Memoar Anak Kecil


Puisi ini ditulis oleh pada
2 March 2011 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (7 votes, average: 4.29 out of 5)
Loading ... Loading ...

Strict Standards: call_user_func_array() expects parameter 1 to be a valid callback, non-static method SimilarPosts::execute() should not be called statically in /home/puisi/public_html/wp-content/plugins/post-plugin-library/common_functions.php on line 586

Strict Standards: Non-static method SimilarPosts::check_post_plugin_library() should not be called statically in /home/puisi/public_html/wp-content/plugins/similar-posts/similar-posts.php on line 57

Siang mengambang kelam

mendung hitam berarak tumpah

rintik-rintik gerimis..

 

Sekilas pandangku di seberang pematang

berteduh sosok bertopang kaki kecil telanjang

sepatu dilepas, ditenteng tangan kiri

tangan kanan membawa tas plastik hitam

berisi tas dan buku pelajaran.

 

Ah, sahabat kecilku kehujanan

 

Dengan keriangan anak-anak

aku berteriak lantang memanggil,

takut kalah suara kecil ku tertelan rintik gerimis.

“oiii .. berteduh saja disini, itu pohonya pisang

mau roboh kena angin .. ”

dia tersenyum;

“iya aku kesitu ya ..”

 

Dalam rintik gerimis

sosok dua anak kecil berteduh

masih dengan seragam sekolah ..

tersenyum penuh keriangan, saling bercerita

bercanda menunggu gerimis reda.

 

“Ayo kita pulang saja, kalau gerimis

begini pasti lama berhentinya .. yuk”

sepasang anak kecil saling tersenyum dengan manis

mata bening saling beradu

senyum kepolosan.

Gadis kecil berkata;

“ayo, tapi kita pakai pelepah pisang itu

sebagai payung, ayo ambilah yang itu ..!!”

dia berkata riang sambil jari nya menunjuk

sebuah pelepah pisang yang paling lebar.

 

“Ah, ngak usah,kita pulang hujan-hujanan saja

aku tak takut basah, aku ngak takut dingin,

ntar masuk angin juga gak apa-apa”

senyum bandel terkembang lucu ..

akhirnya sepasang anak kecil itu berlari

terbirit melintasi gerimis

diatas jalanan tanah becek dan licin..

 

Terhenyak aku ..

ternyata ingatan itu masih ada,

masih jelas tergambar canda tawa kami,

keriangan, tanpa rasa khawatir dan

lahir begitu saja dari jiwa anak-anak kecil.

 

Suatu ketika, pada sebuah pementasan

wayang kulit di pinggiran kota

kulihat gadis kecil temanku berteduh

di bawah pelepah pisang waktu kami masih kecil

duduk dalam deretan  sinden.

aku masih ingat lekuk wajahnya, alisnya

dan cara dia tersenyum.

 

Sekar .. dia telah dewasa, sama seperti aku

kini kulihat dia duduk dalam sikap anggun

melantunkan tembang-tembang jawa,

mengalun kadang meliuk-liuk

kemudian terdiam setelah nada panjang.

 

Ah, senyum nya masih sama manis

dengan waktu kecil.

dia anggun, air mukanya tenang, teduh

dan pantulan wajah nya pada mataku

membuat tergetar-getar rindu aneh.

Aku juga masih ingat .. selendang putih

yang dikenakannya menuntun ingatanku

pada kabut putih  disela gerimis

aku dan dia berlari-lari kecil di bawah hujan gerimis.

 

Sekarang kami telah sama-sama dewasa

sama-sama bisa merasakan cinta

mungkin dulu ada tetapi hanya kedekatan hati

 

(Katjha/Wonosari/Oktober/2009)

Torehan puisi-puisi lainya :

    Gerimis Pohon Asana VI by katjha (0 comments)
    Bunga gugur, daunan menguning rontok.   Tanah basah, guguran kelopak bunga, daun kering. tunas …

    hari menjelang tenang by WebAdmin (7 comments)
    hari menjelang tenang badan ku lelah seperti di hantam godamnya sang bima kaki ku. kaki ku, bergetar …

    Antara Aku, Dia dan Lagu “Remang-remang” by katjha (0 comments)
    *)Jalanan, sebuah tepian pantai utara jawa Senja beralih malam, namun waktu yang beranjak lambat men …

    Gerimis Pohon Asana IV by katjha (0 comments)
    Ambang batas terlampaui ..   Riuh titik-titik air hujan menimpa daunan pohon asana bagai titik …

    Langkah-Langkah Kecil by romahamzani (0 comments)
    Langkah-langkah Kecil …… Adalah hidup kami Langkah yang mengiringi deru nafas Setapak demi setap …

    TANYA SANG ANAK by WebAdmin (2 comments)
    Konon pada suatu desa terpencil Terdapat sebuah keluarga Terdiri dari sang ayah dan ibu Serta seoran …

    Gerimis Pohon Asana VII by katjha (0 comments)
    Kelindan tawamu menghilang bertaut waktu yang sudah berhari-hari kujumpa sebuah sore menjelang peta …

    Gerimis Pohon Asana II by katjha (0 comments)
    Rintik gerimis tercurah, angin senja dan batas waktu yang melambat meremang.   Kita terdiri di …

    Perempuanku by katjha (0 comments)
    Bukan musim tanam padi, engkau datang dan memalingkan muka terdiri di pematang sawah kering, seulas …

    Ketika Hujan Tiap Sore by katjha (2 comments)
    Semilir angin pegunungan mengalun dingin rintik-rintik renggang menjadi banyak… jatuh menjadi huja …

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Category: Cinta

Leave a Reply