Ketika Hujan Tiap Sore


Puisi ini ditulis oleh pada
17 September 2010 dengan 2 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 4.80 out of 5)
Loading ... Loading ...

Strict Standards: call_user_func_array() expects parameter 1 to be a valid callback, non-static method SimilarPosts::execute() should not be called statically in /home/puisi/public_html/wp-content/plugins/post-plugin-library/common_functions.php on line 586

Strict Standards: Non-static method SimilarPosts::check_post_plugin_library() should not be called statically in /home/puisi/public_html/wp-content/plugins/similar-posts/similar-posts.php on line 57

Semilir angin pegunungan

mengalun dingin

rintik-rintik renggang

menjadi banyak…

jatuh menjadi hujan pada

tanah-tanah yang sudah basah.

Bunyi air jatuh dari atap rumah-rumah

khas daerah sunda, terdiri mengelompok.

Rintik hujan berlomba dengan air jatuh dari pancuran atap,

membuat sore ini begitu hening.

Seorang bapak tua yang berteduh disampingku

berkata padaku

“jang, di sini kalau sore memang selalu hujan”

“lihatlah kabut yang turun dari bukit batu di atas,

itu adalah teman kami di waktu sore”

Aku hanya terdiri di bawah atap beranda sebuah rumah

hanyut dalam rintik-rintik yang mulai mengecil

bersama kabut yang mengalun lembut, dingin dan tampak mempesona,

dimana sepiku tersangkut

pada hujan sore yang riuh

membawa kedamaian hati.

Heningku tertambat, terjaga

kemudian hati ini beranjak merasa lagi

terpikir untuk pulang ke pondok

menyeberangi hujan sore ini dengan hati yang ikhlas

akan airnya yang dingin

kabut yang meremangkan pandang

dan tanah licin becek yang mengotori kaki

Ketika hujan sore …

memberkas segurat kesadaran

untuk hidup dengan cara yang beda

percaya pada hasrat, pada

naluri berpikir untuk hidup.

(Garut/Untuk sahabatku Tono&Yanto/Februari 2010/Katjha)

Torehan puisi-puisi lainya :

    Hujan Pergi Sorang by fajargietmartha (3 comments)
    Hujan ku sudah berkalang tanah ditebas lalang malam petang berdarah lehernya agak kekiri terguling k …

    Gerimis Pohon Asana IV by katjha (0 comments)
    Ambang batas terlampaui ..   Riuh titik-titik air hujan menimpa daunan pohon asana bagai titik …

    Gerimis Pohon Asana VII by katjha (0 comments)
    Kelindan tawamu menghilang bertaut waktu yang sudah berhari-hari kujumpa sebuah sore menjelang peta …

    Dibawah Malam by twistedlabyrinth (0 comments)
    ada serpihan enderia jatuh. rasanya dingin dan lumerkan air mata rinduku bernama rintik salju pun, h …

    Tuhan…terlalu dalam luka ini by supernova (0 comments)
    Rintik-rintik hujan di pagi ini seakan menambah pedihnya luka hati sinar mentari yang seakan sembuny …

    Memoar Anak Kecil by katjha (0 comments)
    Siang mengambang kelam mendung hitam berarak tumpah rintik-rintik gerimis.. Sekilas pandangku di se …

    Setitik Api Dalam Embun Malam by katjha (2 comments)
    Menetes titik air, jatuh pada kulit tangan sejenak terasa sepi dan dingin, kemudian terpikir semua i …

    Dia pergi by sani_mauludetha (0 comments)
    masih ku ingat senyumnya kemarin terkembang manis menghias tirus parasnya saat itu dia masih kumilik …

    Gerimis Pohon Asana VI by katjha (0 comments)
    Bunga gugur, daunan menguning rontok.   Tanah basah, guguran kelopak bunga, daun kering. tunas …

    Derai Cemara Udang by katjha (0 comments)
    Angin pantai disela gerimis mendera pelan, sejenak berteduh di bawah pohon-pohon cemara udang. kemu …

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Category: Free Poem

Comments (2)

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. grahita says:

    aku suka puisi ini…..
    teruslah berkarya, , ,

  2. bampak says:

    hai senja ku hiasilah sang lagit yag akan gelapdgan cahaya jinggah yag memberikan, kedamaian dalam pergantian waktu ini
    tetaplah lagit ku lembayug.

Leave a Reply