Ia yang hendak mencipta,
menciptalah atas bumi ini.
Ia yang akan tewas,
tewaslah karena kehidupan.
Kita yang mau mencipta dan akan tewas
akan berlaku untuk ini dengan cinta,
dan akan jatuh seperti permata mahkota
berderi sebutir demi sebutir
Apa juga masih akan tiba,
Mesra yang kita bawa, tiadalah
kita biarkan hilang karena hisapan pasir
Engkau yang telah berani menyerukan
Kebenaranmu dari gunung dan keluasan
Sekali masa akan ditimpa angin dan hujan
Jika suaramu hilang dan engkau mati.
Maka kami akan berduka, dan kanan
menghormat bersama kekasih kami.
Kita semua berdiri di belakang tapal,
Dari suatu malam ramai,
Dari suatu kegelapan tiada berkata,
Dari waktu terlalu cepat dan kita mau tahan,
Dari perceraian – tiada mungkin,
Dan sinar mata yang tiada terlupakan.
Serulah, supaya kita ada dalam satu barisan,
Serulah, supaya jangan ada yang sempat merindukan senja,
Terik yang keras tiada lagi akan sanggup
mengeringkan kembang kerenyam*
Pepohonan sekali lai akan berdahan panjang
Dan buah-buahan akan matang pada tahun yang akan datang.
Laut India akan melempar parang
Bercerita dari kembar cinta dan perceraian
Aku akan minta, supaya engkau
Berdiri curam, atas puncak dibakar panas
dan sekali lagi berseru, akan pelajaran baru.
Waktu itu angin Juni akan bertambah tenang
Karena bulan berangkat tua
Kemarau akan segan kepada bunga yang telah berkembang.
Di sini telah datang suatu perasaan,
Serta kita akan menderita dan tertawa.
Tawa dan derita dari yang tewas
yang mencipta…..
Similar Posts:
- syahwat sang kyai by WebAdmin (2 comments)
- demi fatima demi aisyah dimulyakanlah engkau, nyai maka ikhlaskan aku menikah lagi hendaknya pandang …
- Perempuanku by katjha (0 comments)
- Bukan musim tanam padi, engkau datang dan memalingkan muka terdiri di pematang sawah kering, seulas …
- Yang Pergi Tanpa Melambaikan Tangan by katjha (0 comments)
- Hanyut dalam euphoria lantunan musik untuk menutup perjamuan hari itu, semua bubar melangkah pergi m …
- Bertukar Bayang by katjha (0 comments)
- Mari, berdiri tegak saling berhadap, saling tatap dan mematutkan senyum untuk kita dapat mengenali p …
- untuk penyair yang khilaf by puisi.indonezia.net (0 comments)
- tak sadarkah engkau? tulang tulangmu semakin rapuh, dinding kulitmu mulai mengkerut, serta pikiranmu …
- Doa Rakyat Kecil by Bradley Setiyadi (0 comments)
- Ya Allah Kami hanyalah rakyat kecil yang dianggap tidak berguna, ya Allah Kami hanyalah pemilih terd …
- Balada Orang Gusuran by Bradley Setiyadi (2 comments)
- Katanya kita semua sederajat Katanya tiap warga negara punya hak yang sama Katanya bumi ini milik be …
- Kenapa (sadarkah) by Diggini (1 comments)
- Ketika musibah itu tiba ………. Bawah sadarku berkata.. dan bertanya. Apakah ini nyata…….. te …
- bibit unggul by galind56 (0 comments)
- menari berjingkat di atas kursi berlapis kulit manusia.. lulusan sarjana tinggi akademik persuasi.. …
- Di bawah Langit Jendela Tua, tak Kuucapkan Lagi Namamu by irsyad.zaki (1 comments)
- Di bawah langit jendela tua, tak kuucapkan lagi namamu Kita telah lelah berkabung. Pertemuan dengan …
Last 5 posts by WebAdmin
- Nak, Belajarlah Untuk Mengerti Luka - May 10th, 2011
- Kumuntahkan Dalam Bahasaku - May 10th, 2011
- Angan Di Pelupuk Mataku - May 10th, 2011
- Selembar Anganku Melambai Ringan - May 10th, 2011
- Sekerat Mimpiku - May 10th, 2011



