<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: kamu</title>
	<atom:link href="http://www.puisi.org/2008/04/08/kamu-2/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.puisi.org/2008/04/08/kamu-2/</link>
	<description>saat puisi mengangkat makna</description>
	<lastBuildDate>Sun, 14 Mar 2010 13:52:42 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Matroni</title>
		<link>http://www.puisi.org/2008/04/08/kamu-2/comment-page-1/#comment-2530</link>
		<dc:creator>Matroni</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 03:07:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.puisi.org/2008/04/08/kamu-2/#comment-2530</guid>
		<description>Sajak-Sajak: Matroni el-Moezany*

 

Dikejauhan Sana 

 

dikejauhan sana 

kuberkelana dalam jahitan airmata

menutupi segala semesta

mengarungi jalanan rasa

habis waktu dalam tepi

hingga kutenggelam ke dasar malam

 

Yogyakarta, 2008 

 

Di Tepi Senja

 

di tepi senyum kududuk 

merajai kata 

sementara resah

melihat jauh yang begitu lepas

 

Ada yang lewat udara

           lewat rasa

lewat muka 

 

Aku terus berdiam meratapi kelepasan

menghiasi ketertinggalan

 

Aku tak mengerti

apakah karena dosa atau cahaya tuhan

hingga tak diinginkan pergi dalam lepas

 

Aku Tak Mengerti, mungkinkah? 

 

Yogyakarta, 2008 

 

Diam 

 

Berminggu kuberdiam 

Dengan pisau di jiwa

Dengan kata dicakrawala

Dengan senyum di mata

Dengan rumpun bahasa

Menyelam mencari dasar arti

Yang mungkin lekat pada batu-batu

 

Yogyakarta, 2008 

Kuingin Lepas dari Kata 

buat R.D 

 

aku ingin lepas 

dari katamu yang menjijikkan itu

hingga kau tak berkata pada siapa pun

kecuali pada diri yang satu 

 

Terimah kasih kau tahu tentang malam

yang aku resahkan selama ini

 

Selama kau terselip dalam kenihil-an

kau hanya diam, andai aku tahu itu 

sungguh kumerasa kecewa 

bahkan kulepas

buat apa menyimpan kata

yang menjijikkan 

untuk kau sampaikan pada cahaya

 

Kejujuran adalah puisi

keterdiaman sungguh menjijikan

apa kau tak mengerti?

 

Pastilah kau tak mengerti

dalam matamu yang lembut bagai malam

 

terimah kasih kau tahu tentang malamku!

 

Yogyakarta, 2008 

 

Semesta Satu, Menangis Satu,

Menjadi Aku

 

Ketika aku menuju bulan pertama

langit menjerit dan muntah-muntah 

dan kau menjanjikan untuk singgah

 

Bis datang terisi beribu dendam

pada bangsa yang diam

langit suram, tiada lagi sosok merayu

kudengarkan satu puisi, untukmu 

untuk seluruh hidupmu

ada air mengalir, darah yang anyir

akhirnya air…air… air…yang melarutkan semua zaman

melahirkan kezaliman, putus di pucuk cemara

kau selalu malu menemui rindu

yang dikandung batu

 

Lalu, kutegaskan senangis jerit

waktu yang larut dalam Satu

cakrawala senja menjadi saja

semesta satu, menangis satu 

menjadi aku yang satu 

 

Yogyakarta, 2007 

 

 

*Penulis kelahiran Sumenep 03 Maret 1985, aktif di Forum Sastra Pesantren Indonesia (FSPI), tulisannya sering bermunculan di media lokal maupun nasional, seperti Suara Pembaruan, Sindo, Swara Karya, Sinar Harapan, Merapi, Minggu Pagi, Solo Pos, Harian Joglo Semar, Lampung Post, Surabaya Post, Surya, Radar Madura, Majalah Muslimah dan Majalah Bakti. 

 HP; 081703775741</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sajak-Sajak: Matroni el-Moezany*</p>
<p>Dikejauhan Sana </p>
<p>dikejauhan sana </p>
<p>kuberkelana dalam jahitan airmata</p>
<p>menutupi segala semesta</p>
<p>mengarungi jalanan rasa</p>
<p>habis waktu dalam tepi</p>
<p>hingga kutenggelam ke dasar malam</p>
<p>Yogyakarta, 2008 </p>
<p>Di Tepi Senja</p>
<p>di tepi senyum kududuk </p>
<p>merajai kata </p>
<p>sementara resah</p>
<p>melihat jauh yang begitu lepas</p>
<p>Ada yang lewat udara</p>
<p>           lewat rasa</p>
<p>lewat muka </p>
<p>Aku terus berdiam meratapi kelepasan</p>
<p>menghiasi ketertinggalan</p>
<p>Aku tak mengerti</p>
<p>apakah karena dosa atau cahaya tuhan</p>
<p>hingga tak diinginkan pergi dalam lepas</p>
<p>Aku Tak Mengerti, mungkinkah? </p>
<p>Yogyakarta, 2008 </p>
<p>Diam </p>
<p>Berminggu kuberdiam </p>
<p>Dengan pisau di jiwa</p>
<p>Dengan kata dicakrawala</p>
<p>Dengan senyum di mata</p>
<p>Dengan rumpun bahasa</p>
<p>Menyelam mencari dasar arti</p>
<p>Yang mungkin lekat pada batu-batu</p>
<p>Yogyakarta, 2008 </p>
<p>Kuingin Lepas dari Kata </p>
<p>buat R.D </p>
<p>aku ingin lepas </p>
<p>dari katamu yang menjijikkan itu</p>
<p>hingga kau tak berkata pada siapa pun</p>
<p>kecuali pada diri yang satu </p>
<p>Terimah kasih kau tahu tentang malam</p>
<p>yang aku resahkan selama ini</p>
<p>Selama kau terselip dalam kenihil-an</p>
<p>kau hanya diam, andai aku tahu itu </p>
<p>sungguh kumerasa kecewa </p>
<p>bahkan kulepas</p>
<p>buat apa menyimpan kata</p>
<p>yang menjijikkan </p>
<p>untuk kau sampaikan pada cahaya</p>
<p>Kejujuran adalah puisi</p>
<p>keterdiaman sungguh menjijikan</p>
<p>apa kau tak mengerti?</p>
<p>Pastilah kau tak mengerti</p>
<p>dalam matamu yang lembut bagai malam</p>
<p>terimah kasih kau tahu tentang malamku!</p>
<p>Yogyakarta, 2008 </p>
<p>Semesta Satu, Menangis Satu,</p>
<p>Menjadi Aku</p>
<p>Ketika aku menuju bulan pertama</p>
<p>langit menjerit dan muntah-muntah </p>
<p>dan kau menjanjikan untuk singgah</p>
<p>Bis datang terisi beribu dendam</p>
<p>pada bangsa yang diam</p>
<p>langit suram, tiada lagi sosok merayu</p>
<p>kudengarkan satu puisi, untukmu </p>
<p>untuk seluruh hidupmu</p>
<p>ada air mengalir, darah yang anyir</p>
<p>akhirnya air…air… air…yang melarutkan semua zaman</p>
<p>melahirkan kezaliman, putus di pucuk cemara</p>
<p>kau selalu malu menemui rindu</p>
<p>yang dikandung batu</p>
<p>Lalu, kutegaskan senangis jerit</p>
<p>waktu yang larut dalam Satu</p>
<p>cakrawala senja menjadi saja</p>
<p>semesta satu, menangis satu </p>
<p>menjadi aku yang satu </p>
<p>Yogyakarta, 2007 </p>
<p>*Penulis kelahiran Sumenep 03 Maret 1985, aktif di Forum Sastra Pesantren Indonesia (FSPI), tulisannya sering bermunculan di media lokal maupun nasional, seperti Suara Pembaruan, Sindo, Swara Karya, Sinar Harapan, Merapi, Minggu Pagi, Solo Pos, Harian Joglo Semar, Lampung Post, Surabaya Post, Surya, Radar Madura, Majalah Muslimah dan Majalah Bakti. </p>
<p> HP; 081703775741</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Gangkadal&#8217;s Weblog</title>
		<link>http://www.puisi.org/2008/04/08/kamu-2/comment-page-1/#comment-2431</link>
		<dc:creator>Gangkadal&#8217;s Weblog</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 17:01:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.puisi.org/2008/04/08/kamu-2/#comment-2431</guid>
		<description>[...] kamu Tuesday, April 8th, 2008 [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<div style="padding: 1em">
<p>[...] kamu Tuesday, April 8th, 2008 [...]</p>
</div>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
