KETIKA MATA KETEMU MATA
(Puisi III dari Tiga Puisi)
1/
Aku turun dari angkot, masuk ke dalam kompleks perumahan tempat kakakku tinggal. Setelah pertigaan kedua, aku berbelok ke kiri dan berjalan sedikit ke tengah. Dan tiba-tiba mobil Trooper hitam itu berhenti mendadak di depanku.
Aku bisa dengan jelas menatap lelaki yang duduk di belakang kemudi itu. Dan aku yakin ia pun bisa melihatku dengan jelas dari dalam. Mata kami saling beradu.
Aku berpikir cepat dalam waktu sedetik itu. Apakah aku harus melangkah ke samping dan memberinya jalan? Ataukah tetap berdiri dihadapan mobil itu dan membiarkan ia melajukan mobilnya?
2/
Aku melihat wanita itu di kereta ekspres. Pertama kali melihatnya, aku pikir ia seekor anak kucing yang imut, manja dan kinyis-kinyis. Setelah aku mendekatinya, ia sudah menjelma menjadi wanita yang jungkir balik mencari biaya untuk menghidupi keluarganya.
3/
Aku mengenal lelaki itu di kereta ekspres juga. Bercakap-cakap setiap pagi. Kupikir ia seorang lelaki yang baik dan kepala rumah tangga yang bertanggung jawab. Tetapi aku kurang suka kalau ia sudah berbicara tentang barang-barang bermerek yang ia kenakan. Mungkin ia butuh dipuji, sementara aku tidak pernah memuji penampilan seseorang.
4/
Aku memperkenalkan keduanya. Namun seperti kata pepatah, kalau sedang jatuh cinta, jangan jalan bertiga, karena orang ketiga akan menjadi setan.
Pengkhianatan memang selalu datang dari orang dekat. Aku tidak tahu pada saat mana ia menelikungku. Ada wanita yang membutuhkan banyak uang, ada pria yang punya banyak uang. Dan tiba-tiba mereka menghilang seperti bayangan ditelan kegelapan.
5/
Hingga akhirnya kabar angin itu berhembus kencang dan menjadi nyata ketika aku harus menjawab pertanyaan istri lelaki itu. “Apakah wanita ini teman Mas?” katanya bertanya sembari menyorongkan sebuah foto wanita cantik.
Aku tidak mengelak dari pertanyaan itu. Dan setelah itu diikuti serentetan pertanyaan lainnya. Kulihat mata ibu itu basah.
6/
Hidup kadangkala seperti kita membuka pintu. Buka pintunya, masuklah ke dalam dan lupakan bahwa pintu itu pernah ada. Kita tidak bisa memutar balik jarum waktu. Tetapi kita bisa saja bertemu kembali dengan masa silam di masa depan. Siapa yang tahu?
7/
Suatu pagi, masa silam itu ada di dalam angkot bersamaku. Kami sama-sama turun di terminal. Lelaki itu masih sempat bertanya dengan muka manis,”Apa kabarnya? Sudah lama ya kita tidak bertemu?”
Aku menatapnya dingin. Aku yakin aku masih bisa memukulnya jatuh saat itu juga. Namun aku memutuskan untuk tidak melakukannya. “Anda salah menegur orang, saya tidak kenal anda.” kataku singkat dan meninggalkannya.
8/
Dan pagi itu, kembali aku bertemu dengannya. Mata ketemu mata.
Aku menatapnya, sementara ia tetap duduk di dalam Trooper hitamnya. Entah berapa lama. Sampai akhirnya aku melangkah ke samping kiri perlahan-lahan, tanpa melepaskan pandanganku padanya. Mobil melaju perlahan, ia setengah menunduk saat melewatiku.
9/
Apa yang kita dapatkan sekarang adalah hasil dari masa silam, dan apa yang kita lakukan sekarang akan menentukan seperti apa kita di masa depan.
Apa yang kita lihat, apa yang kita perlihatkan, tidak lain hanyalah suatu mimpi dalam mimpi.
Jakarta, 27 Juli 2010
Urip Herdiman Kambali
http://www.theurhekaproject.blogspot.com
Similar Posts:
- Kumuntahkan Dalam Bahasaku by WebAdmin (0 comments)
- sudah sekian lama kupendam pertanyaan ini yang kucoba tahan sedari entah tak kumengerti pelan dia me …
- Tanah Perempuan by zaki (0 comments)
- Tanah perempuan itu subur. Bila hujan turun, tiap jengkalnya ikut menari dan bernyanyi. Begitulah ca …
- Hai Wanita, Tersenyumlah padaku by WebAdmin (0 comments)
- Hai wanita, senyumlah padaku Walaupun kutahu kau tak tahu Akan siapakah aku dan bagaimana bisa Namun …
- CINTA (III) by WebAdmin (15 comments)
- Kelmarin aku berdiri berdekatan pintu gerbang sebuah rumah ibadat dan bertanya kepada manusia yang l …
- ESOK NANTI (kesandung mendung bag.2) by wizurai (1 comments)
- Baca sajak sebelumnya, ‘Buah hati (kesandung mendung bag.1)’ Bocah berulah datang menodong Tagih jan …
- Jalan Ke Surga by WebAdmin (0 comments)
- Jalan menuju kantorMu macet total oleh antrean mobil-mobil curianku. (2007) Kompas, Minggu, 15 April …
- Sajak Pertemuan Mahasiswa by WebAdmin (0 comments)
- Matahari terbit pagi ini mencium bau kencing orok di kaki langit melihat kali coklat menjalar ke lau …
- Jatuh Cinta by irsyad.zaki (3 comments)
- Kekasihku, kemudian kita pun terjatuh Jauh ke dasar yang lain dari harapan Demikian seterusnya. Berk …
- My first love by WebAdmin (0 comments)
- Dia berhak mendapatkan senyuman…setelah dia dengan tulusnya tertawa Dia berhak mendapatkan kesetia …
- diary of a cyborg girl by WebAdmin (1 comments)
- dear mesin minuman kaleng.. sudahkah kau bertemu si pencuri keahlian yang berjalan mundur? katakan …
Last 5 posts by WebAdmin
- Nak, Belajarlah Untuk Mengerti Luka - May 10th, 2011
- Kumuntahkan Dalam Bahasaku - May 10th, 2011
- Angan Di Pelupuk Mataku - May 10th, 2011
- Selembar Anganku Melambai Ringan - May 10th, 2011
- Sekerat Mimpiku - May 10th, 2011


{ 1 comment… read it below or add one }
Puisi Mas Urip ini bagus sekali, segar, jarang sekali puisi disajikan dalam bentuk seperti ini. Saya sangat suka gaya bahasanya. Terus berkarya Mas Urip. Saya barusan udah mengunjungi blog Anda. Salam
{ 1 trackback }