Sepi …. hening
dalam gelap dan udara malam yang dingin
berhembus angin yang berbisik suara-suara daun kering,
terserak dan berguguran di atas tanah yang berdebu.
Musim kemarau ini belum terlalu lama kulewati,
masih kujelang gamang dan malam-malam dingin
di bawah taburan bintang-bintang di langit yang angkuh dan beku.
Malam ini aku kembali beranjak sendiri meniti jalanan
di tepian kota kecil, bersama deretan
lentera-lentera yang bernyala redup.
Dalam udara yang dingin membeku,
setitik cahaya lentera yang kecil melawan gelap malam yang besar,
menyingkapkan sudut-sudut malam, kemudian membayang seperti
sebuah lukisan romantik kehidupan manusia yang sepi dan terasing
dalam bentang malam yang gelap.
Kujelang lentera di akhir malam berderet
sepanjang tepi jalanan kota ini.
Pejalan yang kecil dan asing ini menyapamu
lewat setapak demi setapak langkah kaki yang beranjak sepi.
Lentera akhir malam …. tetaplah dalam kelipmu yang kecil
agar setiap pejalan yang melintasi jalanan ini
mengingat kelip kecilmu melawan gelap malam yang besar,
seperti kesetiaanmu untuk tidak menjadi bintang yang tinggi
dan cahaya terang yang sombong.
Walau dalam gelap dan cahaya yang redup,
pejalan ini harus terus melangkah, meski dia tahu
gelap gulita akan membayang kepada hidup
yang harus dilanjutkanya.
Pejalan ini beranjak bukan hanya untuk satu kisah setia,
tapi untuk terus mencari ketulusan dan kecintaan,
walaupun dalam keremangan senja dan kegamangan malam
atau dalam pagi yang masih sepi.
Lentera akhir malam,
kutatap lagi kelip kecilmu tersenyum dan berkata padaku;
“wahai sahabat kecil, tetaplah berjalan mencintai takdirmu,
teruslah mencintai hidup walau mungkin engkau akan terasing dan dikatakan jalang”.
(Persembahan kepada Santi/Jogjakarta Juni 2008)
Similar Posts:
- Berkabar Dengan Sepasang Lampion by katjha (0 comments)
- Beku udara malam dingin, kering dan semilir angin menyayat. bagai tembang biduan yang telah beranjak …
- Antara Aku, Dia dan Lagu “Remang-remang” by katjha (0 comments)
- *)Jalanan, sebuah tepian pantai utara jawa Senja beralih malam, namun waktu yang beranjak lambat men …
- Di Bayang Wajahmu by katjha (5 comments)
- Melalui senja ini, dalam temaram cahaya matahari kulihat guratan hatimu terukir untuk mengatakan seb …
- Guinevere III by katjha (9 comments)
- Pada pandang mengayunkan langkah kaki, berkejaran dengan temaram senja. Lembayung merah membayang, l …
- Hikayat Sebuah Malam by katjha (0 comments)
- Dera angin, singgah di beranda ini. Saat malam masih dalam lamunan, langit menghitam, bertabur rasi …
- Sebuah Perjalanan by katjha (0 comments)
- Kepada Sebuah Lentera pagi ini kusambut dengan geliat enggan, dengan mataku yang malas, dan dera naf …
- Lentera Hati… by lembayung (0 comments)
- biar saja malam menggulung gelap namun disudut sepi kuakan terus menjaga lentera hati agar tetap men …
- Elegi Sebuah Senja by katjha (0 comments)
- “Sampai nanti”, kau berkata padaku sambil melambai, kemudian engkau kembali meneruskan langkah. Di j …
- Menanti sesorang by dhyta (0 comments)
- Tetesan hujan membasahi kalbuku Hatiku terbenam sepi tanpa kehadiranmu Kelam terasa, saat kau jauh d …
- cahaya by arjuna (0 comments)
- Pertama kulihat segenggam cahaya itu . . . Begitu anggun dan sederhananya Menusuk sepi di setiap sel …
Last 5 posts by katjha
- Yang Pergi Tanpa Melambaikan Tangan - March 21st, 2011
- Kepada Gadis Manis Penggesek Violin X - March 21st, 2011
- Merindukan Gerak - March 14th, 2011
- Balada Orang Merindukan Pelangi - March 14th, 2011
- Derai Cemara Udang - March 14th, 2011



{ 4 comments… read them below or add one }
really … ada ketegaran
biarkan waktu kan menjemput
dan kenangan terserak,
manusia toh akan terus hidup, walau
dengan segumpal angan yang kosong.
sic!
sophistik …. ada makna tak terduga …. selbihnya gua ga tau
mungkin penyairnya emang mencintai kebebasan. salam buat santi, selamat ats persembahanya.
-diana-
sangat indah….
pusi ini bagus banget.
puisi ini pernah aku bacain pas pelajaran bahasa Indonesia bareng temen temen aku.
makasi ya atas puisinya