Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

by WebAdmin on April 10, 2008

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (24 votes, average: 4.67 out of 5)
Loading ... Loading ...

I

Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini

II

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

III

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi
berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan
peuyeum dipotong birokrasi
lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,
agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas
penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
sandiwara yang opininya bersilang tak habis
dan tak utus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,
sekarang saja sementara mereka kalah,
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,
kabarnya dengan sepotong SK
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat
jadi pertunjukan teror penonton antarkota
cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan
yang disetujui bersama,

Di negeriku rupanya sudah diputuskan
kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,
lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan
dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,
Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,
Nipah, Santa Cruz dan Irian,
ada pula pembantahan terang-terangan
yang merupakan dusta terang-terangan
di bawah cahaya surya terang-terangan,
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai
saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.

IV

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.

1998

Similar Posts:

    Percuma Bersenandung Lagu Indonesia Raya by bocah lemah (1 comments)
    Sorot tajam mata Sang Garuda sudah tiada, Hanya ada tetesan air di bawah matanya… Bukan karna tete …
    SURAT AYAH DARI JOGJA….. by WebAdmin (0 comments)
    Hai cinta ayah…… apa kabar kalian? kalian pasti main terus ya? kejar-kejaran kesana-kemari repot …
    ANAK by WebAdmin (0 comments)
    Dan seorang perempuan yang menggendong bayi dalam dakapan dadanya berkata, Bicaralah pada kami perih …
    Cinta siapa by Safira (6 comments)
    Cinta ini cinta siapa Kamu yang pertama mencuri pandang Aku yang pertama memberi senyuman Lalu ini a …
    keluarlah by irsyad.zaki (0 comments)
    Keluarlah, ayo lihat dunia! Bukan melulu termangu di kursimuKita lupakan singgasana dan nama baik Ke …
    Benarkah.. by badai (0 comments)
    Bayi – bayi terlahir merdeka Dari ibu – ibu mereka yang merdeka Anak – anak kecil tertawa merd …
    Benarkah.. by badai (0 comments)
    Bayi – bayi terlahir merdeka Dari ibu – ibu mereka yang merdeka Anak – anak kecil tertawa merd …
    untuk penyair yang khilaf by puisi.indonezia.net (0 comments)
    tak sadarkah engkau? tulang tulangmu semakin rapuh, dinding kulitmu mulai mengkerut, serta pikiranmu …
    Makna sebuah idealisme by just_me (1 comments)
    Dan kamu bilang kamu telah cukup banyak mengajariku tentang idealisme Tentang kekuatan sebuah karakt …
    malaikat surgaku by galind56 (1 comments)
    ia yang dulu berbagi nafas denganku.. sampai sekarang tetap begitu.. ia yang dulu berbagi raga denga …

Last 5 posts by WebAdmin

{ 5 comments… read them below or add one }

Conan May 30, 2009 at 6:04 pm

Aku bangga menjadi anak Ibu Pertiwi.. tapi malu melihat para birokrasi dan pemimpin Ibu Pertiwi,,,

Aku ingin menendang bokong para pemimpin dan menarik baju mereka agar mereka turun dari kursi kekuasaan.. dan kutarik ke jalan.. agar mereka menjadi gelandangan. makan bersama anjing2 dan tikus2 jalanan.. karena mereka tidak lain dan tidak bukan hanya seekor anjing2 dan tikus2 yang dapat berpikir…

anonim February 19, 2011 at 3:07 pm

beginilah hidup di indonesia
Penuh tragedi dan entah berantah
Aku pula sebagai seorang anak Indonesia
Ikut malu…
Serasa ingin berjalan ke australia , singapura , amerika , dan negara maju lainnya hiks hiks hiks
rasanya saya ingin pergi dari negara ini
Aku bangga menjadi seorang manusia
tetapi aku kecewa telah menjadi seorang indonesia
mebuat hati ini tersayat-sayat dan terkeruh d jalanan yang dingin
puisi ini sangat menyentuh hati ku yang telah tertutup bertahun-tahun
tak menyangkah ada yang berpikir dan sependapat dengan saya
Puisi ini untuk smua orang yang tidak bertanggung jawab terhadap Indonesia
Sekian kata-kata dari Saya terima kasih… *hiks hiks hiks*

Astro March 15, 2011 at 11:57 am

ini kan puisi taufik ismail

WebAdmin March 16, 2011 at 9:55 am

@Astro, ya betul ini merupakan puisi beliau, makanya aku tempatkan puisi ini di kategori taufik ismail

KIA March 23, 2011 at 10:26 am

I LOVE SASTRA

Leave a Comment

{ 1 trackback }



Previous post:

Next post: