Q

by resverae on January 3, 2008

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 votes, average: 1.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

dia.

Datang seperti dalam adegan malam di sebuah bar, slide film hitam putih. Tatap matanya melebihi tajam, pada laki-laki yang seperti sedang terkena disentri. Dan sebuah ruang memanjang terlalu kecil tuk menampung percakapan dalam benak, laki-laki yang kehilangan taji. Misai laki-lakinya tak cukup melukiskannya lelaki. Hanya menduga, percakapan akan baur, sepeti asap rokoknya yang hilang dalam kalis udara.

dia

Adalah kanigara, dua buah bola mata kucing Persia, buku-buku yang dititipkan, jazz lembut café del Mar, lukisan Marilyn Moonroe buatan Andy Warhol, tabla dalam cerita-cerita Bollywood, gantungan kunci dari perak, batu-batu yang berserakan di depan kamar kos, sebungkus mi instant dalam kelaparan tengah malam, anekdot soal hubungan seksual, cerita bersambung di koran harian, cek dengan angka yang berderet panjang, sekelonet misteri baru, mosaik warna warni, berita pembangunan silicon valley di Banglore, mungkin hanya sosok yang terbiasa dengan berbagai perawatan tubuh.

dia.

Sekali-sekali, datang hanya dengan suara waktu matahari merah tua membura. Membangkitkan aku, sang pelasuh dari ranjang tua ketakutan-ketakutan. Dan seperti perjamuan rahasia, entah siapa saja yang tau atau akan peduli. Seperti kakak beradik di tepi jalan raya, mengayuh sepeda meninggalkan keletihan kota. Membincangkan papan-papan reklame yang lusuh. Tak ada lagi yang terbayangkan.

dia.

Rupanya sedang melukis. Dengan tinta air mata, sebentuk gambar bening. Orang-orang saat musim penghujan, memetik daun teh. Di isinya separuh kanvas dengan puisi, kata-kata yang hanya bisa dimaknainya. Dari bahasa yang ia cipta, kumpulan segala yang dinamainya. Luka

Perihalnya ini,

Akulah seorang bengah di tepi angan soal bengawan. Lengah mencacah satu per satu parahu kertas yang melintas karena alir kata. Saat kurasa ia sedang menyalakan lilin di taman kecil tempat ia takkan tergilap oleh cahaya-cahaya.

O sinar disekitar bulan, aku berjalan saat percepatanmu melambat, melumat sengat…


Similar Posts:

    Anak Laki-laki Kecil yang Bisu by WebAdmin (1 comments)
    Anak laki-laki kecil itu mencari suaranya. (Raja para jangkrik yang menyimpannya.) Dalam setetes air …
    taman bunga by irul (2 comments)
    pagi pagi ditaman bunga ini, semalam mekar, kuncup bunga harum semerbak dirimbun semak belukar . dih …
    Sajak Gadis Kecil Untuk Dewi Permoni by katjha (0 comments)
    Wahai dewiku … Maha Bathari kusentuh gemerlap embun pagi ketika engkau tampakkan wujudmu dalam cak …
    Cemburu by WebAdmin (0 comments)
    cemburu bagai ular melilit meracuni tiap jengkal relung jiwa mengoyak melecehkan bukan hanya hati ta …
    Cinta Bagiku by hemas_moedzz (0 comments)
    bagiku cinta tu ga ada artinya, tai kucing cinta ! ! orang bilang cinta itu asyik, tapi ada yang bil …
    Kejamnya Dirimu by Galang (8 comments)
    Ketika aku mengenalmu Ku kira kau begitu baik Tapi aku salah menilaimu Sejak aku tau Kau tak anggap …
    Hikayat Sebuah Malam by katjha (0 comments)
    Dera angin, singgah di beranda ini. Saat malam masih dalam lamunan, langit menghitam, bertabur rasi …
    Lentera Akhir Malam by katjha (4 comments)
    Sepi …. hening dalam gelap dan udara malam yang dingin berhembus angin yang berbisik suara-suara d …
    Sudut Beranda by resverae (0 comments)
    Dan malam akan berakhir di sudut beranda Didekat kursi malasmu, tapestri itu ku taruh Pelan-pelan Sa …
    Jika by sight_cla10 (1 comments)
    Jika kau tetap dapat menegakkan kepala Ketika semua milikmu lenyap dan orang mencelamu Jika kau teta …

Last 5 posts by resverae

Leave a Comment



Previous post:

Next post: