Archive for July, 2009

dalam badai cinta

kawan aku ingin kau membaca tulisan ini, terutama kau, yang telah tertelan tanah, dan menjadi debu dalam hati ini…

seperti cawan terisi anggur merah, semerah darah, tumpah mengenai hati bekuku,

seperti pula lidah api yang berkorbar, membakar foto, crita, puisi, dan semua kenangan itu.

aku tahu aku sungguh mencintaimu…

namun waktumu telah habis,

aku sakit ketika aku melihat kau menangis, dan terhenti dalam nafasmu…

habis sudah semuanya…

malaikat membisikiku…”lanjutkan hidupmu, jalanmu terbenteng luas disana”

iblismu pun membisikiku…”katanya cinta sejati… ambil piasu iris nadimu.. dan kau akan menari indah bersamanya kmbali”

dan aku memilih untuk menjadi aku sendiri…

melanjutkan hidupku, dan tidak akan pernah untuk bercinta selain dengan dirinya…

itulah cinta sejati.. Iblis Keparat!!!

Elemen dalam duniaku

Hadirmu bagai angin
Yang datang tuk segarkan hari-hariku
Namun datang tuk sekejap saja.
Hadirmu bagai air
Datang tuk melegakanku
Lalu kau mengalir kembali & meninggalkan aku.
Hadirmu bagai tanah
Yang menyuburkan ladang keceriaan di hatiku Kemudian banjir datang & membawanya pergi.
Dan hadirmu bagai api
Yang mencairkan hatiku yang tlah membeku Kemudian hujan datang tuk padamkanmu
Ku adalah bumi,
dengan kau sebagai elemen yg mengisi duniaku…

Anugrah vs Siksa

Ingin menjadi berarti
Menghilangkan semua yang terindah
Selanjutnya terdiam diantara daun2
Angin yang berhembus menerbangkan putik2 sari yag masak
Akankah menjadi berarti?

Segala telah menjelma
Mungkin merubah dirinya menjadi sesuatu yang berharga
Yang dapat terlihat langit
Namun dapat ditemukan di dasar laut
Sebenarnya ingin menjadi apakah ini?

Biarlah..
Aku menjadi segumpal debu yang akan tertiup oleh siulanmu
Atau oleh tawamu
Semua ini Anugrahkah, atau Siksa??

-10 Jui 2009-

Bisakah?

Bisakah aku dengar suara ini?
Meskipun kau tutup semua celah,
Biarpun kau halangi dengan tembok2 besimu yang kokoh,
Walaupun kau sembunyi dalam ketegaran yang kian melemah?

Bisakah kau merasakannya?
Tangisan dari seorang durjana,
Teriakan dari seorang pendosa,
Kesakitan dari seorang yang mencinta?

Bisakah kau kembali?
Setelah meninggalkan tempatmu terlalu jauh,
Setelah kau temukan sesuatu yang membuatmu tersenyum,
Atau ketika kau mengerti arti bahagia?

Bisakah aku melihatmu?
Ketika kau dudk di depan teras rumahmu,
Menggenggam segelas air,
Keika kau pupuk mawar itu,
Dan ketika kau kesakitan karena tertusuk durinya?

Bisakah aku terus tegar?
Dengan hanya melihatmu tersenyum,
Mendengar tawamu yang kian lepas,
Mengikuti langkahmu menuju bahagiamu?

Bisakah aku bertahan?
Tanpa senyum yang kau berikan,
Tanpa sapa yang kau ucapkan,
Tanpa mengetahui arti kelemahanku,
Tanpa tahu kau membenciku?

Bisakah aku terus berusaha mencarimu?

-11 Juli 2009-

Requiem Pagi Hari

akankah kita bercinta ?

diantara permainan tangkap lari

lalu tersekap bersembunyi

namun cukup bagiku

satu bahagia saja

gelora yang memuncak

di sela erangan nafsu merangkak

dicumbu padam

dendam yang memburu

apa yang ikat aku dan dia

dahaga atas marabahaya

kami berdua hanya pengembara

disana

nun jauh di ufuk utara

luka lama

kembali menganga

berperang abadi

tanpa henti

api lawan sepi

Jakarta, 13 Mei 2008