RSSCategory: Cinta

Mohon Jangan Lepaskan Aku, Begitu Saja


Puisi ini ditulis oleh pada
29 July 2013 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (20 votes, average: 3.35 out of 5)
Loading ... Loading ...

Redup mu membutakan mata hati ini yg gelisah ,

seolah menampar aku yg tertidur ..

bergema dan membuatku tidak mampu bahkan untuk bernafas, sedikit saja ..

suara mu mulai menjauh, hampir tidak terdengar lagi,

bayangmu mulai samar, hampir tidak terlihat lagi,

sungguh aku tidak kuasa merasakan ini, kegelisahan ini, keterpurukan ini ..

Kekasih,

meski angin tidak memihak ku, tapi .. aku tau kau dengar suara hati ini,

terdengar seakan aku membisikan nya, apa yang ingin ku katakan ..

“mohon jangan lepaskan aku, begitu saja”

Hujan


Puisi ini ditulis oleh pada
29 July 2013 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (11 votes, average: 4.36 out of 5)
Loading ... Loading ...

kau buyarkan lamunan

cermin yang teduh kini bergolak

gelombang-gelombang tak berirama . . .

mulai kuperhatikan perbuatanmu

ah, ternyata kau datang coba menghibur

gemercik air kau jadikan layaknya instrumen dalam suatu opera, perlahan semakin megah

ya, kau bawakan dengan wajah tak berdosamu itu . . .

tak peduli kau tetap menghujam

sunyiku lenyap . . .

tapi tak apalah, kubiarkan hingga kau lelah

hingga cerminku kembali teduh, semakin jernih . . .

entah kapan, tapi ku tau kau pasti akan kembali

akan kusambut kedatanganmu hujan

bahkan, kubiarkan kau rusak cerminku, lagi . . .

mungkin kau tau, tapi mungkin juga tidak sama sekali

aku hanya menginginkannya

dia telah pergi . . .

“bodoh, apa yang kau lakukan ?”

“apa yang kau lihat di cerminmu itu ?” (Gemuruh, coba menyadarkanku)

“tak ada gunanya hanya melihat bayanganmu yang mati itu”

“apa kau tau kemana dia pergi ?”

“apa kau akan terus terdiam ?” . . .

marah, kemudian pergi meninggalkanku . . .

aku bimbang . . .

ah sial, sebentar lagi kau datang

buru-buru kuhentikan lamunanku

dan . . .

hey, gemuruh benar, aku harus mencarinya

pasti ada tanda yang tertinggal

pasti ada jalan jika diia memang untukku . . .

secepat mungkin kuberlari keluar pagar rumah

dan kau benar-benar datang, jalan tanah yang panjang itu kau basahi

kau buat kaki ini tak berpijak dengan baik

ternyata kini kedatanganmu bukan untuk menghiburku, hujan

aku tak peduli, ku tetap berlari, mencoba menghindar darimu

sekalipun dinginan menyelimutiku

kau semakin marah, kau tak suka aku mengabaikanmu

aku tau itu, aku hanya ingin menemukannya

itu saja . . .

dan, tiba-tiba kuterdiam . . .

dipersimpangan jalan . . .

terhenti langkah kakiku . . .

kemana kuharus pergi ?

kemana sebenarnya dia pergi ?

dan lihat, tak ada lagi jejak kaki yang dia tinggalkan . . .

lihat apa yang telah kau lakukan hujan !

kini telah kau ambil semua harapanku . . .

tapi, mungkin dulu dia memang untukku . . .

Aku Saat ini


Puisi ini ditulis oleh pada
29 July 2013 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 3.25 out of 5)
Loading ... Loading ...

Saat logika terselimuti oleh emosi
rasa di hati kuasai jasad ini
hari kujalani tanpa tujuan pasti
yang kutahu hanya satu… DIA
Tak bisa kupungkiri otakku teracuni
yang ada di benakku hanya satu…DIA
badanku serasa kaku kala kau ada di hadapanku
tak bisa kukatakan rasaku
walau hanya dalam satu kata
biar, biar saja hanya aku yang tau
kalau engkau pujaan hatiku

Layaknya Drama


Puisi ini ditulis oleh pada
29 July 2013 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kami bertemu untuk berpisah

Kami berjanji untuk tak saling jatuh cinta

Meski dengan dirinya yang begitu sempurna

Dan diriku yang tak punya apa-apa

Seperti kisah drama

Kami tahu akhirnya kan berpisah

Tapi kami lalui jalan bersama

Tersenyum bersama

Berbagi pilu dan perih

Dia tak hentinya berbagi

Aku tak pernah mengerti

Dia terlalu indah

Bukankah kita akan berpisah?

Lalu kami bertengkar

Hingga akhirnya sadar

Kami telah jatuh cinta

Berarti akhir kan segera datang

Entah kutuk atau karma

Kami pun berpisah

Dirinya tetap mencintaiku apa adanya

Aku membencinya dengan seribu cara

Ataukah sebaliknya

Kami terpisah ruang dan waktu

Dirinya terus bermimpi

Aku terus berlari

Berharap kami kan disatukan kembali

Layaknya drama kisah ini berakhir

Demi yang lain

Kisah ini berakhir

Layaknya drama….

Ku harap seperti drama

Kisah ini berakhir

Mati di Tanganmu


Puisi ini ditulis oleh pada
7 January 2013 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Dingin…

Hujan menemani sedari senja

Asap rokok terbatuk dari nafas

Mencoba percuma mencari hangat

Demi dirinya dia

Dia bersandar lemas

Dinding-dinding kayu kasar

Puing merah-merah kelam

Terkait daging-daging busuk

Dari koyak luka-luka

Sejak kapan tak sadar

Buram menggema dalam ingatan

Mereka berlari tanpa dirinya

Asap rokok terbatuk dari nafas

Dingin merajalela….

Hujan tak juga reda

Tiada kata kutuk untuk mereka

Mereka siapa?

Buram menggema dalam ingatan

Sakit tiap detik melihatnya

Ketika hangat hanya mimpi

Bahagia dengan senyum mereka

Kini pun sama

Hanya kini luka untuk mereka

Mereka siapa?

Dingin tiada terasa….

Bukan…bukan untuk mereka

Demi dirinya…

Tenggelam dalam buram

Tercabik-cabik luka

Tersenyum dia

Terakhir untuk dirinya

Dirinya yang mulai menangis

Di hadapannya dirinya menangis

Meski dia berharap senyum

Di saat akhir dirinya menangis

Entah tersadarkah dirinya

Atau hanya bersalah dari hatinya

Hujan tak berhenti

Meski hingga akhir

Hingga sadar dirinya

Dia mati untuknya

Seraya berbisik dia berkata

“Aku mati di tanganmu….”

 

Foto


Puisi ini ditulis oleh pada
25 September 2012 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 3.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Terpaku menatapnya tersenyum

Meski diam membisu

Indahnya terpajang kaku

Hanya dalam bujur sangkar

Membeku waktu saat itu

 

Rasa malu terpicu

Tatap matanya memandang indah

Tak bisa terpejam

Maka berdegup kencang

Hati yang memandang

 

Selamanya tak bosannya

Meski diam membisu

Tak tersentuh perubahan waktu

Bedakan kini dan lalu

Keinginan tentukan dirinya

Ego dalam kekhawatiran

 

Ia alat seorang pengecut

Berlatih untuk kenyataan

Ia adalah memori sang pelupa

Tanpanya tersesat dalam hidup nantinya

Ia candu manusia

Pernah adalah keberadaannya sang bukti

Ia adalah seni

Mampu menangkap sang waktu

Indahnya saat itu

Dependency


Puisi ini ditulis oleh pada
25 September 2012 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Andai saatnya tiba

Mampu melangkah tak peduli kanan-kiri

Tiada celaka mengena

Sepenuhnya sadar diri

Tanpa dirimu sahabat

Sejati atau bukan

 

Diri ini akan segera datang

Seakan kuat berdiri menantang

Bila harus segera dilakukan

Bila tidak raut malas bukan cobaan

 

Tiada peduli segala nilai kini

Tanpa mu saat ini

Hampa terasa sendiri

Meski dengan mereka yang pernah menemani

Tiada hadir bukan berarti mati

Tanpa dirimu semua bukan teman

Diri ini hanya peragaan

 

Hingga kelak sepi bukan sejati

Segala teman ku raih sendiri

Biarkan diri datang sendiri

Saatnya tiba tak apa

Berkumpul dengan kawan lama

Tak harus melupa sapa

Biarkan diri mengungkap siapa

 

Namun kini sahabat

Tanpamu tiada datang lekang

Bersama mereka diri hanya sekedar peragaan

Maka tiada kan datang

Meski hampa….berisi tapi hampa

Kosong tanpamu sahabat

Kosong…..

Guilty


Puisi ini ditulis oleh pada
25 September 2012 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

One word….

Mungkin sudah gila hati ini

Bilamana nada dan lirik kau satukan

Kau hantam emosi ke otak ini

Tak terbayangkan….tak mau membayangkan

Akhirmu yang pasti kan datang

Ku biarkan merasuki hati

Segala kisah tangis dan tawa

Bersatu dalam nada dan suara

 

None again….

Tiada kira memang tak mengira

Berjalan dalam sorot cahaya

Dengan suara terpadu nada irama

Indah sosok menggetar tiada henti

Menghentak emosi sang kaki

Bilamana penuh ego tak sadarkan diri

Cantikmu nadamu senyummu

Meski bukan diri merasa itu

Tak tertahankan ketika khayal mengganti

Meski tak seberuntung itu

Tak mau merugi hingga hilang sempat

Mengkhayalku gantikan dirinya

 

It’s not tears….

Ketika mulai meredup

Mulai bermunculan akhir tak terbayangkan

Kini merasuk segala harap

Harap yang tak mungkin terjadi

Karena bila nyata bagimu

Indahmu tak akan terpaut dalam hati

Terrormu takkan menghantui

Hingga merubah diri

Maka berakhirlah semestinya

Dan dia mengharapmu

Selayak aku menatap buta itu

Meski terpejam ia

Meski buta tiada hangatmu kan menghilang

Memori tak henti menyentuh

Di setiap peluk dalam kisah

Episodemu berakhir

Dan sorot cahaya

Meredup…

 

Fantasies…Goes Around

Kuat Tanpamu


Puisi ini ditulis oleh pada
15 September 2012 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Maaf sayang,,

Kita berpisah disini,,

Bukan berarti aku akan berhenti mencintaimu,,

Dan bukan berarti aku akan menghapus kisah cinta kita,,

Karena itu sudah teramat indah bagiku untuk ku kenang,,

Selamanya,,

Hingga kelak,,

Hingga aku kuat tanpamu

Dari Jauh


Puisi ini ditulis oleh pada
5 September 2012 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Dari jauh telah kutahan

Rasa yang muncul begitu saja

Ketika mendengar semua tawa dan tangismu

Meskipun dari jauh

 

Telah ku dekatkan ruang dan waktu

Kini tak begitu jauh

Kau dan aku

Bertemu dan membuktikan semua

Spekulasi rasa dan paras

Yang aku buat dari jauh

 

Apakah bodohku tak mengerti?

Begitu buramkah mataku

Tak menyadari dari jauh

Bahwa segala indahmu

Telah terikat dengan ruang dan waktu

Milik pria dengan benang takdir

Yang beruntung itu

 

Dengan segala baikmu

Dan tak salah rasa hatiku

Kau jadi milikku

Walau satu malam

Hanya satu malam

Kubiarkan indahmu memesonaku

 

Akhirilah malam indahku

Akhirilah dengan peluk dan nada merdumu

Dan tertoreh tinta ini untukmu

Yang beriku rasa

Dan kan kugenggam dalam melodi malam

Kagumku akan segala indahmu

 

Diriku yang mengenalmu dari jauh

Mengagummu dari jauh

Dan dari jauh memang ku

Harusku dari jauh…