Submit web puisi anda ke direktori PUISI.org di SINI

Ga mau jadi kontributor, tapi ingin kirim puisi ? Kirim di SINI
Free blog @ Sajak.NET, silakan DAFTAR

To Dinda

by wier on May 2, 2009

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (10 votes, average: 4.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kepada Yts.
Dinda
di
Bumi yang Tak Lagi Biru

Dear Dinda,
kualamatkan rindu padamu
dengan ulin di pojok kiri amplop
juga salam dari almarhum hutan belakang rumah

Dind,
tadi malam rumah kita dikubur orang
ranjang, foto dan selimut kita rusak
belum lagi deru gergaji mesin
melibas meranti tua
lalu dahan kurus dengan berjuta toreh ditebas
paginya kudapati janda kaya meneguk kopi di balkon kondominium

Dind,
sejak itulah aku mengembara
lalu kuingat dongengmu tentang orang luka
yang menggedor langit sepanjang malam
memohon iba
Kini aku benar seperti itu

Dind,
di tengah pengembaraan kutahu debu-debu
telah merenggut kesunyian
lalu nyanyian dara riang
dan pekik rindu sang kekasih
termakan ombak peradaban

Karena itulah Dind,
tiada lagi gadis tersipu
kita bicara dengan teriak
bukan ucapan sopan ajaran sekolah
dan entah berapa banyak lelaki mabuk
bercinta dengan bulan di balik semak

Tahukah kamu, Dind
gara-gara itu malaikat kesal
karena manusia memaksa mengores tinta busuk
di rapor kusam sejak akil balig
karena sungguh dini mereka kenal dunia
tak tahu paut benar, juga tanda berhenti

Dind, sungguh aku tak habis pikir
kenapa semua itu terjadi
bukankah ada karma, ketika hidup runtuh
bersama terjungkalnya tanah retak
bumi bergetar dan orang khilaf semakin menengadah
ingat kealpaan mendekatkan diri ke neraka
sehingga keturunan manusia
hanya tahu rasa arang dan debu-debuan

Karena itulah Dind,
aku sungguh rindu padamu
rindu akan hidup kemarin
ketika aku dan kamu bermandi cahaya
ketika badak habiskan masa liar
dan harimau jawa mendengkur di balik belukar
dan tidakkah kau dengar ada punai bernyanyi
mengiring tarian pinus seberang gunung

Dind, juga tak rindukah kau
Ketika kabut mengajak kita bermain di kala fajar
Namun belum lama kita bermain
Ibu mentari mengajak kabut pulang
Kita pun menangis
Air mata kita menjadi embun
Menetes pelan ke pucuk dedaunan
Namun ibu mentari sungguh bijak
Segera beliau hapus tangis kita dengan cahyanya

Di ujung rindu
pada Dindaku di bumi yang tak lagi biru
tidakkah kau rindu padaku?

Similar Posts:

    Surat Dari Kampung Sembilan by Akmal MR (0 comments)
    Oleh Akmal MR Tak ingin kau basuh wajah di tanah …
    Hanya Omongan by Bradley Setiyadi (0 comments)
    Negeri kita kaya raya Alamnya subur Lautnya luas P …
    Mudik by omegachaos (0 comments)
    Aku rindu rumah hingga 3 jam lalu aku melalaikanny …
    ESOK NANTI (kesandung mendung bag.2) by wizurai (1 comments)
    Baca sajak sebelumnya, ‘Buah hati (kesandung mendu …
    Untukmu Selalu by WebAdmin (1 comments)
    I Dengan baik masih dapat kuingat Di bulan enam, h …
    Puisi Ikranagara: BANTUL 2006 by WebAdmin (2 comments)
    Ikranagara: BANTUL 2006 tak ada lagi kata tatkala …
    andai datang suatu masa by ahmad nadhif (2 comments)
    andai datang suatu masa ketika persekutuan angin-b …
    Aku Rindu Kamu by WebAdmin (2 comments)
    Hari-hariku yang sepi aku rindu kamu, Apakah kamu …
    Bidadariku by Galang (0 comments)
    Kau datang saat ku jemu Kau datang saat ku layu Ka …
    Balada Orang Gusuran by Bradley Setiyadi (2 comments)
    Katanya kita semua sederajat Katanya tiap warga ne …

Last 5 posts by wier

Like this post? Post Comment, Subscribe RSS

{ 2 comments… read them below or add one }

1 prasjaka June 17, 2009 at 1:00 pm

great…………!!!!!!!!!!

ReplyReply
2 Mailina June 23, 2009 at 12:46 am

Di senja yang sendu
di Bumi yang tak lagi biru
saat kita lelah meratapi langit yang tak lagi biru
matahari senja yang indah menghantar kita ke alam mimpi
Mimpi Bumi kembali Biru…..

ReplyReply

Leave a Comment



Previous post:

Next post: