RSSCategory: Sahabat

Foto


Puisi ini ditulis oleh pada
25 September 2012 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 3.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Terpaku menatapnya tersenyum

Meski diam membisu

Indahnya terpajang kaku

Hanya dalam bujur sangkar

Membeku waktu saat itu

 

Rasa malu terpicu

Tatap matanya memandang indah

Tak bisa terpejam

Maka berdegup kencang

Hati yang memandang

 

Selamanya tak bosannya

Meski diam membisu

Tak tersentuh perubahan waktu

Bedakan kini dan lalu

Keinginan tentukan dirinya

Ego dalam kekhawatiran

 

Ia alat seorang pengecut

Berlatih untuk kenyataan

Ia adalah memori sang pelupa

Tanpanya tersesat dalam hidup nantinya

Ia candu manusia

Pernah adalah keberadaannya sang bukti

Ia adalah seni

Mampu menangkap sang waktu

Indahnya saat itu

Dependency


Puisi ini ditulis oleh pada
25 September 2012 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Andai saatnya tiba

Mampu melangkah tak peduli kanan-kiri

Tiada celaka mengena

Sepenuhnya sadar diri

Tanpa dirimu sahabat

Sejati atau bukan

 

Diri ini akan segera datang

Seakan kuat berdiri menantang

Bila harus segera dilakukan

Bila tidak raut malas bukan cobaan

 

Tiada peduli segala nilai kini

Tanpa mu saat ini

Hampa terasa sendiri

Meski dengan mereka yang pernah menemani

Tiada hadir bukan berarti mati

Tanpa dirimu semua bukan teman

Diri ini hanya peragaan

 

Hingga kelak sepi bukan sejati

Segala teman ku raih sendiri

Biarkan diri datang sendiri

Saatnya tiba tak apa

Berkumpul dengan kawan lama

Tak harus melupa sapa

Biarkan diri mengungkap siapa

 

Namun kini sahabat

Tanpamu tiada datang lekang

Bersama mereka diri hanya sekedar peragaan

Maka tiada kan datang

Meski hampa….berisi tapi hampa

Kosong tanpamu sahabat

Kosong…..

Harus Terlupakan


Puisi ini ditulis oleh pada
1 December 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (11 votes, average: 4.27 out of 5)
Loading ... Loading ...

Melangkah dan terus melangkah

Tertatih melangkah menjauh berlari

Dari siapa ia berlari?

Ibliskah itu yang gelap merajai?

Buruk rupakah yang mengejarnya dari jauh?

Pudar pandang tak mengerti

Ia memang berlari pergi

Namun tak ada yang mengetahui

Bahwa nilai pandang bumi

Sungguh benar tak berarti

Karena itu ia berlari

Berlari…….

 

Pernah sejenak ia berhenti

Namun tersesali meski lelah terpenuhi

Peluh dalam sanubari

Lalu ia berhenti menghinggapi

Dan kembali berlari

Melangkah pergi

Salahkah mencinta bidadari

Bila memang congkaknya setajam duri

Sakitnya tak lebih baik dari sepi

Meski kini menyesali

Karena memori menancap abadi

Dalam hidup yang ia jalani

Maka ia berlari

Berlari……..

 

Meski indah berbalut rapi

Namun awal tetap harus mengakhiri

Dengan segala daya ia beralih

Namun laknat orang itu

Bukan teman bila bantu sakiti

Bukan teman bila selalu interogasi

Tak sadarkah kau?

Dia harus pergi….

Atau aku kan selalu berlari

Bukan menghindari sebuah memori

Namun mengais tanah dan mencari

Nikmat sebuah rasa cinta

Benar tak sekadar rasa

Bila teman bantulah melupa

Kini ada pengganti dia

Cinta ini berbeda

Oleh karenanya……

Bila teman janganlah bertanya

Tentang dia yang harus terlupakan

Makhluk Apa Aku Bagimu?


Puisi ini ditulis oleh pada
1 December 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (7 votes, average: 4.14 out of 5)
Loading ... Loading ...

Jangan kasihan karena kesendirianku

Tak perlu kasihani karenaku kesepian

Kasihani diriku yang tak kuat beriman

Kasihanilah aku karena dunia tak memberi teman

 

Atau tiada kasih kau beri

Hingga terasa tiada nilaiku ini

Karena layak gila aku selalu tersenyum

Selalu tertawa seakan dunia panggung lawak

Saat sepi menemani

Saat sadar aku sendiri

 

Meski ramai sanak kau bawa

Meski pesta gemerlap canda

Tiada arti untuk temanmu ini

Maaf daku beribu kali

Sepilah sungguh arti

Sendiri sadarku penting semua itu

 

Tak usah kutuk diriku

Atau hujat tanpa tahu kasih

Sudah sering tersiksa sendiri

Sudah lama dingin sepi menghampiri

Hingga melodi indahmu keluar telinga kiri

Hangat sapamu kudapat tuli

 

Jangan kasihaniku karena sendiri

Tak juga perlu karena sepi

Karenaku biar sadarmu

Bersyukur banyak teman menerima

Bersujud cinta pernah bersandar lama

Bandingku denganmu

Jangan kasihaniku……

Bahagia Pada Akhir Cerita


Puisi ini ditulis oleh pada
20 August 2011 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (21 votes, average: 3.76 out of 5)
Loading ... Loading ...

Semua berawal dari sebuah frasa
Ketika sebuah canda mengukir senyum
Frasa itu datang menulis sebuah cerita
Yang mengalir dalam sungai kehidupan
Tak banyak berjudul namun entah bermakna

Frasa itu datang dari beda
Bila aku pria maka dia wanita
Sungguh pertama takutku menyakiti
Seakan langkahku menghantui
Dirinya yang selalu saja ada
Senyumnya yang selalu mempesona

Frasa itu mulai membebani
Ketika hidup ini tak berhenti mengalir
Permasalahan lain mulai saling berganti
Sementara frasa ini mulai memenuhi
Hingga pada akhir sadar kejamku
Sang pengecut mulai berlari darimu
Itulah aku dengan segala rendahku

Kuharap dia yang baru
Yang selalu mengharapkanmu
Meski aku lebih dulu
Namun dia selalu menatapmu
Tak seperti aku yang menciut selalu
Dia sahabatku mungkin yang terbaik untukmu
Meski frasa ini tetap ada padaku
Kuharap ceritamu berakhir bahagia dengannya
Wahai sahabatku kukorbankan frasa ini untukmu
Bahagialah pada akhir ceritaku yang sendu

Sang Waktu Tua Akan Cinta


Puisi ini ditulis oleh pada
2 June 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (12 votes, average: 4.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

temanku si jenggot kelabu
berhenti entah sejenak
untuk menghentikan waktu
menghentikan senyum
kecanggihan otak homo sapiens itu terhenti
kini ia melantunkan sendu
di pekarangan di bawah rembulan
melodi sedih di hujan rintik

sang jenggot kelabu
kehormatan bagiku untuk mengenalmu
kerendahan hatimu mempertanyakanku
dapatmu membedakan dimensi
atas ruang dan waktu

lagi buatku termenung
suatu hari jenggot tak terurus itu
akan kulupakan hanya demi kekuatan
kenangan itu akan kukubur dalam
saat melihat lemahnya daya pikirmu
runtuhnya tubuhmu
yang kau perbuat akan sesuatu
yang tak pernah masuk akal
yang tak pernah aku pikirkan
yang membuat keberadaanku ada
“CINTA”

lagi akan kutempuh jalan darah
bila aku kan menggubah cinta
suatu bentuk kekacauan yang putih
dimana hitam dapat merasuk
dari suatu sisi yang lain arah
….
hari ini aku kembali tertawa
mudahnya cinta berdarah
tumbuh disekitarku
tanpa denyut nadiku rasakan
tanpa hawa hadir terhembus
dia merenggut satu nyawa
“CINTA”……..

Cinta Seorang Badut


Puisi ini ditulis oleh pada
2 June 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (12 votes, average: 3.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Penipu yang berhati mulia
Jenaka dan berhati baja
Dialah temanku sang bulat telur
Pemicu tawa yang suka mendengkur

Waktu tua telah mengajaknya berlalu
Hingga asin benar memori itu
Pendalamannya akan rasa
Yang lama kuanggap frasa

Ia memahat senyum
Dari hati kaum hawa
Hingga terlaksana
Ia tak segan terus terjaga
Dan mereka pun seakan lupa
Entah apa itu air mata

Namun tak ada kah yang hendak mengerti
Temanku itu mencari rasa
Yang terus ia jaga
Hanya demi seorang wanita

Tapi sebuah canda
Itulah kata dia
Bukan sebuah suka
Hanyalah sebuah dusta
Yang selalu ada
Untuk tawa kami semua

Tapi ia manusia
Yang hatinya pernah tak berdusta
Enggan terlihat air mata
Ia bersembunyi dalam dusta

Kini sang cinta meninggalkannya
Menimbun arti kata tanya
Entah bosan terbiasa
Atau yang lain telah ada

Tak sadar ia termenung
Topeng itu pun runtuh berbatu
Seakan telah berat ia berkarat
Adakah tawa mengajaknya
Aku pun tak tahu
Bukan bakat ku
Dia hanya berlalu
Pergi meninggalkanku

Aku tak mengerti
Adakah frasa itu mengubah rasa
Untuk dirinya, untuk diriku
Dan setiap kata ini pun bersatu
Menuliskan sendu
Milik kawan ku

Sang bulat telur
Pengukir senyum
Para wanita tak berhati itu…

angin


Puisi ini ditulis oleh pada
17 July 2009 dengan 3 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (18 votes, average: 4.28 out of 5)
Loading ... Loading ...

musim dingin..
musim saat hangat menahan nafasnya..
saat angin mencari jati dirinya..
saat salju menyombongkan kesuciannya..
dan yang hidup sebelumnya seakan mati membatu..
hanya menyimpan mimpi..

musim ini..
ada sesuatu yang ingin ku bagi..
kelu lidah ku dan hangat darahku..
mereka mencoba mengungkapkan..
ada waktu yang terlewati dan kenangan yg diresapi..
ada jiwa yg tertinggal dan tersimpan dengan kekal..

kita menanti dengan pasti..
jelmaan harapan dalam hati..
kan datang dengan berlari..

walau tampak kabur..
tersiram air mata..

Rindu


Puisi ini ditulis oleh pada
30 May 2009 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (25 votes, average: 4.12 out of 5)
Loading ... Loading ...

Rindu

Aku rindu usiaku yang telah lalu
Saat renta melapuk rasa termakan waktu
Kuingat saya kubisa hanya sederhana
Mainkan puting susu ibu
Dan lari ke bekapan ayah
Tenang….sunyi…..damai….

Kini tak lagi sama

Semua mau ku sempurna
Saat ku tak mampu semua lalu dan mencibir
Kurasa dewasa dalam kesendirian
Tempat mengadu hanya kelam surya menuju peraduan
Tenang…sunyi…damai…..

Dunia kenapa cepat berubah
Inginku kembali ke masa itu dan berakhir hanya dimasa itu
Jikalau mampu,,,,

Maaf


Puisi ini ditulis oleh pada
2 May 2009 dengan 4 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (36 votes, average: 3.86 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sayang….

Maaf jika untai kataku buraikan mimpi kita

Aku ingin jujur tentangnya

Seorang yang datang saat kau ada

Saat ku bermuka dua dan berbagi cinta

Aku tersadar

Sayang….

Ini bukan salahku dan salahmu

Kuhanya melanjut hidup yang tergaris didahiku

Hidup yang mengantarku padamu dan dia

Ia sungguh sederhana

Ia beri angin sayapku tuk mengepak tanpa minta dahan tuk balasan

Ia beri telinga saat kuingin berbagi tentang segala yang kulalui hari ini

Ia beri aku bicara yang bisa tenangkan badai samudra

Ia beri aku perlindungan hanya dengan sejumput senyuman

Semua ada saat kau berkubang dalam harimu yang perlahan membenam hadirku

Ya, aku tlah berkhianat padamu

Kubagi cinta yang dulu sepenuhnya mulikmu

Kini kuingin jujur padamu

Dia telah ambil tempat dihatiku dan mensemayamkan dirimu

Maaf….

Simak lebih di : pustaka-hati.blogspot.com