siang terik mentari membakar geliat ilalang dan desah angin kau membuka sepatu dan menghitung langkah diantara ricik air kali ditepi malam kita bersimpuh panjatkan doa darah mengucur dari tangkai kamboja yang luruh bau dupa menyesakkan menyergap dan lidah awan yang menjilat-jilat “Dimana ?â€, tanyaku “Disini !â€, jawabmu sambil menunjuk tulisan di batu nisan itu : [...]
