KEMERDEKAAN


Puisi ini ditulis oleh pada
8 April 2008 dengan 1 Komentar
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (13 votes, average: 4.23 out of 5)
Loading ... Loading ...

Strict Standards: call_user_func_array() expects parameter 1 to be a valid callback, non-static method SimilarPosts::execute() should not be called statically in /home/puisi/public_html/wp-content/plugins/post-plugin-library/common_functions.php on line 586

Strict Standards: Non-static method SimilarPosts::check_post_plugin_library() should not be called statically in /home/puisi/public_html/wp-content/plugins/similar-posts/similar-posts.php on line 57

: buat negeri yang telah tergadai oleh utangnya sendiri.

Televisi meraungraung sejak pagi buta

Amerika kuasai tigapuluhpersen ekonomi dunia

padahal dunia lebih dari seratustujuhpuluh negara

seorang wanita perkasa bersuara

“WHO mengambil contoh virus dari negara dunia ketiga

lalu dijualnya kenegara Adikuasa

buat dibikin senjata kimia,

sudah mau diambilnya tanah dan air kita

dikeruknya kekayaan alam kita

masih pula mau dihabisinya kita”

Aku tertidur mendengarnya,

dimimpiku bertandang seorang pria

mengaku bernama Gajah Mada

membaca sumpah palapa dialunalun ibukota

“Aku berpantang makan buah palapa,

hingga bersatunya nusantara”

Bumi hampir rengkah mendengarnya

janji setia pada nusantara,
aku tak ingin terjaga

bermimpi jadi Gajah Mada

Langit yang mendung dibulan hujan

menyaksikan ia tinggalkan kepentingan

demi kesatuan yang ia impikan.

-Tibatiba aku rindukan kemerdekaan-

Langit tumpahkan haru sebagai hujan perlahan

menyaksikan katakata meledak dijalanjalan

“Bumi dan air ini, pada siapapun jangan pernah kau serahkan”

Aku terjaga hampir senja

saat Presiden mengeluarkan pidatonya

didepan negara Adikuasa

“Menuruti atau tidak menuruti perintah anda

kami tetap kau injakinjak juga

kami dijajah berabad lamanya

hingga kini belum mengerti sebenarnya arti kemerdekaan

jika hidup kami ditakdirkan selamanya melawan

maka akan kau saksikan kami kobarkan perlawanan

hingga titik darah penghabisan”

-Tibatiba dunia menjadi begitu indah

dan kematian menjadi begitu romantis-

05-04-2008

Torehan puisi-puisi lainya :

    Balada Orang Gusuran by Bradley Setiyadi (2 comments)
    Katanya kita semua sederajat Katanya tiap warga negara punya hak yang sama Katanya bumi ini milik be …

    (Tetap) Terbanglah Garudaku by Bradley Setiyadi (0 comments)
    Kau adalah kebanggaan bangsa Kau adalah simbol negara Kau melambangkan persatuan Kau melambangkan pe …

    untitled by mawar (0 comments)
    tuhan, tangis ini begitu pedih benarkah tuhan inilah ujung dari semua kebahagiaan yg kau anugrahkan …

    Anak Gunung by wizurai (0 comments)
    Sepasang mata burung awasi kami dari gunung Sesaat lenyap melekat pada kulit-kulit kayu yang murung …

    simak saja by cibinong (0 comments)
    ha.ha.ha 3 sorakan untukmu untuk kita berlayar tak pikirkan berlabuh mengepak ke batas terakhir seme …

    by cibinong (0 comments)
    ha.ha.ha 3 sorakan untukmu untuk kita berlayar tak pikirkan berlabuh mengepak ke batas terakhir seme …

    Waktu yang kian menipis by WebAdmin (0 comments)
    Bagaimanapun, perang ini harus kuhadapi seorang diri Tidak ada seorang pun Panglima akan berdiri dis …

    luka… by supernova (5 comments)
    andai ku punya sayap terbang ke langit ku kan menangis dari awan biar seluruh dunia tau hujan yang j …

    Langkah-Langkah Kecil by romahamzani (0 comments)
    Langkah-langkah Kecil …… Adalah hidup kami Langkah yang mengiringi deru nafas Setapak demi setap …

    Tugu Batu by arif_rizki (0 comments)
    tugu yang berjemur tidur, berapa banyak catatkan diri terkubur masihkah kau seperti kemaren, mengerj …

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Category: Bebas, Free Poem

Leave a Reply