

sebungkus trasi bau

Seraut wajah luka sepi
Sepi lonceng tertampar mati
Mati sekejap menjerit-jerit lelah
Lelah trbiasa tawa asa
Asa brtemu guratan ayu
Ayu waktu lorong siang
Siang padam malam bintang
Bintang redup luka lalu
Lalu jiwa slalu senandung
Senandung abadi kobar hidup

Narasi Di suatu Pagi

Dan bukan karna,hujan,angin ataupun kemarau
Pada peta perjalanan masa jahiliyah…
Saat khilafah perjuangkan rakyat jelata
Dan bukan karna,asa,siksa,ataupun jera
Malaikat memjelma bagai seorang peminta

Pagi, yang menghujamkan seribu bahasa
Dimulai saat ejaan kata tak lagi mengisyaratkan wacana
Tercucur sudah darah-darah mengalir di kediaman angan
Menghela nafas…
Embun terasa di kulit tangan..
Menyelinap butiran-butiran harapan
Pandanganku hanya tertuju pada langit…
Tentang keteguhan,moral yang seakan dapat di bayar
Nadi ku seakan merasuk otakku
Teduh dalam kiasan..
Sendu dalam lamunan..
Embun itu merasuk hatiku…
Apakah ini…bukan sekedar narasi
Ataukah persepsi..
Dari asa yang tertinggal…
Dari hati yang berbekal…
Pagi itu..hanya aku yang tau..
Bunga mekar menakjubkan…
Angin riang menyanyikan..
Embun datang menyerukan
Kar’na aku masih ada di suatu pagi
Kar’na aku masih bisa bermimpi…

Boy In the First Rain

Seperti hari yang lalu aku masih menanti kehadiran jiwamu dalam kesendirianku,

masih kucoba yakinkan diriku,

malaikatku akan datang senja kali ini,

seperti yang kau janjikan,

walau sudah sepuluh tahun yang lalu,

aku akan selalu menantimu,

dalam ketegaran hidup ini,

kau janji padaku akan menemuiku di pertama kalinya hujan akan membasahi pantai ini, dan saat ini yang kunantikan di tahun ini,

hujan yang pertama kalinya datang,

membasahi tubuh peluhku,

berharap kau datang mengusap basah ragaku ini,

namun kau masih saja tak hadir disini,

basah, dingin, kaku, retak, peluh, hitam, mewarnai hatiku di matahari terbenam pantai Heaven ini,

tak terbesit suatu ketidak percayaanku padamu,

karna tiada malaikat yg berucap omong kosong, kau malaikatku..

Teman dan Cintanya

Dalam sehari perubahan terjadi
Bagaimana rasa itu hilang dari hati
Dan dia pun kembali sendiri
Saat malam yang sepi menghampiri

Berlalunya malam takkan bisa
Menyingkap masa dulu bersama
Ketika indah berikat selalu dengan bahagia
Dan gundah takkan ada lama

Kini semua telah berlalu
Untuk melupakan semua itu
Apa arti teman sepertiku?
Yang hingga kini terdiam membisu

Membisu aku tak mengerti
Rasa apa yang hinggap di antara mereka
Percuma rajin membaca buku
Tak ku dapat darinya sebuah jawab
Mohon maaf teman
Meninggalkanmu sendirian
Semoga tak terjebak kau dalam kesedihan
Dan kau terlahir kembali dengan kekuatan
Masih banyak kesempatan
Masih banyak teman
Dirimu tak kesepian