Doa Di Jakarta

by WebAdmin on March 19, 2008

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (16 votes, average: 3.81 out of 5)
Loading ... Loading ...

Tuhan yang Maha Esa,
alangkah tegangnya
melihat hidup yang tergadai,
fikiran yang dipabrikkan,
dan masyarakat yang diternakkan.

Malam rebah dalam udara yang kotor.
Di manakah harapan akan dikaitkan
bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan?
Dendam diasah di kolong yang basah
siap untuk terseret dalam gelombang edan.
Perkelahian dalam hidup sehari-hari
telah menjadi kewajaran.
Pepatah dan petitih
tak akan menyelesaikan masalah
bagi hidup yang bosan,
terpenjara, tanpa jendela.

Tuhan yang Maha Faham,
alangkah tak masuk akal
jarak selangkah
yang bererti empat puluh tahun gaji seorang buruh,
yang memisahkan
sebuah halaman bertaman tanaman hias
dengan rumah-rumah tanpa sumur dan W.C.
Hati manusia telah menjadi acuh,
panser yang angkuh,
traktor yang dendam.

Tuhan yang Maha Rahman,
ketika air mata menjadi gombal,
dan kata-kata menjadi lumpur becek,
aku menoleh ke utara dan ke selatan -
di manakah Kamu?
Di manakah tabungan keramik untuk wang logam?
Di manakah catatan belanja harian?
Di manakah peradaban?
Ya, Tuhan yang Maha Hakim,
harapan kosong, optimisme hampa.
Hanya akal sihat dan daya hidup
menjadi peganganku yang nyata.

++ W.S Rendra ++

Similar Posts:

    dekatkan aku padaMU by arianoisym (0 comments)
    apa arti hidup yg telah engkau berikan. ketika detik demi detik hanya sia2 untuk berputar menjadi me …
    Aku Rindu Kamu by WebAdmin (2 comments)
    Hari-hariku yang sepi aku rindu kamu, Apakah kamu tau itu? Malam yang sunyi memeluk jiwaku yang gund …
    Do’a di ujung malam by ekonuryadi (1 comments)
    Yaa ALLAH …berlinang air mata hamba saat ini…. Bertanya bathin hamba ini…. Bagaimanakah pandan …
    MIMPI by WebAdmin (1 comments)
    Kala malam datang dan rasa kantuk membentangkan selimutnya di wajah bumi, aku bangun dan berjalan ke …
    riap by noe (0 comments)
    TUHAN , ajarku mengerti apa yang terjadi , disaat semua pergi , agar aku tak sepi . TUHAN , bimbing …
    Selamat Tinggal by WebAdmin (0 comments)
    Tepatnya kini, aku seperti mengharap mati bukankah memang hidup memang untuk mati? bukankah yang dib …
    Tentang Cinta… by lembayung (0 comments)
    Apakah seperti angin….. yang kan berhembus lembut membelai tiap helai dedaun… ataukah selayak be …
    Sisi Jiwa Yang Tak Pernah Pupus by WebAdmin (0 comments)
    Merana ku di penghujung akal ku Lemah tak diasah dan seketika hilang tak berbisik Sunyi ini menyenan …
    Aku Pendosa by tanpatandabaca (0 comments)
    inilah sejujurnya dari seribu satu serapah yang telah terucap aku, aku…, aku seorang pendosa semua …
    Pamflet Cinta by WebAdmin (0 comments)
    Ma, nyamperin matahari dari satu sisi. Memandang wajahmu dari segenap jurusan. Aku menyaksikan zaman …

Last 5 posts by WebAdmin

{ 1 comment… read it below or add one }

belLa September 15, 2011 at 8:38 pm

menyentuh sekali :)

Leave a Comment

{ 1 trackback }



Previous post:

Next post: