Akmal MR

Senja di Ulee Kareng

September 7, 2007

Kampung muasal cerita telah tergulung bersama laut penuh lumut memang tidak ada lagi lentang suara senapan, tapi tak jua reda manusia pulang dari makam kampung ini telah membatu serupa sajak yang bergulung kelam. senyum telah musnah usai pikiran terkepung nista juga, senja menjadi diam menyaksikan nur pulang ke makam. Ulee Kareng, 14 Juni 2007

Read the full article →

Surat Dari Kampung Sembilan

September 7, 2007

Oleh Akmal MR Tak ingin kau basuh wajah di tanah ini, anakku? tujuh luka telah tertancap pada hati yang tersayat luka. Ini tubuh telah beku diburu rindu dan sendu kampung yang murung. Tidakkah kau ingin pulang, anakku? menyaksikan sawah-sawah kita merah dibantai api kuasa. Ketakutan menutup mata, kata menjadi beku sungguh luka menjadi cerita malam. [...]

Read the full article →

Mencari Arti Demokrasi di Negeri Ganjil

September 7, 2007

Oleh: Akmal MR Aku kembali dililit jerami kusam mataku lenyap dalam gelap yang begitu suram aku kini mengembara dalam gumpalan asa yang membuat tubuhku kaku Aku tercengang melihat api itu sepertinya ia ingin membakar seluruh tubuhku apakah aku bermimpi? dimanakah aku kini? Kuteriakkan pada malam bahwa aku telah dewasa pikiranku tak lagi berlumut sepi namun, [...]

Read the full article →

tentang perasaanku terhadap wanita yang berbaju ungu, di hari rabu

August 19, 2007

Oleh : Akmal MR Tak penuh kulihat cahayanya dibalik semilir yang lenyap itu. pun rasa ini benar-benar sesak. jerami ingat membungkusku dan terus melilitku aku seperti dalam labirin berdebu. dia bergegas pergi melihat mataku membungkuk diam. aku ingin lari merangkul khayal, tapi tak juga kurasa ada. aku terus diserang malang. Tanahku mulai lelah melihat nur [...]

Read the full article →