Ia menggambar kota di dadaku. Bangunan beragam, jalan, kemacetan, tiang-tiang kaku, lampu taman, sampah, papan reklame dan lorong bawah tanah. Aku dimintanya membubuhi udara, bunga, angin dan burung-burung. Tanganku gemetar, hanya bisa melukis hujan. Ia mesti bersabar. Degupku membungkus kota itu dalam dingin tak berkesudahan. Lalu ia memelukku, dan matahari menyembul dari ujung pelabuhan kota [...]
