Di Titik Pertemuan


Puisi ini ditulis oleh pada
12 May 2010 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Strict Standards: call_user_func_array() expects parameter 1 to be a valid callback, non-static method SimilarPosts::execute() should not be called statically in /home/puisi/public_html/wp-content/plugins/post-plugin-library/common_functions.php on line 586

Strict Standards: Non-static method SimilarPosts::check_post_plugin_library() should not be called statically in /home/puisi/public_html/wp-content/plugins/similar-posts/similar-posts.php on line 57

Langkahku berirama menjemput pesan singkat
dan sebuah titik pertemuan
ketika malam masih bercumbu
dengan trotoar,
lampu-lampu jalan, genangan hujan.

Di sana tercipta kerinduan.
Terbingkai rapi
dalam emperan toko
dan lalu lalang kendaraan
dalam percakapan
dan buih-buih minuman
dan asap yang leleh senada kuhisap
ingatan tentang
kalimat-kalimat yang pernah kita perbincangkan.

Aku terduduk kemudian.

Mencari janji di sebuah titik pertemuan.
Menanti langkah yang seirama
datang dari arah yang berlawanan.

Kubaca lagi pesan singkatmu.
Dua lewat lima.
Trotoar itu masih sama.
Seperti jumpa kita yang pertama.
Juga lampu-lampu jalan
emperan toko
genangan hujan
lalu lalang kendaraan
dan malam yang serakah mencumbui semuanya.
Tapi sadarku masih sempat lari
dibawa pergi oleh lantang suara adzan.

Lalu tiba-tiba kulihat sosok itu dari sudut
menuju tepat ke titik pertemuan.
Aku kenal betul siapa
: sang penulis pesan.
Kusaksikan.
Dia menunggu, mondar-mandir mengutuk malam
yang sama.
Yang pernah mecumbui kita berdua pula
dulu,di bawahnya.
Ya.Dia ada disana.
Menunggu.
Hingga bayangannya hilang
jadi abu
di depan sepatuku.

Sambil membaca pesan singkatmu,
Aku tau pasti
tak ada yang berubah di titik pertemuan itu.

Hanya saja
aku tak pernah datang kembali kesana.
Aku tak pernah menemuimu untuk kedua kalinya.

Mei 2010

Author:

dhika agusta [lord_heart86@...]

Torehan puisi-puisi lainya :

    songkok haji dan baju koko by WebAdmin (2 comments)
    Tergesa berlari mendahului mentari pagi Bangun lebih pagi Mandi lebih cepat Berjalan seperti berlari …

    Hujan Pergi Sorang by fajargietmartha (3 comments)
    Hujan ku sudah berkalang tanah ditebas lalang malam petang berdarah lehernya agak kekiri terguling k …

    Antara Aku, Dia dan Lagu “Remang-remang” by katjha (0 comments)
    *)Jalanan, sebuah tepian pantai utara jawa Senja beralih malam, namun waktu yang beranjak lambat men …

    Cinta sama tak datang dua kali by lyogi (0 comments)
    Aku pernah mengenalmu, begitupun kamu pernah mengenalku Kamu pernah berjalan disisiku, begitupun aku …

    Jejak Kaki yang Hilang by WebAdmin (0 comments)
    Rabu pukul sepuluh malam lebih sepuluh menit Bangku besi peron satu stasiun kereta Duduk uncang dua …

    Jatuh Cinta by irsyad.zaki (3 comments)
    Kekasihku, kemudian kita pun terjatuh Jauh ke dasar yang lain dari harapan Demikian seterusnya. Berk …

    Di bawah Langit Jendela Tua, tak Kuucapkan Lagi Namamu by irsyad.zaki (1 comments)
    Di bawah langit jendela tua, tak kuucapkan lagi namamu Kita telah lelah berkabung. Pertemuan dengan …

    Di Sepanjang Michigan Avenue by WebAdmin (1 comments)
    daun daun begitu ingin menyentuh ujung sepatuku di sepanjang michigan avenue gerbang sekolah adalah …

    HOopLaaa… by Clare (0 comments)
    ingin lihat keajaiban…? Sinar datang menembus celah.. Yang tak ada… HOPLA…!!! Terang benderang …

    Untukmu Kekasih by Safira (0 comments)
    Raga Banyak hal telah kaulalui Banyak yang telah terjadi Dari kanak-kanak, muda, beranjak dewasa Jiw …

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Category: Bebas, Bunga Matahari

Leave a Reply