Archive for March, 2008

Mazhab cinta

aku bercerita tentang rasa
sengaja tak kubawa di dunia nyata
begitulah cinta,

menempuh gelombang adiwarna
bagai cemeti bergelatar di dada
begitulah cinta,

menempuh puncak puncak dosa
bagai jamuan yang datang dari surga
begitulah cinta,

wahai layla,
jadilah bumi dan aku matahari
kemudian diam dan berhenti

biarkan matahari yg mengitari bumi
karena aku bersaksi bahwa bumi adalah pusat semesta
bukan perkataan dungu yg berbicara matahari sebagai pusat semesta

kata ibrahim pada namrudz
terbitkanlah matahari dari barat
tak mungkin matahari diam

matahari tak dapatkan bulan
malam tak dahului siang
tak mungkin matahari diam

Eli katakan dalam kalam
Eli takdirkan mereka miliki garis edar
mungkinkah matahari diam?

wahai layla,
jadilah matahari dan aku bumi
rasuki amarah dan diamlah

wahai layla
jangan ragukan cintaku pada layla
tapi boleh kau ragukan cintaku pada Dia

wahai layla,
dirimu lebih dari secawan arak
biar, biar, biar kuanggap ini nira

ragaku hitam dan kini dihuni setan
meminta tumbal jiwa jiwa yg haus
melahap dosa dengan rakus

begitulah cinta……

ku tukar darussalam dengan layla
kubenamkan diri dalam dosa

begitulah cinta……

biar darussalam menjadi milik yang lain
tapi jangan jadikan cinta ini milik yg lain

begitulah cinta…….

ingin dicintai-Nya
tapi kuberikan cintaku pada layla

kuminta kasih-Nya
tapi kuberikan kasihku pada layla

jiwaku kosong tanpa layla
tapi pesta pora tak ada Dia di dada

cintaku nisbi
matikan syaraf dari rambut sampai ke jari kaki

ku pilih rasa rindu yg menyesakan dada
bukan rasa rindu yg menenangkan jiwa

kupilih rasa gelisah karena takut kehilangan layla
bukan gelisah memikirkan kumiliki neraka atau syurga

kupilih rasa amarah karena diabaikan layla
bukan amarah karena hidup tak sesuai dengan rencana sang pencipta

begitulah cinta……

bercerita tentang rasa
sengaja tak kubawa di dunia nyata

Popularity: 4% [?]

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (8 votes, average: 4.63 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kenapa?

Ada kelabu dalam hatiku…

Tapi kenapa..??

Resahkah aku..??

Kurasa tidak…

Ada gulita dalam pikirku…

Namun mengapa..??

Sedih kah daku..??

Kurasa tidak…

Aku coba mengingat…

Apa aku tersakiti..?

Apa aku terhianati..?

Ataukah tak terhargai..??

Sekali lagi tidak…

Aku tak bisa mengerti..

Mengapa hampa dalam sini..

Mengapa nyeri dalam hati…

Ah !!

Kini aku mengerti…

Aku tak terpercayai…

Popularity: 2% [?]

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (4 votes, average: 3.25 out of 5)
Loading ... Loading ...

Hujan

Mungkin sekarang memang sudah waktunya berganti musim
Hari mulai hujan terus
Didahului dengan langit hitam kelam
Ada sedikit rasa takut dalam diriku
Sendiri…
Kesepian…

Kemudian turunlah hujan
Manusia dengan sejuta kegagahannya
Menjadi tidak berarti apa-apa disaat hujan
Hanya bisa diam,
Mungkin merenung.
Banyak memori yang tiba-tiba keluar
Berloncatan disaat hujan
Sejuta kenangan yang tanpa permisi
Memenuhi seluruh isi Kepala
Perasaan-perasaan yang hanya di dapat
Pada saat hujan turun.
Hujan deras,
Ada yang memilih mencermati,
Mengagumi, membiarkan diri
Beristirahat sejenak dari hiruk pikuk dunia
Ada juga yang marah karena aktivitasnya terhenti.
Terputus dari sesuatu yang disebut dengan peradaban
Sebagian merasa takut,
Merasa hujan seperti badai yang menghampiri
Seluruh hidupnya.
Kadang seseorang merasakan ketiganya…
Tetapi Sore ini,
Entah mengapa hujan menjadi punya makna,
Selalu ada pelangi setelah hujan,
Awan selalu kembali cerah,
Anak kecil, tukang jualan, hingga para
Pekerja kembali memenuhi jalanan.
Hujan ternyata bukan untuk selamanya,
Kadang memang panjang,
Kadang teramat panjang.
Tapi semua itu kembali normal,
Masih ada kehidupan setelah hujan…
Masalah itu ibarat hujan,
Betapa pun berat,
Betapa pun sakit,
Menyesakan,
Membuat mual dan ingin muntah,
Suatu hari…
Pasti akan berakhir
Bersabar, menunggu, mungkin merenung.
Sambil menanti hujan usai
Tidak perlu menembus derasnya hujan,
Membiarkan diri bertambah sakit
Atau basah kuyup.
Sedikit lagi….
Matahari akan kembali bersinar.
Sedikit lagi…
Keceriaan akan kembali mengisi hari.
Sedikit lagi…

Popularity: 11% [?]

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (6 votes, average: 4.5 out of 5)
Loading ... Loading ...

Feeling Numb

Bilang … bilang … bilang
Keruh … keruh … keruh
bilang tanpa terkeruh
keruh tak berbilang

Remang … remang … remang
Gaduh … gaduh … gaduh
remang bergaduh-gaduh
gaduh diremang-remang

Mulut-mulut mati luruh
terbunuh …

Popularity: 3% [?]

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 5 out of 5)
Loading ... Loading ...

Kampung Mantra

‘Pedang’ meladang parang
‘kapak’ menapak tapak
‘galah’ membelah kalah
‘bocah’ memecah lincah

‘kampung’ dikurung gunung
’sawah’ di bawah kawah
‘lumbung’ menggembung cembung
‘padi’ menjadi kendi

kapak kapak selicin pedang
banyak dipakai orang

bocah bocah bermain galah
berkelahi tak mau mengalah

sawah sawah melengkung di kampung
berkumpul di kaki gunung

padi padi menggunung di lumbung
di lambung hama pak tani murung

Popularity: 10% [?]

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (9 votes, average: 3 out of 5)
Loading ... Loading ...