RSSCategory: Alam

Penyelam Kata


Puisi ini ditulis oleh pada
17 November 2012 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (17 votes, average: 3.24 out of 5)
Loading ... Loading ...

Ombak-ombak itu berseru-seru
Dan angin pun berbisik pelan
Menyambut darah-darah baru
Dari kutub utara hingga selatan

Adakah engkau menjawab panggilnya?
Sang mentari
Adakah mulutmu mengucap kata?
Menjawab laut bahari

Ikutlah suara kepakan sayap itu
Burung-burung camar yang terbang rendah
Agar kelak kita menjadi satu
Berbagi cinta dengan senyum yang ramah

Mari, kemari, kawanku
Datanglah ke pantai waktu
Berenanglah ke tengah laut itu
Jiwa kita menjadi satu

Selamilah
Tenggelam
Arungilah
Lautan kata-kata tenteram

*dapat dilihat juga di http://worddiver.wordpress.com 

Whiterock


Puisi ini ditulis oleh pada
28 July 2012 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 3.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Arus yang di tengah laut…

 

Kemanakah dirimu terhanyut?

terasut dan tenggelam…

Kemanakah hati itu pergi…?

meninggalkan aku di pesisir pantai…

 

Kelap-kelip air laut yang dicium sinar mentari

berdansa lincah menyambutmu,

meninggalkanku terpesona dalam hampa

 

Satu Tanya yang tertinggal,

tak terjawab…

 

Hanyutkah engkau terbawa arus yang menggoda?

atau benarkah kau sengaja menyelam…

biar hilang dari duniaku?

 

Oh, cepatlah mentari kau rebah!

biar kurengkuh sepiku

bersama datangnya pekat sang malam

 

Karena aku.. dan pantai ini..

tak sanggup lagi saling bercerita

di tengah hangatnya hari

 

 

catatan penulis: whiterock adalah nama tempat di dalam daerah Metro Vancouver, Canada (http://en.wikipedia.org/wiki/White_Rock,_British_Columbia)

Penjaga Mawar dan Kehidupannya


Puisi ini ditulis oleh pada
1 December 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (22 votes, average: 4.23 out of 5)
Loading ... Loading ...

Bulan tak juga penuhi
Malam itu sinar bulan tak menyapanya
Namun tak sesunyi malam
Gemerisik bunga mawar
Memberinya alunan nada
Menidurkannya dengan pelan
Layaknya belaian ibunda
Yang telah tiada

Tak ada lagi selain malam
Yang ia inginkan
Meski tak berbulan
Ia tetap dapat hilang
Dalam khayal menjauhi realita kehidupan

Tetap terjaga
Mawar dengan merah darah
Meski dalam mimpi terjaga
Hanya untuknya
Meski tajam duri melukai
Tetes darah hanya untuknya
Saat tersenyum mekarnya kala pagi
Takkan ada yang mengganti

Kala terbangun mawar itu pun tersenyum
Dengan merahnya yang indah
Monoton….
Inilah hidupnya….
Meski darah tetap tertetes
Saat ia di dekatnya
Hanya mawar itu…
Hanya merah itu…
Ia dapatkan indahnya hidup ini

Kobar Bunga Dalam Senja


Puisi ini ditulis oleh pada
3 October 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (19 votes, average: 3.95 out of 5)
Loading ... Loading ...

Pernahkah mencinta api?
Yang kobarnya memerahkan senja
Perciknya menggubah hangat
Namun tiada pernah bertuan
Bebas sebelum redup
Cahayanya memencar keindahan
Dalam kengerian ia berkobar

Ingatkah indah bunga?
Yang warnanya tentramkan mata
Harumnya tebarkan pesona
Hingga khayal tidak henti
Sebuah perbandingan keindahan
Pada semua makhluk ciptaan Tuhan
Dalam paradigma ia dibandingkan

Maka saat sabit bulan datang
Sinarnya pantulkan keindahan
Dari bunga dan api
Kobaran indah….
Dari harumnya kehilangan
Ketika bunga mencinta sang api

Dan mereka buta kan rasa
Keindahan itu menghilang
Dalam sebuah hasrat yang tertinggalkan
Sebuah kenang akan percampuran
Keindahan yang mengerikan

Hutan


Puisi ini ditulis oleh pada
26 April 2011 dengan 4 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (24 votes, average: 3.88 out of 5)
Loading ... Loading ...

hutan..
kau hasilkan udara segar
udara segarmu,seakan menghilangkan sekejap kepenakan ditubuh ku

hutan…
kau adalah sumber kehidupan
kau menghidupkan berbagai macam hewan di dunia ini

hutan..
kau adalah paru paru dunia

tanpa kau..
mungkin dunia ini akan terasa begitu panas,karna kau tidak dapat menyejukan nya kembali

tanpa kau..
mungkin hewan langka didunia ini tidak akan pernah kami lihat lagi,karna kau sudah tidak ada untuk menghidupkan mereka

hutan..
begitu banyak manfaat mu
aku berjanji akan melindungi mu
aku tidak akan pernah menyakitimu

karena engkau..kami dapat bertahan hidup..

jadi..kawan kawan lindungi lah hutan kita!!!!

From: remasilvina yuniardini [rema_silvinaandini@xxx]

Perempuanku


Puisi ini ditulis oleh pada
11 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (9 votes, average: 3.56 out of 5)
Loading ... Loading ...

Bukan musim tanam padi,

engkau datang dan memalingkan muka

terdiri di pematang sawah kering,

seulas senyummu, bagai ketegaran burung bangau

menanti hujan.

 

Adakah yang salah ketika engkau datang,

tanah tempat kita bermain dulu berubah gersang.

hilang rumputan hijau, tanpa capung-capung merah.

hanya pematang kering dan langit yang masih sama biru.

 

Perempuanku..

selamat datang di tanah yang hilang petaninya

hilang kerbau, hilang gubuk di tengah sawah.

namun ada sedikit kelegaan ;

engkau masih ingat untuk datang

dengan senyum yang sama,

dengan rona wajah yang tidak berubah.

 

Ini adalah tanah tempat kita bermain waktu kecil,

ketika kita sama-sama berlarian,

mencari siput di parit pematang sawah,

menangkap ikan-ikan kecil dan

kadang saling berlemparan lumpur-lumpur

sambil bercanda dan saling mengejek dengan jenaka.

ada satu hal yang paling kuingat,

saat itu adalah sore menjelang senja,

kita menangkap dua ekor capung merah,

engkau lepaskan pita biru yang mengikat rambutmu,

kemudian engkau putus menjadi dua,

bersama kami ikatkan di ekor capung merah dan

melepaskannya terbang kembali ke langit sore yang bergurat jingga.

kala itu engkau mengatakannya kepadaku;

“biar dua capung itu sampai kapan pun tetap bersahabat seperti kita

karena telah kuberikan pita biruku untuknya”

 

Sejenak kami bertatap pandang,

sesaat buyar lamunan masa kanak-kanak

pecah senyum kami menjadi tawa riang

yang entah akan kami terjemahkan seperti apa.

Ada sejumput masa lalu yang telah kembali,

walau hanya kenangan dan ingatan yang sesaat.

(Jogjakarta/Januari/2011/Katjha)

Kepada Mbah Maridjan


Puisi ini ditulis oleh pada
16 November 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (9 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sosok tua yang lugu dan sederhana

tersenyum ramah kepada siapa saja,

kini telah tiada, berpulang dengan kesetiaan

yang teguh terpegang.

Dia tidak akan meninggalkan amanat yang diembannya

Dia tidak akan meninggalkan merapi

apa pun yang terjadi.

hidup baginya adalah kesetiaan

kepada panggilan jiwa.

pengabdianya bukan kepada penguasa

tetapi kepada hati nurani

yang ingin selalu berdampingan dengan alam

untuk menerima segala marah dan keramahan merapi.

Mbah …. setelah berpulang

engkau akan menjadi inspirasi jutaan orang

untuk setia pada langkah hati dan gerak tulus nurani

untuk menjaga alam dan laku teguh pada pendirian.

Mbah …. aku ingin sepertimu

ibarat seorang prajurit,

kematian yang utama baginya adalah di medan tugas

bukan di tempat tidur pembaringan yang nyaman.

Mbah … pulanglah dengan damai

istirahatlah dengan senyum mu yang sederhana dan tulus.

Mbah … semangatmu senantiasa kami bawa

untuk menjadi inspirasi dan penerang hati dan jiwa-jiwa

kami yang terkadang rakus dan angkuh.

Selamat jalan Mbah Maridjan  ….

(Katjha/Mengenang Mbah Maridjan/November 2010/Jogjakarta)

sang malam


Puisi ini ditulis oleh pada
8 June 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (7 votes, average: 3.14 out of 5)
Loading ... Loading ...

SANG MALAM
Hening….snyap…
hanya kidung angin membelai sang rimbun,
sesekali brgoyang, seolah trbuai lembutnya sang semilir.
Dalam sepimu…
membungkam jiwa-jiwa serakah
membius hati yang egois
meredam amarah yang bergejolak
menyelimuti asa yang terpatri
merayu sang penjaga,tuk lelapkan rasa..
meretas angan sang pemimpi.
Dalam senyapmu…
terkadang jadi perantara rindu bagi sang penunggu..
inspirasi suci bagi sang pemikir..dan tak sedikit,
sang pelipat bersembunyi dalam celah.
Hening…senyap…
mengubur berjuta lelah
hanya rembulan yang tetap bersanding..
ketika dekapmu semakin larut terbenam kesenyapan.
(09 januari 2009)..sudut kamar (00.05)

Narasi Di suatu Pagi


Puisi ini ditulis oleh pada
21 December 2009 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (14 votes, average: 4.14 out of 5)
Loading ... Loading ...

Dan bukan karna,hujan,angin ataupun kemarau
Pada peta perjalanan masa jahiliyah…
Saat khilafah perjuangkan rakyat jelata
Dan bukan karna,asa,siksa,ataupun jera
Malaikat memjelma bagai seorang peminta

Pagi, yang menghujamkan seribu bahasa
Dimulai saat ejaan kata tak lagi mengisyaratkan wacana
Tercucur sudah darah-darah mengalir di kediaman angan
Menghela nafas…
Embun terasa di kulit tangan..
Menyelinap butiran-butiran harapan
Pandanganku hanya tertuju pada langit…
Tentang keteguhan,moral yang seakan dapat di bayar
Nadi ku seakan merasuk otakku
Teduh dalam kiasan..
Sendu dalam lamunan..
Embun itu merasuk hatiku…
Apakah ini…bukan sekedar narasi
Ataukah persepsi..
Dari asa yang tertinggal…
Dari hati yang berbekal…
Pagi itu..hanya aku yang tau..
Bunga mekar menakjubkan…
Angin riang menyanyikan..
Embun datang menyerukan
Kar’na aku masih ada di suatu pagi
Kar’na aku masih bisa bermimpi…