Kembali

by WebAdmin on April 26, 2011

Tak terasa kita kian hari semakin menjauhi
semakin redup cahaya cinta yang kau beri
semakin kelam hembusan sayang yang ku rasai
semakin dalam pijakan yang ku daki
dan semakin terpuruk oleh masa lalu yg tlah kita lewati .

rasa rindu ini membuat ku semakin menjadi
untuk mendapat sisi dimana aku bersembunyi dalam hati mu ini
pagi, siang, sore hingga dini hari
terasa semakin mengaret waktu yang ku galaui
detik demi detik ku terpatri
karna ku hanya sendiri di sini
mengihlami denyut nadi

malam dingin ku lewati
getar gigi pun tak bisa ku tahan lagi
hingga keram terasa di kaki
kegalauan ini tak bisa mati
otak pun memproses pujahan hati

aku serasa kehilangan butiran mutiara putih berisikan emas mahkota berlapiskan nuansa indah yang di kalungkan seorang putri ,
serasa hilang belahan hati ini
bagai hari tanpa embun pagi
bagai bunga tanpa wangi
bagai siang yang tak bermentari
dan bagai bumi tanpa biasa pelangi .

kau sangatlah berarti
sangat sangat dan amat berarti .
ijinkan aku memeluk, mengecup keningmu lagi
dan saling menggenggam tangan lalui hari-hari sepi dan sunyi
menjalani kerasnya dunia ini
menapaki tajamnya hari-hari
dan saling mengkoreksi introspeksi .

From: dedde DFSAL [fauzidede@xxx]

{ 0 comments }

Pecahkan Botol

by WebAdmin on April 26, 2011

Ku tlah muak dengan kepalsuan
Terpenjara melanda jiwa
Penderitaan menyayat di dada
Dan terasa Perih menganga
Moralitas negara tak ada artinya

Hey kawan, ayo pecahkan botol ….
Hey kawan, ayo pecahkan botol ….
Hey kawan, ayo pecahkan botol ….

DAN LAWAN PARA KORUPTOR !!!

epistemolog kiri [toyawisuda@yahoo.com]

{ 0 comments }

Selamat Tinggal

by WebAdmin on April 26, 2011

Tepatnya kini, aku seperti mengharap mati
bukankah memang hidup memang untuk mati?
bukankah yang diberikanNya akan kembali juga?

Kini permata hidupku telah pergi ditelan perut bumi
dan aku disini seperti orang bodoh yang menurut dengan kehendak hati yang pilu
tidakkah masuk akal, aku yang selalu mendambakannya
hanya bisa berharap dan tak diperbolehkan untuk melihatnya
meski hanya sesaat. . .

kini dia dapat beistirahat dengan tenang
tanpa jiwa yang selalu membayangnya
lepas tanpa rasa yang menyayatnya

Duhai sayang. . .
Tinggalah aku sendiri yang tersayat olehnya
oleh rasa yang aku tak tahu dari mana rasa itu
seakan menjadi penghuni abadi dalam hatiku

Wajah cantikmu mungkin telah hilang
termakan cacing-cacing tanah yang kelaparan
Jujur, aku lebih memilih untuk menjadi cacing itu
dan aku juga cemburu pada bumi yang memelukmu dengan kedamaian

Duhai sayang. . .
Dengarkan aku dan rasaku ini
aku sungguh merindukan akan api itu
“Lilin” ini takkan pernah padam sayang…
meski air seluruh dunia digunakan untuk menenggelamkannya

karena dia sudah abadi
abadi menyertai kepergianmu untuk selamanya. . .

From: Alim Frendi [alimcihui@xxx]

{ 0 comments }

Penantian Semu

by Rumphut on April 20, 2011

Tak usah lagi
kau Bawa mentari itu
yang membakar semangatku,

Biarkan saja aku
Dalam Sepi malam malamku
Tanpa Rembulanmu yang menemani

Oh Gusti,
Hilangkanlah Raut wajah itu
Manja canda tawa itu,

Aku tak perlu Semua itu
Tak Perlu Biduk Indah itu
Biarkan Dermaga ini tetap kosong

Sebagai tempat untuk yang terpilih
Tak perlu biduk yang besar,
Tak perlu Biduk yang semu
Ialah hanya sekedar merapat namun tak bersauh

Cukuplah Biduk yang kecil
sederhana namun setia
Yang rela melabuhkan sauhnya,
Hanya untuk dermaga ini…

{ 0 comments }

Separuh Jiwaku Pergi…

by lembayung on April 12, 2011

malam kian larut dan bahkan hampir dini

namun mataku masih juga tak mau terlelap panas bukan menahan kantuk tapi bengkak ini membuatku enggan memejamkannya

senja tadi untuk yang kesekian kalinya hatiku terluka

jika cintamu itu nyata untukku kenapa kau mampu lakukan itu

seandainya menyayangmu itu kesalahan,

hukuman apalagi yang akan kau berikan….

suara desir angin dan dengung serangga malam membuatku kian tersudut,,

cekikannya seolah mentertawakan diriku,,,

telah kuberikan cinta pada hati yang ternyata tidak mencintaiku dengan ketulusannya

kubiarkan rinduku tergulung dilembar hatimu yang beku

hingga bias fajar menerobos lewat celah jendela kamarku, silau sinarnya tak kuhiraukan

enggan aku bangkit dari tempat tidurku, kumerasakan bagai kehilangan separuh nyawaku…

madahmu semalam menyisakan duka tak berujung dihati dan jiwaku….

kegamangan makin tak terkendali, sosokmu membiarkanku merasakan kepedihan ini sendiri

engkau acuhkan aku,, diammu membuatku kian tersisih

Cinta……..
sampai kapan kau akan siksa aku dengan sikapmu…?

lihatlah…..
lihatlah….
ini tak hanya goresan luka tapi sayatan yang merobek urat nadi hingga keulu hati

kau tahu bagaimana rasanya….?

sungguh kuingin membencimu dengan cintaku,,

melupakanmu dengan menghapus semua kenangan bersamamu,,

kujuga ingin menarik diri dari hidupmu…

namun bagaimana kubisa….
jikalau separuh hatiku ada dibilah dadamu,,

nafaskupun ada berbaur diurat nadimu…
namun sungguh kebisuanmu tak mengharapkan sosok kehadiranku…..

_lembayung kelam_

{ 0 comments }

Rindu Senyumku…

by lembayung on April 12, 2011

mendung itu berubah menjadi guyuran hujan

rinai bukan saja deras tapi sudah teramat sangat hingga membuat gelap semakin pekat dingin……

yaahh dingin mengigit dikulit ariku yang terbalut selembar kain pemberian bundaku waktu dulu

mimpi apa aku semalam….?

perasaanku menyatakan tak bermimpi yang mengerikan

tapi kenapa disaat mataku terjaga hingga waktu menepi kegerbang senja air mata ini tiada juga reda

seperti tetesan bening diluaran sana

bahagiakah aku dengan cerita itu……

kiranya tak penting buat dipikirkan,,

karena apalah arti bahagia buat diriku yang telah tervonis menjadi teman setia lembar_lembar duka lara

kucari bias senyumku diantara tetes bening dijendela kaca buram

namun hingga jengah menguasai hati dan jiwa semburatnya saja tiada aku kenali…..

Ahh dimana senyumku…..?

aku merindukan senyumku….

aku ingin dan berharap kan mengecapi bahagia selayak mereka….

apakah memang aku tak pantas buat bahagia…..

Wahai Rabby……. dialtar kuasaMU kumenanti satu keajaiban dari sinar kasihMU…….

_Le???????_

{ 0 comments }

Ketulusan Cinta

by alimcihui on April 9, 2011

Jika ketakutan itu ada
dialah makhluk yang membuatku lemah
Jika keberanian itu ada
dialah makhluk yang membuatku kuat
Jika Cinta itu ada
dialah makhluk yang membuatku terlena

Batinku telah lemah oleh ketakutan kehilangan Dirimu
Jiwaku telah kuat oleh semua keberanian untuk menunjukkan pengabdianku
Aku terlena akan semua Cinta yang engkau berikan dalam cawan
yang berisi anggur kehidupan

Tiadalah penting bagiku untuk berfikir tentang aku sendiri
Tiadalah cukup namaku untuk bersanding disampingMu
Tiadalah sandaran hati yang lebih tulus dari CintaMu

Rela aku menjalani semua yang fana ini dengan semua keikhlasan
Jikalau aku telah menjadi abu
Namun ruhku dapat tenang bersanding denganMu

Biarlah aku menjadi yang lemah
Namun kuat dan tegar dalam mabuk cinta kepadaMu
Biarlah aku menjadi bisu
Namun Batinku meneriakkan bahwa diriMulah sumber kehidupanku
Biarlah aku buta
Namun jiwaku tetap melihat indahnya kekekalanmu
Biarlah aku mati
Namun hatiku selalu hidup untuk bersanding kepadamu

{ 0 comments }

Rintihan Kerinduan

by alimcihui on April 9, 2011

Disini tempat kuperpijak dan menari-nari
adalah tempat terindah bagi mereka semua
tapi tidak bagiku
tidak bagiku yang telah kehilangan separuh dari jiwaku

semua seperti gula yang tak terasa manisnya
dan air yang tak menghilangkan rasa haus
hidupku seakan tiada makna
hanyalah sebuah presepsi orang
jika aku bahagia dengan berbagai gemerlap harta
namun sepi dalam batin dan jiwa

Tiada yang mampu untuk mengisi dan menghiasinya
Dia yang tercinta telah jauh pergi
Membawa seribu janji dari bibirnya yang indah

Dia telah bersatu dengan penciptanya
yang meninggalkan aku yang sangat mengharap peluk hangatnya
meninggalkan semua keindahan yang akan aku berikan

aku mencoba tertawa dalam tawaku
mencoba menahan air mata kesedihan yang memilukan
tidakkah aku sadar sayang…
setiap hari aku hanya mampu berbicara dengan sebongkah batu nisan
yang disana terukir indah namamu yang selalu aku indahkan

{ 1 comment }

Lebih Indah Merasakan

by alimcihui on April 9, 2011

Saat mata yang indah tak lagi bisa untuk melihat kenyataan dalam fana
Saat bibir tak mampu berucap, dan hati tak mampu merasa
serta Telingapun seakan tak berguna untuk mendengar semua yang ada disekitar kita

Jika aku hidup untuk seribu tahun mendatang
Aku takkan meminta lebih untuk hal itu
Jika hidupku memang hanya untuk sehari
Aku juga takkan meminta lebih

semangatku untuk hidup telah pudar
Aku seperti halnya mayat dan tak berakal
yang dibutakan oleh cinta
melebihi cinta ibu kepada anaknya

Tanah yang kering ini menjadi saksi
bahwa akan menjadi bagian dari sungai air mata
dari kepedihan siksaan cinta ini
semua seperti halnya makhluk yang hanya sebatas tak tahu kemana dia akan berakhir

Kini semua peluh telah aku rasakan
derita demi derita telah aku jalani dan tiada yang mengerti
siapa aku ini, bahkan aku sendiripun lupa apa dan siapa aku ini
Deritaku karena hal yang takkan pernah bisa manusia lihat
dan hanya dapat dirasakan oleh mereka yang benar-benar yakin

Tidakkah kalian mengerti bahwa tiada yang salah dengan sebuah kata cinta
Dia begitu indah dan begitu melekat pada diri sebuah makhluk
hanya bisa merasakan, tanpa bisa mengetahui dari mana datangnya!

{ 0 comments }

Duka Digerbang Senja…

by lembayung on April 8, 2011

senja belum bergeser
kegerbang malam
rintik mulai membasahi bumi
semilir uap dingin jadi saksi bisu
akan detik itu…

detik pertanda digerbang senja
ada duka yang datang dan
membias tak berujung…..

nyatanya tak lama dari
ketermenungan jiwa, dari bilik
hati yang termanggu
kabar bahwa kau memilih
membawa hatimu
pergi…

tak ada petir walau hujan
menyimbah ruah

namun gemuruh dirongga dada
mampu menghancurkan karang
ketegaranku

keping_keping luruh berbaur
dengan airmata dan rinai
hujan…..

”selamat tinggal”

sebaris warkah membuatku
kehilangan separuh nyawa
membaringkanku ketitik
kebisuan dalam terali pesakitan
yang teramat jauh….

antara sadar yang masih
terjaga
antara gelap yang membius
jiwa

pandanganku kabur menatap
Bayang punggungmu yang
menjauh
meninggalkan jejak perlahan
membatu
dikelokan senja engkau
menghilang

Bersama itu pula seluruh asaku
kembali menguap samar…..

pudar lalu menghilang kelangit
kelam…..

_aku yg terbias_

{ 0 comments }