RSSCategory: Bebas

Bersama Ayah Diatas Sepeda


Puisi ini ditulis oleh pada
29 July 2013 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (12 votes, average: 3.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

FotoSketcher - bonceng sepeda2

ayahku seorang petani kecil didesa
sudah terbiasa hidup dengan sederhana
karena penghasilannya yang pas pasan
kemana-mana bersepeda untuk penghematan

aku gadis kecil umurku tujuh
baru saja selesai jam sekolah
kulihat ayahku sudah menunggu
disamping sepeda kesayangannya

setiap hari kesekolah aku diantar ayah
naik sepeda kuno warnanya hitam pekat
rumahku didesa dan sekolahku dikota
aku berangkat pagi agar tak terlambat

setiap pagi aku menyusuri jalanan desa
dikanan kiriku sawah hijau terbentang
udara yang segar membuat nafasku lega
terdengar suara burung berkicau riang

hingga aku sudah duduk dibangku SMA
ayah tetap saja mengantarku pakai sepeda
sepanjang perjalanan ayahku bercerita
tentang pengalaman hidup yang dilaluinya

aku diajarkan untuk hidup sederhana
tak perlu malu kepada siapapun juga
dalam hidup janganlah berbuat hina
agar kelak bahagia bersama keluarga

waktu trus berjalan dan aku melamar kerja
hari itu aku pergi untuk test wawancara
ayah masih saja mengantarku naik sepeda
hasilnya akupun lolos dan diterima bekerja

tempat kerjaku agak jauh ditengah kota
karna itu akupun memilih naik kereta
tapi tetap saja ayah ingin mengantarku
sampai distasiun tepat didepan pintu

begitu pula pada sore harinya
ayah telah menungguku dengan setia
begitu aku turun dari kereta
kulihat ayahku sudah berada disana

aku pulang bersama ayah naik sepeda
sampai dirumah hari sudah agak gelap
tapi aku seringkali merasa tak tega
kasihan juga mendengar nafasnya megap

itulah ayahku begitu sayang pada anaknya
akupun merasa bahagia punya ayah sepertinya
tiada pernah ayah sekalipun mengeluh
meski perjalananku pulang agak jauh

hingga saatnya aku punya jabatan
aku sudah bisa membeli mobil sedan
maksud hati akan memberinya kejutan
ingin rasanya mengantar ayahku pulang

seperti biasa ayah sudah menjemputku didepan stasiun
dari jauh aku sudah melihat ayah disamping sepedanya
setelah mobil selesai kuparkir akupun segera turun
aku bergegas menuju dimana ayahku sedang berada

sesaat aku mengajaknya naik sedan dan membawanya pulang
tapi apa yang terjadi sungguh tak seperti yang kukira
ayahku menolak dan tetap ingin pulang naik sepeda
aku tak bisa memaksa dan mengikutinya dari belakang

ayah mengayuh sepeda tua itu dengan perlahan
dari dalam mobil aku menitikkan airmata haru
betapa ayahku adalah seorang yang sederhana
meski akupun sudah bisa membeli mobil baru

sesaat ingatanku terbang ke masa kecilku dulu
aku melihat seorang gadis kecil dibelakang ayahku
nampak senyum diwajahnya ketika gadis itu tertawa
Tuhan, betapa indah waktu aku sedang diboncengnya..

.oOo.

Pacar Khayalan


Puisi ini ditulis oleh pada
29 July 2013 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (8 votes, average: 4.75 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sesosok bayang dan khayal

Buatan untaian seribu mimpi

Menempuh berbagai cerita tak berakhir

Dalam kepala mengalir bagai memori

Terbentuk berdasar indah cipta sang kuasa

 

Demi mereka yang tak bisa

Bukan untuk yang tak mau

Oleh karenanya takkan tersentuh

Karena biar indahnya takkan memenuhi hasrat diri

Agar tak gila mengubah arah jati diri

Meski menimbun berbagai harap tak sempurna

Entah hendak terbukti ada atau tiada

 

Sosoknya berbeda tiap saat tiap insan

Cermin jiwa dari hasrat indah dunia

Atau dari asa lama yang terlintas saja

Tergabung dengan inspirasi bila ia hidup nanti

Agar terpupuk indahnya

Agar tetap suci ia tak tersentuh

Hanya untuk penciptanya

Hujan


Puisi ini ditulis oleh pada
29 July 2013 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (12 votes, average: 4.08 out of 5)
Loading ... Loading ...

kau buyarkan lamunan

cermin yang teduh kini bergolak

gelombang-gelombang tak berirama . . .

mulai kuperhatikan perbuatanmu

ah, ternyata kau datang coba menghibur

gemercik air kau jadikan layaknya instrumen dalam suatu opera, perlahan semakin megah

ya, kau bawakan dengan wajah tak berdosamu itu . . .

tak peduli kau tetap menghujam

sunyiku lenyap . . .

tapi tak apalah, kubiarkan hingga kau lelah

hingga cerminku kembali teduh, semakin jernih . . .

entah kapan, tapi ku tau kau pasti akan kembali

akan kusambut kedatanganmu hujan

bahkan, kubiarkan kau rusak cerminku, lagi . . .

mungkin kau tau, tapi mungkin juga tidak sama sekali

aku hanya menginginkannya

dia telah pergi . . .

“bodoh, apa yang kau lakukan ?”

“apa yang kau lihat di cerminmu itu ?” (Gemuruh, coba menyadarkanku)

“tak ada gunanya hanya melihat bayanganmu yang mati itu”

“apa kau tau kemana dia pergi ?”

“apa kau akan terus terdiam ?” . . .

marah, kemudian pergi meninggalkanku . . .

aku bimbang . . .

ah sial, sebentar lagi kau datang

buru-buru kuhentikan lamunanku

dan . . .

hey, gemuruh benar, aku harus mencarinya

pasti ada tanda yang tertinggal

pasti ada jalan jika diia memang untukku . . .

secepat mungkin kuberlari keluar pagar rumah

dan kau benar-benar datang, jalan tanah yang panjang itu kau basahi

kau buat kaki ini tak berpijak dengan baik

ternyata kini kedatanganmu bukan untuk menghiburku, hujan

aku tak peduli, ku tetap berlari, mencoba menghindar darimu

sekalipun dinginan menyelimutiku

kau semakin marah, kau tak suka aku mengabaikanmu

aku tau itu, aku hanya ingin menemukannya

itu saja . . .

dan, tiba-tiba kuterdiam . . .

dipersimpangan jalan . . .

terhenti langkah kakiku . . .

kemana kuharus pergi ?

kemana sebenarnya dia pergi ?

dan lihat, tak ada lagi jejak kaki yang dia tinggalkan . . .

lihat apa yang telah kau lakukan hujan !

kini telah kau ambil semua harapanku . . .

tapi, mungkin dulu dia memang untukku . . .

JADILAH TEMANKU UNTUK SEKEDAR BERLARI


Puisi ini ditulis oleh pada
29 July 2013 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

.
sepetang inipun ku masih sendiri
berteman secangkir kopi yang mengepulkan wangi sejati
dan diselimuti pucatnya cahaya sang bulan yang menari
diatas langit diapit permata berkelip menggoda hati
.
Dan warna pucatpun sudah pasti kau beri
namun tetap kubiarkan hati bersenandung menyanyi
karna kunikmati indahnya duniawi
yang diciptakan dari indahnya surgawi
.
segaris banyangan melangkah dari cangkir kopi
dan pelan pelan mencoba jauh berlari
seiring sang purnama mengendap-endap bersembunyi
diantara sang mega yang membariskan diri
.
dan sepetang inipun ku masih sendiri
membiarkan impian terus saja mengusik diri
membayangkan jutaan impian yang kian berseri
mengisi ruang kosong yang enggan sendiri kusinggahi
.
Oh purnama…berikanlah senyummu yang paling berani
akan kuterima dengan senang hati
jadilah temanku untuk sekedar berlari
melepaskan diri dari penatnya dunia ini
.
.
Seto Danu
Cogito Ergo Sum
Batam.LK.COrner Stairs.25.04.13.08:44PM

Warna dalam hati


Puisi ini ditulis oleh pada
29 July 2013 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (7 votes, average: 4.29 out of 5)
Loading ... Loading ...

dibalik jendela ku berkaca
terhimpit angan ingin bersua
menatap kikuk sayukan mata
bercerita tentang indah aurora

lamban detik waktu berjalan
lemahkan langkah yang tertahan
dalam senyum kusembunyikan
dalam hati ku ungkapkan

maaf,..
ku hanya pecundang

diujung bumi kau bersembunyi
ditempat hampa cahaya matahari
rapuhkan khayalan dan majinasi
namun aku hanya bisa menanti

bukan ku enggan memeluk mu
ku hanya ingin tahu apa yng ada dalam fikir mu
bukan ku enggan menghampiri mu
ku hanya takut membencimu

maaf,..
ku hanya pecundang

hanya dalam hati ku berbicara
hanya dengan pena ku berkata
” maaf…”

tanda tanya


Puisi ini ditulis oleh pada
29 July 2013 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 3.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

tersirat ukiran sebuah kenyataan
terukir siratan sebuah keberadaan
menyingkirkan sbuah keyakinan menjadi sebuah pertanyaan
dalam penat yang tergulung aura kemungkinan

nyata tidak nyata..
benar tidak benar
tidak ada yang tau
tidak ada yng mau mengusik bahkan melirik.

hanya angan dan bayangan
hanya perumpamaan pada keyakinan
tak ada yang tau pasti pada keadaan
berpegang teguh hanya pada kemungkinan

nyata tidak nyata
benar tidak benar
tidak ada yang mengerti
hanya hujaman pertanyaan menghakimi diri..

Layaknya Drama


Puisi ini ditulis oleh pada
29 July 2013 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 4.20 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kami bertemu untuk berpisah

Kami berjanji untuk tak saling jatuh cinta

Meski dengan dirinya yang begitu sempurna

Dan diriku yang tak punya apa-apa

Seperti kisah drama

Kami tahu akhirnya kan berpisah

Tapi kami lalui jalan bersama

Tersenyum bersama

Berbagi pilu dan perih

Dia tak hentinya berbagi

Aku tak pernah mengerti

Dia terlalu indah

Bukankah kita akan berpisah?

Lalu kami bertengkar

Hingga akhirnya sadar

Kami telah jatuh cinta

Berarti akhir kan segera datang

Entah kutuk atau karma

Kami pun berpisah

Dirinya tetap mencintaiku apa adanya

Aku membencinya dengan seribu cara

Ataukah sebaliknya

Kami terpisah ruang dan waktu

Dirinya terus bermimpi

Aku terus berlari

Berharap kami kan disatukan kembali

Layaknya drama kisah ini berakhir

Demi yang lain

Kisah ini berakhir

Layaknya drama….

Ku harap seperti drama

Kisah ini berakhir

Melawan Cahaya


Puisi ini ditulis oleh pada
9 April 2013 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Aku tidur di antara tawa dan doa

Terlelap dalam selimut cahaya

Aku tertidur setelah sekian lama

Tiada peduli lagi sibuk dan kerja

Beban itu kuletakkan semua

 

Ketika gelap begitu menggoda

Meski terang sinar cahaya

Kelopak mataku menutupi mata

Biarkan gelap memberi tanda

Bukan lagi waktuku untuk cinta dan bahaya

 

Segala ilmu berteori

Tubuh ini masih mampu memberi

Apa daya sang mimpi

Beri ruang untuk pergi

Jauh-jauh dari jangkau sakit hati

Dari kasih yang kau terima dengan pergi

 

Maka aku tidur di antara nyata dan mimpi

Memilih untuk terdiam sendiri

Meski ku tahu pasti

Ku ingin bermimpi hingga datang sang pagi

 

Lagu Kebangsaan Nina – Bobo ( Tahun Masa Kritis ) Oleh : Achmad Obe Marzuki


Puisi ini ditulis oleh pada
9 April 2013 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Di bawah pimpinan para koruptor
Di tanah negeri berlambang burung perkutut
Rakyat minta kesejahteraan merata
Menunggu sepanjang sejarah
Sepanjang tahun penuh janji
Meletus bom bom waktu, boom !

Lagu kebangsaan nina – bobo, paling tepat !
Mari kita nyanyikan
: Nina – bobo, o nina – bo – bo
“ fantastis, sungguh menghanyutkan “
Ada kesaksian di tembak mati di tengah masa di anggap pahlawan kesiangan
Dan anak – anak berdiri disetiap perempatan sambil bertepuk tangan lalu mengetuk
Kaca jendela mobil tuan
Para pelacur kehilangan penghasilan
Ekonomi anjlok, manipulasi dollar lebih naik
Ibu – ibu antri sembako
Para tengkulak sibuk menyimpan harta karun
Dan petani termangu menatap asing jaman

O, nani
Aku disini tak mampu lagi membaca
Lantaran tv selalu pertontonkan perdebatan basi
Malam hanya membawa kabar mencekam
Dari berbagai penjuru
Peluru meletus seperti siluman, tar tar tar !

Dalam gedung ambruk tubuh – tubuh telanjang
Tanpa kepala hangus terbakar
Tanpa identitas, tanpa pertanggung jawaban
Tubuh – tubuh masuk ruang otopsi
Jadi bahan praktek mahasiswa kedokteran
Kaki – kaki berlari saling berkejaran menembus gang – gang sempit
Bersembunyi di balik sudut – sudut kota

Saat bendera setengah tiang berkibar – kibar siang bolong
Berita Koran pagi sudah bercak darah
Jika aparat dan politikus berpuisi
Tentu tidak jatuh korban

Sejenak berani cooling down
Ketika bentrokan jadi rawan
Rakyat turun mengheningkan cipta
Berduka di tengah masa

Puisilah menjelma saksi
Menjadi kesadaran dirinya
Di hadapan undang – undang putri adil

1998/2012

iseng


Puisi ini ditulis oleh pada
29 March 2013 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (7 votes, average: 2.29 out of 5)
Loading ... Loading ...

basuhi bibir dengan ucapan manis
hilangkan dahaga romansa kata
dengarkan irama tarian lidah
melantunkan nada suka cita

berkeringat dahi ini
mengalir deras serasa waswas
tak padan ku untuk mengatakan
ingin sekali engkau aku bahagiakan

tak patut aku berjanji
karena aku takut tak mentepati
tapi aku bisa memberi
sedikit kepercayaan diri untuk berlari

ku tahu kau akan selalu ragu
tak sebutirpun kau percaya padaku
tapi aku mampu
menghapus ragumu dengan usahaku…