Puisi Tentang Taman


Puisi ini ditulis oleh pada
9 December 2009 dengan 0 Komentar

Dedaunan hijau melambai tertiup angin
denting suara bertalu diantara sunyi taman ini
ragam jenis pohon yang jadi wajibku
ragam perdu di balik ukir batu
memberi celah sunyi untuk sang matahari
dentingan bertalu-talu diantara pepohonan yang bisu
hingga tertekan angin dari asap yang menggebu

Dedaunan hijau runtuh merelakan kawan tua
sesaat hingga suara-suara memberontak di kesunyian taman
hingga mereka berdatangan diantara tanah batu ukir
rindangnya alam taman terusir
khayalku terhenti…..
taman ini memintaku pergi
seakan enggan tak dapat menampakkan lagi
keasrian perlindungan sunyi
yang mereka tawarkan padaku hingga pagi ini

Aku pun beranjak pergi
ketika sang pembawa pesan menawarkanku tuk kembali
nanti berkhayal rindangnya sunyi
paru-paru ibu pertiwi
yang mereka bawa hingga mati dan tumbuh kembali
meski nyata itu telah jauh pergi
Aku berjanji untuk kembali
mengingat kembali hijaunya ibu pertiwi

Torehan puisi-puisi lainya :

    Rutuk by Lana Azkia (1 comments)
    Tak tik tuk Mata mengantuk Tangan ditekuk, kepala tertunduk Hari yang suntuk! Dan dingin ini juga te …

    Sayap-sayap kecil by raihana ziva (1 comments)
    sayap-sayap kecil.. baru kemarin kau singgah lalu kau curi hatiku sejak hari itu kau rajaku dan aku …

    Hidup yang Tiada Arti by WebAdmin (2 comments)
    ku tau… kau telah pergi jauh meninggalkanku tak selamanya semua kenganmu akan ku ukir ku hanya mam …

    tertunduk… by erimuda (0 comments)
    angin dan batu-batu kerikil.. rerumputan bahkan senyum bidadariku, datang kepadaku memandangku aneh …

    Kutitip Rindu by WebAdmin (0 comments)
    semilir angin berhembus manja menerpa halus rambut di dahi renjana hati terasa menggebu melaut luas …

    Lagu sunyi by Safira (0 comments)
    Angin musim hujan Turun bersama malam Ini hari yang sepi Hatiku sunyi Cinta tak lagi ada di sini Mun …

    Kengerian dalam Indah by omegachaos (1 comments)
    Angin bertiup kencang Beterbangan debu lalu Saat batu dulu Terbujur kaku takluk Indahnya tetes air M …

    dan kaulah (sang penonton) by Farhana (0 comments)
    -sudahkah kau basuh wajahmu?- malam kian dingin, dan gelap kian merangkul kesunyian, mungkin saja an …

    Bersama Angin by Winnie (1 comments)
    Bersama angin panas siang ini… Langkahnya berkejaran dengan dedaunan jatuh Dan diantara debu yang …

    cahaya by arjuna (0 comments)
    Pertama kulihat segenggam cahaya itu . . . Begitu anggun dan sederhananya Menusuk sepi di setiap sel …

omegachaos

hanya mencari tempat untuk berbagi bahasa puisi tempat itu yang temanku jarang kunjungi sementara mereka tak mengerti arti dalam sebuah puisi kertas putih itu ternoda dengan tinta hingga puisi tercipta hanya mencari tempat untuk kritik karena jari ini selalu tergelitik untuk mengusik bahasa puisi dengan nilainya yang instrinsik

Latest posts by omegachaos (see all)

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Category: Alam

Leave a Reply