kamu

kamu cantik

kamu anggun

bening matamu juga indah

sayang!!!

kamu juga bukan miliku

Popularity: 17% [?]


1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 3.8 out of 5)
Loading ... Loading ...

2 Responses to “kamu”

  • 1
    Gangkadal’s Weblog Says:

    [...] kamu Tuesday, April 8th, 2008 [...]

  • 2
    Matroni Says:

    Sajak-Sajak: Matroni el-Moezany*

    Dikejauhan Sana

    dikejauhan sana

    kuberkelana dalam jahitan airmata

    menutupi segala semesta

    mengarungi jalanan rasa

    habis waktu dalam tepi

    hingga kutenggelam ke dasar malam

    Yogyakarta, 2008

    Di Tepi Senja

    di tepi senyum kududuk

    merajai kata

    sementara resah

    melihat jauh yang begitu lepas

    Ada yang lewat udara

    lewat rasa

    lewat muka

    Aku terus berdiam meratapi kelepasan

    menghiasi ketertinggalan

    Aku tak mengerti

    apakah karena dosa atau cahaya tuhan

    hingga tak diinginkan pergi dalam lepas

    Aku Tak Mengerti, mungkinkah?

    Yogyakarta, 2008

    Diam

    Berminggu kuberdiam

    Dengan pisau di jiwa

    Dengan kata dicakrawala

    Dengan senyum di mata

    Dengan rumpun bahasa

    Menyelam mencari dasar arti

    Yang mungkin lekat pada batu-batu

    Yogyakarta, 2008

    Kuingin Lepas dari Kata

    buat R.D

    aku ingin lepas

    dari katamu yang menjijikkan itu

    hingga kau tak berkata pada siapa pun

    kecuali pada diri yang satu

    Terimah kasih kau tahu tentang malam

    yang aku resahkan selama ini

    Selama kau terselip dalam kenihil-an

    kau hanya diam, andai aku tahu itu

    sungguh kumerasa kecewa

    bahkan kulepas

    buat apa menyimpan kata

    yang menjijikkan

    untuk kau sampaikan pada cahaya

    Kejujuran adalah puisi

    keterdiaman sungguh menjijikan

    apa kau tak mengerti?

    Pastilah kau tak mengerti

    dalam matamu yang lembut bagai malam

    terimah kasih kau tahu tentang malamku!

    Yogyakarta, 2008

    Semesta Satu, Menangis Satu,

    Menjadi Aku

    Ketika aku menuju bulan pertama

    langit menjerit dan muntah-muntah

    dan kau menjanjikan untuk singgah

    Bis datang terisi beribu dendam

    pada bangsa yang diam

    langit suram, tiada lagi sosok merayu

    kudengarkan satu puisi, untukmu

    untuk seluruh hidupmu

    ada air mengalir, darah yang anyir

    akhirnya air…air… air…yang melarutkan semua zaman

    melahirkan kezaliman, putus di pucuk cemara

    kau selalu malu menemui rindu

    yang dikandung batu

    Lalu, kutegaskan senangis jerit

    waktu yang larut dalam Satu

    cakrawala senja menjadi saja

    semesta satu, menangis satu

    menjadi aku yang satu

    Yogyakarta, 2007

    *Penulis kelahiran Sumenep 03 Maret 1985, aktif di Forum Sastra Pesantren Indonesia (FSPI), tulisannya sering bermunculan di media lokal maupun nasional, seperti Suara Pembaruan, Sindo, Swara Karya, Sinar Harapan, Merapi, Minggu Pagi, Solo Pos, Harian Joglo Semar, Lampung Post, Surabaya Post, Surya, Radar Madura, Majalah Muslimah dan Majalah Bakti.

    HP; 081703775741

Leave a Reply


Tautan komentar adalah nofollow free.
104 views