RSSCategory: Bunga Matahari

Berbaringlah Diam-Diam


Puisi ini ditulis oleh pada
4 August 2013 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 3.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

berbaring, berbaringlah diam-diam
bersama-sama kita akan tenggelam
hanyut di gelombang warna-warna
pendar-pendar kemilau pusaran cahaya

bulan akan mencium matari
tanah dan pohon selalu menari
di sini, di dunia kecil milik kau dan aku
langit akan selalu berwarna merah jambu

berbaring, berbaringlah diam-diam
kita akan terbang makin dalam
ke dunia pendar ribuan warna
dunia tanpa tangis tanpa luka

bulan akan mencium matari
tanah dan pohon selalu menari
di sini, di dunia kecil milik kau dan aku
langit akan selalu berwarna merah jambu

bebas merdeka!

Posted By: kapalselam_k @ milis bungamatahari

Asmara dalam aksara


Puisi ini ditulis oleh pada
4 August 2013 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (8 votes, average: 4.25 out of 5)
Loading ... Loading ...

Ada asmara dalam aksara
Ketia kita hanya bisa berbalas kata..
Ketika langit sendu dan terbata-bata
Melantun..merindu lalu menua..

Asmara tanpa kata..
Ada aku.. Kamu.. Dia..
Ketika dia melata dalam dada..
Maafku untukmu yg tak terbina..

Aksara.. Aku pada dia..
Padamu.. Jangan dulu berlalu..
Mungkin dia cukup saat ini bagiku..
Dalam aksara yg sempat berwarna..

Mungkin bintang tengah melilitkan rinduku padanya..
Aku denganmu.. Seolah merona karnanya..
Hampir saja.. Ya..
Ya.. Dalam nada psychedelia..

Bekasi,2013, 21 juni
Hampir pagi
:) Regards.

Posted By: kahardreams @ milis bungamatahari

Jantung Malam


Puisi ini ditulis oleh pada
31 July 2013 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 3.50 out of 5)
Loading ... Loading ...

: lelaki air

pada jaman elektrik ini
aku terbiasa tenggelam
di lautan bayang-bayang
tiang kaki matahari
yang menelan jarak dulu dan nanti

mungkin terlalu sering aku tersesat
di lalu lintas padat
gelombang warna
dari matamu yang rahasia
memabukkan makna

karena setiap debar gumam
di jantung malam
aku terjaga oleh semu geletar
menjalar dari paras tidurmu yang berpendar


life, what is it but a dream?
-LC-

Posted By: malaikat kecil (ingrid_nabu) @ milis bungamatahari

Kupu-kupu, lebah dan kembang kacang


Puisi ini ditulis oleh pada
31 July 2013 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 2.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

seekor kupu-kupu terbang
hinggap di lanjaran kacang

tak lama kemudian
seekor lebah datang
menyesap sari kembang
yang mekar ungu terang

dimataku, kupu-kupu itu
serupa cinta yang sedia
menunggu

menetapi ritus rindu
bersetia beratus-ratus windu

2013

Posted By: lailatul kiptiyah @ milis bungamatahari

Surat Untuk Ayah


Puisi ini ditulis oleh pada
9 February 2011 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (24 votes, average: 4.29 out of 5)
Loading ... Loading ...

siapa bilang aku tak boleh tidur di siang
hari?
bagiku langit biru
terlalu menyilaukan untuk
dinikmati.
lebih baik kututup saja mataku
dan menyimpannya
untuk bulan nanti malam.

ya. aku memang jauh
dari terang
kalau kau ingin tahu.
tempatku
tinggal
hanyalah sebatas bayang-bayang di
kakimu.
merangkak terus di atas bumi
seperti pesakitan
kusta
yang tak kunjung sembuh.
ya. begitulah aku di siang
hari.
hanya seonggok bayang penuh koreng.
tapi lihat jika
senja mulai surut
dan gelap mulai datang.
tubuhku
yang hanya sepetak itu
akan membengkak
dan akan
meluap–
membanjiri segenap ruang
dalam planet aneh ini.
dan
semua luka yang ada padaku
akan berputar
dan akan
menari–
menjadi sekawanan bintang
berkerjapan
pelan-pelan.
ya. aku memang jauh dari terang.

dan mataku

mereka hanya untuk bulan nanti malam.
dan bukan untuk
langit biru
yang selalu menyilaukan ‘tuk
dinikmati.
jadi siapa bilang aku tak boleh tidur di siang hari?

selesai: 13 agustus 2000

*judul lengkap:
“surat untuk ayah yang tak akan pernah tertuliskan”

violet_eye_1979

Sosok Itu Di Ruang Hampa


Puisi ini ditulis oleh pada
9 February 2011 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (14 votes, average: 4.07 out of 5)
Loading ... Loading ...

Apa yang kau cari?
Tak ada yang penting di sini.
Hanya pemikir yang dikuasai
isi kepalanya sendiri.

Kau mencari matahari
dalam ruang sempit ini.
Sementara si penghuni
sibuk menenangkan suara-suara sunyi.

Cecar dan cercamu tak berarti.
Memang sulit bagimu untuk mengerti.
Bagimu, dia ibarat anomali,
yang selalu memaki luka dan bersemayam dalam sepi.

Ah, langkanya simpati dan empati.
Indahnya duniamu, jauh dari murka dan patah hati.
Sayang, di matamu dia hanya pecundang berkubang sedih,
bukan petarung yang mencoba bangkit kembali…

Masih mencari-cari?
Percuma, jika engkau masih enggan mengerti.

“kucing3warna” [kucing3warna@...]

Do’amu


Puisi ini ditulis oleh pada
9 February 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (14 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Aku terlelap dalam gelap mendekap.
Suaramu bergaung suram dalam kelam.
Do’amu-kah, wahai kawan lama?
Entah kenapa, kembali aku ingin mendengarnya.
Rindu menyiksa, kejam setajam sembilu.
Setengah mati ingin kusingkirkan haru,
terlalu muak dengan air mataku.
Harus kubunuh harap akan segala yang semu.
Terlalu lama kutunggu
pedih yang sulit terobati tak jua berlalu.
Sebisa mungkin, kau tak perlu tahu.
Aku juga enggan menyiksamu
dengan rasa bersalah yang tak perlu.

Masih berdo’a, wahai kawan lama?
Terima kasih, karena aku masih membutuhkannya.
Hanya demi kau, rela kupalsukan tawa
atas nama cinta yang tak boleh cemar,
atas persahabatan yang jangan sampai bubar.

Semoga do’amu terkabul sepenuhnya,
mengingat aku masih butuh percaya
cinta akan seadil Sang Pencipta
bukan lelucon kejam belaka
pengundang iblis ‘tuk tertawa
menghina semua luka…

(Jakarta, 11/12/2010)

“kucing3warna” [kucing3warna@...]

Jejak Kaki yang Hilang


Puisi ini ditulis oleh pada
9 February 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 4.33 out of 5)
Loading ... Loading ...

Rabu pukul sepuluh malam
lebih sepuluh menit

Bangku besi peron satu
stasiun kereta

Duduk uncang dua kaki
sendiri

Sebelah kananku
sepasang sejoli
Tertawa kecil riang
dalam canda

Terngiang aku akan tawamu
dalam ingatan yg lalu

Malam ini sama kulalui
Tanpa dirimu lagi

Biasanya janji kita disini
Pulang malam jemput mimpi
Hingga lelah mata terkunci
Dalam pelukan malam yg sepi

Tunggu kereta
Dalam tujuan yang sama
bercengkerama
Lepas bosan yang ada

Jejak kakimu masih terasa
Dalam peron satu gondangdia
Bangku besi yang sama
Hanya jejak kaki tersisa

Membumbung tinggi sang angan
Terbawa angin malam kencang
Mencari jejak kaki hilang
Dari sisa-sisa sepihan kenangan

Selamat malam,
utkmu yang tersayang

Stasiun Kereta Peron Satu.
Menunggu Kereta terakhir

– albiruu –

Nyanyian camar


Puisi ini ditulis oleh pada
8 February 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (9 votes, average: 3.78 out of 5)
Loading ... Loading ...

Petang bagiku adalah sarang
dimana angananganku riang menerawang
membawa lelah dan risauku pulang
di hening dada karang

kubawa serentetan lagu sendu
lewat paruh dan sayapku
setelah kuterdekap gemerlap pagi
tempat kubaringkan penggalan mimpi

kelak tak perlu kutakut pada sepi
di taman surga Illahi

Februari 2011 (1432 H)

lailatul kiptiyah [laila_kip@...]

Perpisahan Dua Malaikat


Puisi ini ditulis oleh pada
2 February 2011 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (8 votes, average: 4.75 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kepada D yang masih saja bersemayam di dasar hatiku

mempercayai segala dusta mereka tentangmu
memang bukan sebuah kearifan
namun inilah yang menjadi pilihan dan keputusanku!
setelah aku sadar sepenuhnya
bahwa ternyata hatimu lebih kejam
dari bisa ular berudak

Bisa saja aku memberimu kesempatan kedua
namun bukankah kau dengan sadar pula,
lebih memilih kemaksiatan itu sebagai surga
Mempersembahkan tubuhmu ke hadirat para setan didalamnya
laksana menyanyikan himne-himne suci kepada para malaikat

ah, kau-pun merasa telah sangggup mendefinisikan dunia
dengan sebaik-baiknya!!!
Kau tak hendak membaginya
aku-pun tak hendak turut serta di dalamnya
biarlah kita sekarang berjalan sendiri-sendiri saja
tanpa berharap pernah bersua lagi

Sebab duniamu yang kuanggap kufur
nyata-nyata akan mengurangi
nilai kesucian daripada duniaku
sementara para malaikatku akan sanggup membunuh
setan-setan yang kau anggap
kekasih dan teman tidurmu itu

Kamar Rumah Sakit Jiwa no 28

http://www.xanga.com/krsj28

Salvatore Nevide [efendisaw@...]