irsyad.zaki

00:00

March 1, 2008

Jiwa adalah puisi Engkaupun tahu itu Tapi kenapa masih saja kaubaca jiwaku Persis seperti membaca koran pagi yang berdarah?Terpenggal, Sepenggal dua penggal Hingga terpenggal juga seluruhnya Tahu, telah kupahat peti mati Untuk bola matamu yang bersikukuh Telah menyelami jiwaku Seperti sepi yang telah habis kukubur Dalam pedih tikamanmu! November 2007

Read the full article →

Titik Lain

January 3, 2008

Keliru jika kamu berpikir bisa mencuri segalanya dariku Puisiku memang sudah Dan separuh hatikuApalagi untuk sekedar bersudut di depan seorang dosen Yang kurang ajar Tidak, separuh hatiku yang tersisa Sanggup membangun dunia baru Mutlak tak tersentuh olehmu November 2007

Read the full article →

keluarlah

January 3, 2008

Keluarlah, ayo lihat dunia! Bukan melulu termangu di kursimuKita lupakan singgasana dan nama baik Kehormatan dan ketakutan Bayangkan saja Berapa banyak generasi lagi yang kita korbankan Untuk itu semua Anak-anakmu telah lelah dididik menjadi pecundang Dan bukankah kedatangan mereka bukan untuk dibohohongi? Bukan intimidasi Dan airmata belumlah cukup Jadi keluarlah, ayo keringkan dunia Yang basah [...]

Read the full article →

Jika Hari Ini adalah hari Pencurian Sedunia

November 15, 2007

Jika hari ini adalah hari pencurian sedunia Apa yang akan kaucuri dariku? Kaubilang, “puisi-puisimu.” kau dan aku sama-sama tahu hanya itu yang sekarang kita miliki

Read the full article →

Untuk Apa Puisi Ini 2

November 10, 2007

Untuk apa puisi ini, jika sahabat terdekatmu sejak 15 tahun yang lalu tiba-tiba memperkarakan ke-egoisanmu. “cengeng dan penghianat!” tambahnya. Engkau begitu terasing. Menuduh diri sampah dalam tumpukan sampah. Bagai terbuang di tanah terbuang, ribuan kilometer dari sorot matanya yang kaurindu. Lalu kauberkata, “apa lagi yang tersisa dariku selain sebongkah tubuh lusuh?” seluruhnya lusuh. Dia bahkan [...]

Read the full article →

Jatuh Cinta

October 11, 2007

Kekasihku, kemudian kita pun terjatuh Jauh ke dasar yang lain dari harapan Demikian seterusnya. Berkali-kali kita terperosok di jurang yang sama Aroma perempuan dan lelaki yang juga sama seperti tahun-tahun sebelumnya Tidak ada yang berkata, “mestinya tidak begitu,” Atau, “ah, ini sisi yang keliru dari cinta.’ Semua suara diam. Mendadak tersipu bila bertemu Apa yang [...]

Read the full article →

televisi yang kuhidupkan menjelang imsak

September 28, 2007

Di dalam kotak ajaib itu telah dibangun sebuah stasiun, stasiun ramadhan, katanya Dan banyak lagi stasiun-stasiun serupa. Gambar-gambar gerak Yang ditampilkan mendadak alim. Yang dahulu mengumbar peluh dan buah dada kini berjilbab rapi. Kalem penuh simpul suci. Hanya simpul Ustadz-ustadz mulai diberi banyak waktu berwejang di depan kamera Iklan-iklan tak lagi mesum. Para kru dan [...]

Read the full article →

Untuk Apa Puisi Ini

September 7, 2007

Puisi ini, untuk apa harus tercipta. jika ibu-bapak di rumah masih saja membakar diri di bawah panas matahari. dan saudara lelakiku, tidak punya banyak pilihan selain menjual diri di tambang emas milik amerika. untuk apa, jika sahabat-sahabatku sekarat di muka zaman. keluar malam-malam, untuk sekedar bernyanyi dengan pelacur taman kota, tentang amuk birahi yang membabi-buta. [...]

Read the full article →

Kuliah

September 7, 2007

Apa kata ibuku nanti ketika keluar dari kampus ini aku hanya pulang membawa selembar puisi kekecewaanku raksasaku pada seorang dosen yang tidak becus

Read the full article →

Nama Cinta Setelah Lelah Aku Dipecundangi Olehnya

August 20, 2007

Cinta itu bernama gelora, merobek dan menutup rahasia. Cinta bukan sesuatu yang dibesar-besarkan. Atau disesak hingga sesak. Cinta biasa-biasa saja, lebih sederhana dari apa yang terpaksa kita bayangkan sepanjang malam. Cinta bernama tanda dan perantara dan senyuman, bukan setumpuk kerumitan negara. Cinta selalu tampil di muka, lebih dekat dari kawat gigi kita. Cinta bukan tarian, [...]

Read the full article →