Archive for December, 2009

sebungkus trasi bau


Puisi ini ditulis oleh pada
21 December 2009 dengan 0 Komentar
Rating Puisi : 1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (belum ada)
Loading ... Loading ...

Seraut wajah luka sepi
Sepi lonceng tertampar mati
Mati sekejap menjerit-jerit lelah
Lelah trbiasa tawa asa
Asa brtemu guratan ayu
Ayu waktu lorong siang
Siang padam malam bintang
Bintang redup luka lalu
Lalu jiwa slalu senandung
Senandung abadi kobar hidup

Narasi Di suatu Pagi


Puisi ini ditulis oleh pada
21 December 2009 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (14 votes, average: 4.14 out of 5)
Loading ... Loading ...

Dan bukan karna,hujan,angin ataupun kemarau
Pada peta perjalanan masa jahiliyah…
Saat khilafah perjuangkan rakyat jelata
Dan bukan karna,asa,siksa,ataupun jera
Malaikat memjelma bagai seorang peminta

Pagi, yang menghujamkan seribu bahasa
Dimulai saat ejaan kata tak lagi mengisyaratkan wacana
Tercucur sudah darah-darah mengalir di kediaman angan
Menghela nafas…
Embun terasa di kulit tangan..
Menyelinap butiran-butiran harapan
Pandanganku hanya tertuju pada langit…
Tentang keteguhan,moral yang seakan dapat di bayar
Nadi ku seakan merasuk otakku
Teduh dalam kiasan..
Sendu dalam lamunan..
Embun itu merasuk hatiku…
Apakah ini…bukan sekedar narasi
Ataukah persepsi..
Dari asa yang tertinggal…
Dari hati yang berbekal…
Pagi itu..hanya aku yang tau..
Bunga mekar menakjubkan…
Angin riang menyanyikan..
Embun datang menyerukan
Kar’na aku masih ada di suatu pagi
Kar’na aku masih bisa bermimpi…

Boy In the First Rain


Puisi ini ditulis oleh pada
21 December 2009 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 3.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Seperti hari yang lalu aku masih menanti kehadiran jiwamu dalam kesendirianku,

masih kucoba yakinkan diriku,

malaikatku akan datang senja kali ini,

seperti yang kau janjikan,

walau sudah sepuluh tahun yang lalu,

aku akan selalu menantimu,

dalam ketegaran hidup ini,

kau janji padaku akan menemuiku di pertama kalinya hujan akan membasahi pantai ini, dan saat ini yang kunantikan di tahun ini,

hujan yang pertama kalinya datang,

membasahi tubuh peluhku,

berharap kau datang mengusap basah ragaku ini,

namun kau masih saja tak hadir disini,

basah, dingin, kaku, retak, peluh, hitam, mewarnai hatiku di matahari terbenam pantai Heaven ini,

tak terbesit suatu ketidak percayaanku padamu,

karna tiada malaikat yg berucap omong kosong, kau malaikatku..

Teman dan Cintanya


Puisi ini ditulis oleh pada
21 December 2009 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (3 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Dalam sehari perubahan terjadi
Bagaimana rasa itu hilang dari hati
Dan dia pun kembali sendiri
Saat malam yang sepi menghampiri

Berlalunya malam takkan bisa
Menyingkap masa dulu bersama
Ketika indah berikat selalu dengan bahagia
Dan gundah takkan ada lama

Kini semua telah berlalu
Untuk melupakan semua itu
Apa arti teman sepertiku?
Yang hingga kini terdiam membisu

Membisu aku tak mengerti
Rasa apa yang hinggap di antara mereka
Percuma rajin membaca buku
Tak ku dapat darinya sebuah jawab
Mohon maaf teman
Meninggalkanmu sendirian
Semoga tak terjebak kau dalam kesedihan
Dan kau terlahir kembali dengan kekuatan
Masih banyak kesempatan
Masih banyak teman
Dirimu tak kesepian

cerita hati


Puisi ini ditulis oleh pada
21 December 2009 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

hari-hari terasa hampa

tanpa belaian asa yang menentramkan jiwa

entah mengapa aku terlena dengan dunia yang fana

hanya sekejab yang ku rasa

ku inginkan jalan surga

sedang aku berjalan penuh dengan rintangan kala akan menuju pada-Nya

Retak…


Puisi ini ditulis oleh pada
17 December 2009 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 1.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

seperti hari yang lalu

dalam hati tak percaya

siang sehitam malam

tak ada lagi kini harapan maupun mimpi

Retak…

aku bersimpuh dalam pasir putih tepi pantai

Retak…

aku menyayat nadiku, tak percaya semua ini adalah nyata

Retak..

aku melonglong dalam malam yang dingin, seperti serigala malam yang kesepian

Retak…

kau tertelan tanah berselimut cerita indah kita

Retak..

aku menunggu sisa hidupku, dengan air mata di peluhku..

Retak..

luluh lantak…  Cinta yang ku lukis dalam Kanvas, tersobek oleh Cumbu terakhirmu..

Jiwa dan ragamu tak lagi ada untukku..

Retak..

aku menunggu waktu, membunuhku.. agar aku mampu bersamamu lagi..

Kau Malaikatku.. Meninggalkan aku.. dalam ketegaran yang rapuh..

AHKKKKKKKK………. RETAKK..!!

Dinding es


Puisi ini ditulis oleh pada
9 December 2009 dengan 0 Komentar
Rating Puisi : 1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (belum ada)
Loading ... Loading ...

Dinding es
Dingin
Antara kau dan aku
Yang buatku hanya diam membisu
Hanya diam dan membeku

Dia pergi


Puisi ini ditulis oleh pada
9 December 2009 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 3.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

masih ku ingat senyumnya kemarin
terkembang manis menghias tirus parasnya
saat itu dia masih kumiliki
sekarang ia menjadi milikNya

rintik hujan menari di atas nisan
mengiring kepergiannya….

Mudik


Puisi ini ditulis oleh pada
9 December 2009 dengan 0 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Aku rindu rumah
hingga 3 jam lalu aku melalaikannya
hingga 3 jam lalu aku benar bersama
hingga 3 jam lalu aku tersenyum lega
3 jam bersama suka
3 jam teruji semua

aku rindu rumah
setelah 3 jam teringat senyum hangat
ibunda menyapa sanubari
setelah 3 jam aku menangis
terkucilku dari senyum
relaku duduk terdiam
selama 3 jam aku menahan

busku untuk pulang
kembalikan sang helaian
kehangatan dari dingin dunia
pelapang dari sempitnya waktu
untuk itu aku bersabar
bersama busku untuk pulang

aku rindu rumah…