Cinta 2 Insan

Yang Pertama

December 1, 2011

Yang Pertama Apa itu cinta? Cinta itu adalah rute trem bawah tanah London Mereka bilang cinta itu indah…? Cinta yang indah hanyalah kecintaan kita kepada keharmonisan Tetapi bukankah cinta juga menyakitkan? Cinta menyakitkan bagi mereka yang tidak bisa menjaga keseimbangan Apa kau percaya pada kesempurnaan dan kemurnian cinta? Even in the greatest masterpiece we can [...]

Read the full article →

Suatu Saat Nanti

October 25, 2011

Sekarang.. Kamu bisa menolak Kamu bisa membenci Kamu bisa mempermainkan Kamu bisa menuduh Kamu bisa mencaci maki Kamu bisa angkuh Kamu bisa menyiksa Kamu bisa menghancurkan hatiku Tapi tidak untuk suatu saat nanti.. Ketika semua telah mati Ketika semua dihidupkan kembali.. Suatu saat nanti.. Aku akan mencarimu Aku akan menemukanmu Aku akan mendekatimu Hingga aku [...]

Read the full article →

Jiwa Yang Rentan

October 3, 2011

Luka hati belum tertutupi Tangis diri menipu mimpi Rasakan dan coba tuk resapi Cinta dalam belenggu sepi Soneta di dalam hati Menjerat tangis lirih Dalam lantunan memekik iri Membara cinta dalam fantasi Kucumbu si cantik ilusi Membakar jiwa dalam imaji Kukubur dibalik jeruji Bias cinta menembus jiwa Warnai jiwa yang kian riskan Senja melayang diatas [...]

Read the full article →

Ujung Tiang Mimpiku

October 3, 2011

Sepi kurasa melebur hati Rindu kurasa membalut imaji Tertawa melihatku sendiri Keheningan iringi langkah diri Ku menangis dalam tawaku Ku tertawa dalam tangisku Terisak-isak mencari hatimu Terbahak-bahak temukan kasihmu Kerinduan yang tak pernah berujung Membimbingku ke ujung tiang mimpiku Menghujamku dan tinggalkan luka pilu Dengan parangnya penggal bahagiaku Luka hati yang tak terobati Terasa perih [...]

Read the full article →

Rindumu Sesaat

June 3, 2011

Kebisuan ini menjadi naif seraya pasrah seperti alang.. kurasakan bidadari hati yang kelabu, menahan lirih seribu rindu.. jantung memang berdebar cepat, membuatku tak terkendali.. suara itu menusuk tepat di sanubari, terus berirama tiada henti.. ah, tapi aku tersadar ini hanya seperti bunga, bunga yang terlupa.. siapa yang tau? ini hanya dusta belaka, hanya aku terlalu [...]

Read the full article →

Bagimu Aku Lidah Tak Berludah

June 2, 2011

ku jamah tabir yang tersirat di ubun, terpecah hening berkarat biru.. kurobek sisa kisah yg berlalu, terbesit hati saat teriris.. kutanya api yg membara, terpaksakan naluri meramah hati.. kugenggam angin yang mendesir, kupatahkan semua tentangmu.. kutemui akhirnya kisah ini .. ” ketika aku bagimu, ketika aku untukmu.. bagai lidah tak berludah bersua lemah semu merindu.. [...]

Read the full article →

bukannya?

December 29, 2010

cinta aku tanpa terkata. rindu aku tanpa terungkap. bukannya lebih menyiksa? teriak aku tanpa suara. bukannya lebih memilukan? menangis aku tanpa isak. bukannya lebih menyedihkan? terluka aku tanpa keluh. bukannya lebih menyakitkan? tertawa aku tanpa rasa. bukannya lebih mengkhawatirkan? begitulah aku. begitulah diriku. hidup bagai hantu. kalau sudah begitu, aku tak tau.

Read the full article →

Segelas Anggur Untuk Guinevere

November 14, 2010

Ini anggur dari daerah Corsica sudah 20 tahun disimpan dalam gudang. tentunya enak kalau kita habiskan berdua untuk sekedar melepas rindu untuk merayakan perjumpaan kita yang terakhir. setelah ini engkau akan pergi jauh ke seberang setelah ini akan aku rindukan setiap malam untuk berjumpa tatap dengan senyummu. Wahai Guinevere mari minum anggur ini segelas berdua, [...]

Read the full article →

Di Pelabuhan

November 14, 2010

Meratap sepi bersama derak-derak ombak kecil berlabuh bersama angin sepoi menggoyangkan pucuk-pucuk tiang kapal. Senja telah usang bersama keremangan yang tak kunjung mencerahkan kerinduan dan sejumpuk asa tentang kecintaanku. Di pelabuhan ini kembali rindu merona menjadi desah-desah kapal menghantam dinding-dinding pelabuhan mengetuk rindu untuk Tuan Syahbandar. Di pelabuhan ini melepas harapan mengkandangkan rindu untuk masa [...]

Read the full article →

Melabuhkan Kata-kata

November 11, 2010

Kata berbuah senyum, seulas, merona Tatap mata terpancar hinggap pada ketegaran bersatu dengan sosok berjalan pelan, kemudian menghilang dalam samar bayang-bayang siang. Kata telah berlabuh, tertambat senyum. Dia telah mengerti, untuk menjadi hati dan kasih tak terpisahkan. Melabuhkan kata, melabuhkan hati. (Katjha/Oktober/2010/Ngawi)

Read the full article →