RSSCategory: Joko Pinurbo

Jalan Ke Surga


Puisi ini ditulis oleh pada
9 April 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (11 votes, average: 3.64 out of 5)
Loading ... Loading ...

Jalan menuju kantorMu macet total
oleh antrean mobil-mobil curianku.

(2007)

Kompas, Minggu, 15 April 2007

dikutip dari: Puisi Joko Pinurbo ; sumber: celanasenja.blogspot.com

Rambut Curian


Puisi ini ditulis oleh pada
9 April 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 2.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

Aku beruntung bisa mencuri sehelai rambutmu
dan menanamnya di tubuhku
sampai tumbuh subur dan lucu.
Mungkin kata-kata juga seperti rambut.
Hitam di kamu, bisa jadi pirang di aku.

(2007)

Media Indonesia, Minggu, 8 Juli 2007

dikutip dari: Puisi Joko Pinurbo ; sumber: celanasenja.blogspot.com

Kaki Negara


Puisi ini ditulis oleh pada
9 April 2008 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kakiku telah kaujadikan kaki kursimu.
Jangan duduk terlalu lama, nanti kakiku patah,
kursimu rebah, pantatmu pecah.

(2007)

Media Indonesia, Minggu, 8 Juli 2007

dikutip dari: Puisi Joko Pinurbo ; sumber: celanasenja.blogspot.com

Pembangkang


Puisi ini ditulis oleh pada
8 April 2008 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 2.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Ia termenung sendirian di gardu gelap di ujung jalan.
Tidak jelas, ia peronda yang kesepian
atau pencuri yang kebingungan.
Dari arah belakang muncul seorang pengarang
yang kehilangan jejak tokoh cerita
yang belum selesai ditulisnya.
“Kucari-cari dari tadi, ternyata sedang
melamun di sini. Ayo pulang!”
Dari pada harus pulang, ia pilih lari ke seberang.

(2007)

Kompas, Minggu, 15 April 2007

dikutip dari: Puisi Joko Pinurbo ; sumber: celanasenja.blogspot.com