Archive for November, 2012

Pernahkah kamu bayangkan …?


Puisi ini ditulis oleh pada
17 November 2012 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Pernahkah kamu bayangkan, saat dulu kamu mulai mendekatiku ??

Saat saat kamu mulai memperlakukanku seakan seutuhnya aku milikmu ..

Saat saat kamu mulai meyakinkanku indahnya setiap waktu bersamamu ..

Saat saat kamu mulai menunjukkan bahwa kamu pun menyayangiku ..

Pernahkah kamu berfikir, setiap hal yang kamu lakukan padaku dulu ??

Setiap hal yang mampu membuatku jatuh cinta padamu ..

Setiap hal yang mampu membuatku semakin menyayangimu ..

Setiap hal yang mampu membuatku takut kehilangan dirimu ..

Pernahkah kamu menyadari dalamnya sayangku untukmu saat dia hadir ??

Kusadari memang dia yang pertama mengenalmu, bahkan kau sayangi ..

Kusadari memang  akulah disini yang menjadi orang ketiga diantara kalian ..

Kusadari memang akulah yang harus menjauh darimu, melupakan semuanya ..

Tapi apakah pernah terlintas dibenakmu, apabila kamu menjadi aku ??

Berusaha melupakan kamu disaat ku mulai menyayangimu ..

Berusaha menjauh saat hati ini tak mampu untuk kehilangan dirimu ..

Berusaha melepaskanmu saat aku menginginkan menjadi milikmu seutuhnya ..

Berusaha menjadi seorang yang seakan tak pernah menyayangimu, walau hati ini menangis ..

 

Hey kamu …….


Puisi ini ditulis oleh pada
17 November 2012 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Hey kamu ..

Tidakkah kamu melihat aku yang ada disini ..

Selalu disini menunggumu disetiap dentingan waktu ..

Iya disini, disini tanpa pernah kau hiraukan ..

Tanpa pernah kau sadari aku yang selalu ada ..

Hey kamu ..

Bisakah kamu menoleh sejenak ??

Melihat – memperhatikan aku sesaat saja ..

Hanya sesaat saja yang ku inginkan ..

Agar kamu pun tahu bahwa aku yang ada disini selalu menunggumu ..

DI PASAR


Puisi ini ditulis oleh pada
17 November 2012 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sambil menunggu pagi segelas kopi pinggir pasar
Dalam tulisan yang tak pernah jadi
pikiran jauh di bawah ilusi
bagai menelan kata – kata
tertuju lalu seorang ibu separuh baya
menunggu dagangan sayur bersandar di bawah neon dalam kantuk
sungguh harga letih dan harga diri sama beratnya dipikul
sebab hidup bukan permainan dadu
sedang waktu bukan tempat kompromi
: ironis, seorang ibu separuh baya pedagang sayur itu ditagih rentenir
lantaran hutang – hutang berbunga semakin bengkak
mimpi pun buyar rasa asin keringat
sambil menghitung hasil jualan yang belum seberapa
lewati pergolakan hidup jantung pasar mengadu nasib
jiwa menjelma baja menghadapi ekonomi
belum lagi pungutan tak tertera memenuhi hitungan buku nota
: katanya , yang terpenting asal ada lebihnya sedikit
bisa menutup kebutuhan keluarga
dan spp anak – anak tidak menunggak, sudah cukup
terlepas dari harapan makmur tergantung nasib
karena suami hanya kuli bangunan yang tak jelas pendapatan
sambil mengejab mata angin membawa aroma pasar melekat di badan
baunya sudah familiar di hidung
lalu dingin mengantar pulang bergegas pagi
sebelum keamanan pasar menyuruh pergi
suara toa mengumumkan agar dagangan segera dibereskan
impian hanya lewat pelaksanaan berjiwa keras
bagi kaum kecil yang resah tertindas mengejar mimpi
dan para konglomerat nyenyak tidur dalam ruang pendingin
2012

Penyelam Kata


Puisi ini ditulis oleh pada
17 November 2012 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (17 votes, average: 3.24 out of 5)
Loading ... Loading ...

Ombak-ombak itu berseru-seru
Dan angin pun berbisik pelan
Menyambut darah-darah baru
Dari kutub utara hingga selatan

Adakah engkau menjawab panggilnya?
Sang mentari
Adakah mulutmu mengucap kata?
Menjawab laut bahari

Ikutlah suara kepakan sayap itu
Burung-burung camar yang terbang rendah
Agar kelak kita menjadi satu
Berbagi cinta dengan senyum yang ramah

Mari, kemari, kawanku
Datanglah ke pantai waktu
Berenanglah ke tengah laut itu
Jiwa kita menjadi satu

Selamilah
Tenggelam
Arungilah
Lautan kata-kata tenteram

*dapat dilihat juga di http://worddiver.wordpress.com 

Rasa dan Rumit


Puisi ini ditulis oleh pada
1 November 2012 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Rangkaian rasa terangkai  dengan lugas..

Meranum bersama waktu..

Tumbuh besar berbarengan dengan canda..

Jabat tangan menghapus dosa, meleburkan kecanggungan..

Tawa menyembunyikan resah sampai akhirnya menangis sendiri..

Bersandar merenung , membebani pikiran , kadang pula tertawa kecil, menyalahkan masa lalu yang sudah terpilih ketika itu…

Dan akhirnya rumit menjadi jawab nya..

Seperti yang lain kembali kepada pengaduan gundah meminta jawaban..yang lalu menghela nafas panjang sambil memijat kening yang terasa penat..

Bersama lirih tulus terucap.. ” maaf sudah menjadikannya Rumit ” …